• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Nasional
  • Riau
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Sportivitas
  • Sosialita
  • Wisata
  • More
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Advertorial
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • Indeks
PILIHAN +
Kemenkum Riau Dorong UMKM Naik Kelas
Dibaca : 160 Kali
BPK RI Tekankan Penguatan Tata Kelola dan Tindak Lanjut Rekomendasi
Dibaca : 143 Kali
UIR Borong 11 Piagam Penghargaan dari LLDIKTI Wilayah XVII Riau-Kepri
Dibaca : 160 Kali
Pengurus BP HIPMI PT Unilak Dilantik, Prof Junaidi: Forum Ini Nanti Bisa Jadi Calon Pengusaha Muda
Dibaca : 170 Kali
Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Kapasitas Aparatur
Dibaca : 166 Kali

  • Home
  • Opini

Memberi Ruang Passion dan Hobi di Sekolah

Zulmiron
Jumat, 07 Mei 2021 10:00:00 WIB
Cetak
Fitri Handayani.

Oleh: Fitri Handayani (Guru SD Negeri 116 Pekanbaru)

APA yang salah dengan dunia pendidikan kita? Pertanyaan ini kembali diajukan untuk kita menyadari bahwa perubahan minset tentang pelayanan pembelajaran di dunia sekolah amatlah penting.

Sekolah selayaknya mampu membangkitkan rasa percaya diri anak dalam belajar. Mengetahui potensi dirinya, lalu percaya akan kemampuannya, karena kemampuan yang dimiliki inilah yang justru akan membawa anak pada kesuksesan hidup. 

Namun banyak hal yang membuat anak tidak mampu mengetahui potensi dirinya. Hal inilah yang menurut penulis termasuk di antara beberapa kesalahan pendidikan kita. Kurangnya ruang passion dan hobi di sekolah. Bahkan ada sekolah yang tidak mempedulikan itu sama sekali. Semua waktu anak dihabiskan untuk belajar dalam kelas dan belajar.

Jika diperhatikan, sepertinya ruang ini tidak ditemukan di sekolah. Bahkan tidak ada ruang bagi anak untuk menanyakan apa keahlianku, apa yang akau akan lakukan? Sistem pendidikan sepertinya tidak peduli.

Coba dilihat kenyataan kehidupan anak yang belajar di sekolah, setiap waktu hidupnya diatur oleh bunyi bel. Sepenuhnya waktu 7 hingga 8 jam di sekolah diisi dengan belajar, belajar, dan belajar. 

Tidak cukup itu saja, betapa banyak anak setelah belajar 8 jam di sekolah, ketika mereka pulang membawa setumpuk tugas yang harus dikerjakan di rumah. Namanya pekerjaan rumah (PR).
 
Mengerjakan tugas inipun membutuhkan waktu panjang, sehingga anak tidak memiliki waktu lagi untuk bersosialisasi dengan keluarga, apalagi untuk sedikit peduli dengan lingkungan rumahnya misalnya dengan membantu memasak, menyuci pakaian, membersihkan rumah, sudah tidak ada ruang untuk itu.

Sesunggunya passion ini mesti ditumbuhkembangkan oleh sekolah, ruang untuk ini seharusnya diberikan secara leluasa. Membuat anak suka, menumbuhkan kesenangan terhadap sesuatu, itu maknanya. Karena kenyataanya jika anak sudah tertarik dengan sesuatu, maka pastilah ia akan peduli untuk melakukannya. Kebahagiaan itu termasuk ketika kita menemukan sesuatu yang menarik yang pada akhirnya menimbulkan minat. Maka menumbuhkan rasa cinta, gairah, dan hasrat pada sesuatu, inilah yang seharusnya dilakukan oleh sekolah.  

Pertanyaannya, berapa banyak sekolah yang mencoba untuk menumbuhkan rasa ini? Atau adakah ruang untuk ini di sekolah? Guru yang mengajar selayaknya lebih banyak mengajak anak menumbuhkan rasa suka terhadap materi yang diberikan. Bukan justru memaksa dan memaksa. Namun sebaiknya guru memperhatikan anak yang diajarnya apakah suka terhadap materi, metode, cara mengajar dan lainnya.

Hobi anak berbeda-beda, bahkan kembar identik pun memiliki hobi yang tidak sama. Tentunya cara yang dilakukan oleh guru pun selayaknya tidak sama. Namun, dapat diperhatikan betapa sistem pendidikan kita mengajarkan hal yang sama dengan cara yang sama, bahkan dengan penilaian yang sama.

Setiap anak harus belajar hal yang sama pada saat yang sama bahkan dengan cara yang sama. Tidak jarang guru yang menganggap ini sesuatu yang lumrah dan biasa, padahal daya tangkap anak tidaklah sama. Tipe belajar mereka jugya berbeda. Sehingga dengan cara yang sama tadi mengakibatkan ada anak yang tidak paham sama sekali. Pada akhirnya guru beranggapan anak bodoh.

Tentunya ini tidak sesuai dengan kodrat manusia, masing-masing dari kita adalah unik dan berbeda dengan cara kita sendiri. Seharusnya guru yang menyesuaikan diri dengan gaya belajar anak, bukan sebaliknya.

Betapa banyak orang berbakat yang gagal pada sistem sekolah tradisional, sistem yang tidak mempedulikan potensi anak. Pada kenyataannya ada yang mampu mengatasi, namun tidak sedikit yang tersingkir dan kehilangan kendali. 

Dengan demikian perlu dipahami oleh guru bahwa setiap manusia punya passion dan hobi yang berbeda. Tugas sekolah sebagai lembaga pendidikan memberikan ruang untuk itu. Temukan dan kembangkan itu secara baik dan positif.*


 Editor : Zulmiron

[Ikuti HarianTimes.com Melalui Sosial Media]


HarianTimes.com

Berita Lainnya

  • +

Kanwil Kemenkum Riau Tingkatkan Manajemen ASN

Kakanwil Kemenkum Riau Rudy Hendra Pakpahan Dukung Penyiapan Fast-Track Layanan Apostille

DWP Kanwil Kemenkum Riau Gelar Arisan Keempat Tahun 2026

Energi untuk Masa Depan, Saatnya Indonesia Berani Bertransisi

Otopsi Psikologis Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan Keagamaan

Jual Beli Jabatan dan Krisis Moral Kekuasaan, Sebuah Analisis Psikologi atas OTT Bupati Kuantan Singingi

Kanwil Kemenkum Riau Tingkatkan Manajemen ASN

Kakanwil Kemenkum Riau Rudy Hendra Pakpahan Dukung Penyiapan Fast-Track Layanan Apostille

DWP Kanwil Kemenkum Riau Gelar Arisan Keempat Tahun 2026

Energi untuk Masa Depan, Saatnya Indonesia Berani Bertransisi

Otopsi Psikologis Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan Keagamaan

Jual Beli Jabatan dan Krisis Moral Kekuasaan, Sebuah Analisis Psikologi atas OTT Bupati Kuantan Singingi



Tulis Komentar



HarianTimes TV +

Pipa Minyak Blok Rokan di Km 16 Balam, Rohil Bocor, Minyak Mentah Membasahi Hampir Sebagian Badan Jalan

24 Juli 2024
Harlindup, Aktivis Lingkungan Kunni Marohanti Turun ke Jalan Kampanyekan Keadilan Ekologis
05 Juni 2023
Rakernas Berakhir, SMSI Minta Presiden Joko Widodo Tidak Menandatangani Rancangan Perpres Publisher Right
08 Maret 2023
TERKINI +
Kemenkum Riau Dorong UMKM Naik Kelas
03 Agustus 2026
BPK RI Tekankan Penguatan Tata Kelola dan Tindak Lanjut Rekomendasi
03 Agustus 2026
UIR Borong 11 Piagam Penghargaan dari LLDIKTI Wilayah XVII Riau-Kepri
03 Agustus 2026
Pengurus BP HIPMI PT Unilak Dilantik, Prof Junaidi: Forum Ini Nanti Bisa Jadi Calon Pengusaha Muda
03 Agustus 2026
Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Kapasitas Aparatur
03 Agustus 2026
Pembentukan Perda Berkualitas, Kanwil Kemenkum Riau dan Unand Perkuat Sinergi Penguatan Metode RIA
03 Agustus 2026
Tim Ekspedisi Merah Putih Presisi Sasar 17 Desa di Wilayah 3T
01 Agustus 2026
100.000 Jemaah Hadiri Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas
01 Agustus 2026
SMSI Dukung PKPA dan Pendidikan Mediator
01 Agustus 2026
Prabowo Ajak Jajaran Kadin Indonesia Perkuat Kolaborasi antara Pemerintah dan Dunia Usaha
01 Agustus 2026
TERPOPULER +
  • 1 Perambah Mangrove Ditangkap, Bupati Rohil: Harus Jadi Efek Jera
  • 2 Geram Lihat Mangrove Dirusak, Kapolda Riau: Tidak Ada Toleransi
  • 3 Irjen Pol Herry: Tak Ada Ampun bagi Perusak Alam
  • 4 Ingatkan Calon Komisioner KI Riau Bekerja Penuh Waktu, Zufra Irwan: Jangan Ada Kerja Sambilan
  • 5 Zufra Irwan: Harus Bersih, Tanpa Diwarnai Jatah Fraksi atau Partai Politik
  • 6 Kemenkum Riau Dorong Penyesuaian Regulasi Desa
  • 7 Kemenkum Riau Sinergikan Layanan Hukum Desa
  • 8 PHR Hadirkan Senyum dan Ruang Tumbuh Bagi Generasi Muda Riau
  • 9 Kemenkum Riau Ikuti Kick Off Kolaborasi Lintas Kementerian
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
HarianTimes.com ©2018 | All Right Reserved