• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Nasional
  • Riau
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Sportivitas
  • Sosialita
  • Wisata
  • More
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Advertorial
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • Indeks
PILIHAN +
Himpunan Siompu Kampar Riau Audiensi dengan Anggota DPD RI, Didis Mardisna: Semoga Bisa Berkolaborasi di Banyak Program
Dibaca : 212 Kali
Perkuat Pengelolaan JDIH, Kanwil Kemenkum Riau Terima Konsultasi DPRD Inhu
Dibaca : 234 Kali
Kanwil Kemenkum Riau Fasilitasi Ranperda Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Bengkalis
Dibaca : 226 Kali
Afni: Patut Diwariskan dan Menjadi Inspirasi bagi Generasi Sekarang
Dibaca : 206 Kali
Enam Mahasiswa Internasional Tampil Nyanyi Lagu Lancang Kuning di Acara Wisuda Unilak
Dibaca : 281 Kali

  • Home
  • Opini

Memberi Ruang Passion dan Hobi di Sekolah

Zulmiron
Jumat, 07 Mei 2021 10:00:00 WIB
Cetak
Fitri Handayani.

Oleh: Fitri Handayani (Guru SD Negeri 116 Pekanbaru)

APA yang salah dengan dunia pendidikan kita? Pertanyaan ini kembali diajukan untuk kita menyadari bahwa perubahan minset tentang pelayanan pembelajaran di dunia sekolah amatlah penting.

Sekolah selayaknya mampu membangkitkan rasa percaya diri anak dalam belajar. Mengetahui potensi dirinya, lalu percaya akan kemampuannya, karena kemampuan yang dimiliki inilah yang justru akan membawa anak pada kesuksesan hidup. 

Namun banyak hal yang membuat anak tidak mampu mengetahui potensi dirinya. Hal inilah yang menurut penulis termasuk di antara beberapa kesalahan pendidikan kita. Kurangnya ruang passion dan hobi di sekolah. Bahkan ada sekolah yang tidak mempedulikan itu sama sekali. Semua waktu anak dihabiskan untuk belajar dalam kelas dan belajar.

Jika diperhatikan, sepertinya ruang ini tidak ditemukan di sekolah. Bahkan tidak ada ruang bagi anak untuk menanyakan apa keahlianku, apa yang akau akan lakukan? Sistem pendidikan sepertinya tidak peduli.

Coba dilihat kenyataan kehidupan anak yang belajar di sekolah, setiap waktu hidupnya diatur oleh bunyi bel. Sepenuhnya waktu 7 hingga 8 jam di sekolah diisi dengan belajar, belajar, dan belajar. 

Tidak cukup itu saja, betapa banyak anak setelah belajar 8 jam di sekolah, ketika mereka pulang membawa setumpuk tugas yang harus dikerjakan di rumah. Namanya pekerjaan rumah (PR).
 
Mengerjakan tugas inipun membutuhkan waktu panjang, sehingga anak tidak memiliki waktu lagi untuk bersosialisasi dengan keluarga, apalagi untuk sedikit peduli dengan lingkungan rumahnya misalnya dengan membantu memasak, menyuci pakaian, membersihkan rumah, sudah tidak ada ruang untuk itu.

Sesunggunya passion ini mesti ditumbuhkembangkan oleh sekolah, ruang untuk ini seharusnya diberikan secara leluasa. Membuat anak suka, menumbuhkan kesenangan terhadap sesuatu, itu maknanya. Karena kenyataanya jika anak sudah tertarik dengan sesuatu, maka pastilah ia akan peduli untuk melakukannya. Kebahagiaan itu termasuk ketika kita menemukan sesuatu yang menarik yang pada akhirnya menimbulkan minat. Maka menumbuhkan rasa cinta, gairah, dan hasrat pada sesuatu, inilah yang seharusnya dilakukan oleh sekolah.  

Pertanyaannya, berapa banyak sekolah yang mencoba untuk menumbuhkan rasa ini? Atau adakah ruang untuk ini di sekolah? Guru yang mengajar selayaknya lebih banyak mengajak anak menumbuhkan rasa suka terhadap materi yang diberikan. Bukan justru memaksa dan memaksa. Namun sebaiknya guru memperhatikan anak yang diajarnya apakah suka terhadap materi, metode, cara mengajar dan lainnya.

Hobi anak berbeda-beda, bahkan kembar identik pun memiliki hobi yang tidak sama. Tentunya cara yang dilakukan oleh guru pun selayaknya tidak sama. Namun, dapat diperhatikan betapa sistem pendidikan kita mengajarkan hal yang sama dengan cara yang sama, bahkan dengan penilaian yang sama.

Setiap anak harus belajar hal yang sama pada saat yang sama bahkan dengan cara yang sama. Tidak jarang guru yang menganggap ini sesuatu yang lumrah dan biasa, padahal daya tangkap anak tidaklah sama. Tipe belajar mereka jugya berbeda. Sehingga dengan cara yang sama tadi mengakibatkan ada anak yang tidak paham sama sekali. Pada akhirnya guru beranggapan anak bodoh.

Tentunya ini tidak sesuai dengan kodrat manusia, masing-masing dari kita adalah unik dan berbeda dengan cara kita sendiri. Seharusnya guru yang menyesuaikan diri dengan gaya belajar anak, bukan sebaliknya.

Betapa banyak orang berbakat yang gagal pada sistem sekolah tradisional, sistem yang tidak mempedulikan potensi anak. Pada kenyataannya ada yang mampu mengatasi, namun tidak sedikit yang tersingkir dan kehilangan kendali. 

Dengan demikian perlu dipahami oleh guru bahwa setiap manusia punya passion dan hobi yang berbeda. Tugas sekolah sebagai lembaga pendidikan memberikan ruang untuk itu. Temukan dan kembangkan itu secara baik dan positif.*


 Editor : Zulmiron

[Ikuti HarianTimes.com Melalui Sosial Media]


HarianTimes.com

Berita Lainnya

  • +

Kanwil Kemenkum Riau Harmonisasi 13 Ranperbup Inhil

Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Sinergi dengan Pemko dan DPRD Dumai

Kabut Asap Bukan Bencana Alam, Ini Kejahatan Lingkungan Tahunan Berulang

Waspada Killing Ground Terhadap Presiden Prabowo sebagai Sang Presiden

SF Hariyanto Jadi Gubernur Pertama di Indonesia Raih IPU

Ketika Pemerintah Menjadi Milik Pemenang

Kanwil Kemenkum Riau Harmonisasi 13 Ranperbup Inhil

Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Sinergi dengan Pemko dan DPRD Dumai

Kabut Asap Bukan Bencana Alam, Ini Kejahatan Lingkungan Tahunan Berulang

Waspada Killing Ground Terhadap Presiden Prabowo sebagai Sang Presiden

SF Hariyanto Jadi Gubernur Pertama di Indonesia Raih IPU

Ketika Pemerintah Menjadi Milik Pemenang



Tulis Komentar



HarianTimes TV +

Pipa Minyak Blok Rokan di Km 16 Balam, Rohil Bocor, Minyak Mentah Membasahi Hampir Sebagian Badan Jalan

24 Juli 2024
Harlindup, Aktivis Lingkungan Kunni Marohanti Turun ke Jalan Kampanyekan Keadilan Ekologis
05 Juni 2023
Rakernas Berakhir, SMSI Minta Presiden Joko Widodo Tidak Menandatangani Rancangan Perpres Publisher Right
08 Maret 2023
TERKINI +
Himpunan Siompu Kampar Riau Audiensi dengan Anggota DPD RI, Didis Mardisna: Semoga Bisa Berkolaborasi di Banyak Program
30 Oktober 2026
Perkuat Pengelolaan JDIH, Kanwil Kemenkum Riau Terima Konsultasi DPRD Inhu
30 Oktober 2026
Kanwil Kemenkum Riau Fasilitasi Ranperda Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Bengkalis
30 Oktober 2026
Afni: Patut Diwariskan dan Menjadi Inspirasi bagi Generasi Sekarang
30 Oktober 2026
Enam Mahasiswa Internasional Tampil Nyanyi Lagu Lancang Kuning di Acara Wisuda Unilak
29 Oktober 2026
RDP Pansus DPRD Riau, Koalisi Masyarakat Sipil Minta Hapus Green Policing Peninggalan Heryman
29 Oktober 2026
Kanwil Kemenkum Riau Fasilitasi Konsultasi Ranperda Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Kabupaten Bengkalis
29 Oktober 2026
Kemenkum Riau Edukasi Masyarakat Rengat
29 Oktober 2026
Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Sentra KI Perguruan Tinggi
29 Oktober 2026
Kakanwil Kemenkum Riau Perkuat Sinergi Lintas Sektor
29 Oktober 2026
TERPOPULER +
  • 1 Kemah Kerukunan dan Ekoteologi di Siak, Muliardi: Ikhtiar Bersama Untuk Merawat Kehidupan Beragama
  • 2 Edison Manik: Momen Pulang Kampung untuk Mengabdi di Riau
  • 3 Nel Ikhwan: Jejak Langkahnya Mampu Membawa Energi Baru dan Memperkuat Sinergi Lintas Sektoral
  • 4 Kemenag Siak Gelar Kemah 2026 Kerukunan, Kemah Madrasah, dan Kemah Ekoteologi
  • 5 BDS 2026, KPP Pratama Rengat Perkuat Ekosistem UMKM
  • 6 KPP Pratama Rengat Gelar Forum Konsultasi Publik
  • 7 Kanwil Kemenkum Riau Ikuti Evaluasi Standar Layanan Bantuan Hukum
  • 8 Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Landasan Hukum Pengelolaan Barang Milik Daerah Kuansing
  • 9 Kanwil Kemenkum Riau Koordinasikan Penyelesaian Sengketa dan Pemetaan Rawan Pelanggaran dengan Polda Riau
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
HarianTimes.com ©2018 | All Right Reserved