• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Nasional
  • Riau
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Sportivitas
  • Sosialita
  • Wisata
  • More
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Advertorial
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • Indeks
PILIHAN +
Terima Tokoh Lintas Agama, Muliardi: Kerukunan yang Telah Terjalin Harus Terus Kita Rawat dan Tingkatkan
Dibaca : 91 Kali
Banyak Warga Menikah Setelah Lebaran, Kemenag: Layanan KUA Tetap Jalan di tengah Kebijakan WFA
Dibaca : 92 Kali
Safari Ramadhan di Masjid Al-Adzim Polda Riau, Kapolri Imbau Semua Pihak Swaspada Terhadap Narasi-Narasi Provokatif
Dibaca : 105 Kali
Syahrial Abdi: Kebijakan Ini Mewajibkan Setiap Pegawai untukTtetap Produktif Meski Tidak Berada di Kantor
Dibaca : 118 Kali
Dedikasi Pekerja PHR yang Setia Menjaga Energi di Hari Kemenangan
Dibaca : 396 Kali

  • Home
  • Opini

Sistem Sekolah: Nilai-Nilai Era Industri

Zulmiron
Senin, 15 Februari 2021 09:00:00 WIB
Cetak
Fitri Handayani.

Oleh: Fitri Handayani (Guru SD Negeri 116 Pekanbaru)

APA yang salah dengan pendidikan kita, sebuah pertanyaan yang mengawali tulisan ini. Rasanya terlalu keliru ketika mengatakan pendidikan kita salah.
 
Namun banyak fakta yang mengajak kita merenung, apakah dengan pendidikan kita sekarang telah mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan dunia nyata, ataukah kita hanya menyiapkan calon orang yang tidak mampu hidup di zamannya. 

Perubahan dunia yang begitu cepat, namun tidak dibarengi dengan persiapan generasi yang siap dengan zamannya. Hal ini dapat dilihat bahwa pendidikan kita bahkan tidak berubah dari ratusan tahun yang lalu. Padahal yang lainnya telah berubah sangat cepat.

Sebagai contoh, alat telekomunikasi Handpone, yang kita kenal sejak awal hingga saat sekarang sesungguhnya terus berubah bentuk dan fungsi. Demikian juga mobil yang kita kenal sejak awal hingga sekarang juga telah berubah. 

Bagaimana dengan pendidikan kita? Sebuah kelas misalnya, dari dahulu hingga saat sekarang tidak pernah berubah. Kursi, meja, dan bahkan cara mengajar guru sesungguhnya tidak banyak berubah, masih sama yang digunakan sekarang dengan beberapa puluhan tahun yang lalu. Tidak banyak yang berubah. Bahkan dengan model duduk siswa saja selalu menghadap ke depan seperti layaknya jamaah yang akan mendengarkan ceramah.

Sesungguhnya yang mau diciptakan dari lembaga pendidikan ini apa? Kita akan menciptakan generasi yang percaya diri dengan kemampuan mereka, atau justru menciptakan orang-orang yang bergerak sesuai instruksi. Jika tidak ada perintah misalnya, maka anak tidak memiliki inisiatif melakukan yang lain. 

Sebagai layaknya di sekolah, anak duduk manis belajar, tidak boleh bicara, tidak berkolaborasi satu dengan yang lain, hanya mengikuti apa yang diperintahkan oleh guru. Sang guru yang masuk lokal akan mengatakan selama belajar dengannya harus duduk di tempat masing-masing, tidak boleh ribut, buka buku halaman sekian, lalu kerjakan soal yang ada di sana. 

Begitu teraturnya sistem pembelajaran yang dibuat oleh guru, hingga anak tidak memiliki kesempatan berkolaborasi dengan teman sekelasnya, tidak punya waktu untuk menguatkan kepercayaan diri melalui kemampuannya sendiri. Inilah sebagai contoh generasi yang kita wujudkan. Menurut penelitian anak-anak yang hidup sesuai instruksi, dididik untuk melakukan sesuai perintah, tepatnya akan menjadi buruh pabrik. 

Banyak para ahli dari seluruh dunia setuju bahwa sistem pendidikan kita saat ini dirancang di era industri untuk pekerjaan di pabrik. Hal inilah yang terjadi di sekolah. Memberikan anak didik dengan setumpuk tugas dan mengatur kehidupan mereka dengan bunyi bel. Sepanjang hari siswa tidak melakukan selain mengikuti petunjuk sang guru. 

Inilah ciri-ciri kehidupan industri, nilai-nilainya ternyata telah ditanamkan oleh lembaga pendidikan. Dunia industri memang butuh orang-orang yang patuh pada perintah. Jangan sampai ada yang tidak sesuai dengan jalur, karena keberhasilan mereka akan sangat tergantung pada kesesuaian dengan apa yang diberitahu.

Selain itu, sekolah seringkali memberi penghargaan pada siswa yang melakukan apa yang diberitahu, bukan siswa yang mampu melakukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang di luar jalur biasanya dianggap aneh. Apalagi jika siswa melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan.

Sebagai contoh nyata, betapa banyak kita lihat anak yang mampu menghapal rumus, namun tidak tahu fungsinya dalam kehidupan. Contoh lain, seorang anak memperoleh nilai tinggi 100 pada saat ujian, namun sang anak tidak mengetahui manfaat nilai ini dalam hidupnya.

Aneh memang kenyataan yang ada, anak terus pergi ke sekolah, sepanjang hari belajar dalam lokal, namun tidak mampu percaya diri akan ilmu yang ia dapatkan. Lalu pertanyaannya, anak belajar untuk apa? Bukankah seharusnya anak akan semakin tertarik belajar, ketika ia mengetahui manfaatnya. Dan tentunya ilmu itu akan semakin melekat kalau digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Inilah salah satu fungsi belajar, untuk digunakan karena bermanfaat di dunia nyata.

Kehidupan anak kita adalah dunia nyata, bukan hayalan. Maka pembelajaran yang diberikan oleh guru mesti diaktualisasikan. Seyogianya akan lebih banyak praktek daripada teori, agar anak mendapatkan pengalaman langsung.

Apa yang bisa diperoleh dengan hanya mengikuti petunjuk, instruksi, dan perintah. Otak kita hanya akan terbelenggu dengan adanya perintah. Tidak akan berpikir menciptakan sesuatu yang baru, tidak kreatif, dan juga tidak inovatif.

Generasi saat sekarang hidup di zaman modern, yang dibutuhkan seharusnya orang-orang yang kreatif serta mampu mengomunikasikan ide-ide mereka serta berkolaborasi dengan orang lain. Namun sedihnya, anak tidak mendapatkan kesempatan ini. Mengembangkan kepercayaan dirinya tidak ada, bahkan justru mematikan kreatifitas berpikir. Wallohu A’lam


 Editor : Zulmiron

[Ikuti HarianTimes.com Melalui Sosial Media]


HarianTimes.com

Berita Lainnya

  • +

Definisi Fakir dan Miskin Masih Rancu, Syahrul Aidi Usulkan Pasal 34 Ayat 1 UUD 1945 Perlu Direinterpretasi

Cegah Gratifikasi di Lingkungan Birokrasi, KPK Ingatkan Pejabat Jaga Integritas.

Penguatan Lembaga Komisi Informasi Menuju Budaya Kerja Badan Publik yang Transparan

Hari Pers Nasional sebagai Medan Uji Kesehatan Pers

Pemilihan Gubernur, Dari Desentralisasi ke Sentralisasi (Bagian II)

Memaknai Putusan MK, Wartawan tak Dapat Dituntut

Definisi Fakir dan Miskin Masih Rancu, Syahrul Aidi Usulkan Pasal 34 Ayat 1 UUD 1945 Perlu Direinterpretasi

Cegah Gratifikasi di Lingkungan Birokrasi, KPK Ingatkan Pejabat Jaga Integritas.

Penguatan Lembaga Komisi Informasi Menuju Budaya Kerja Badan Publik yang Transparan

Hari Pers Nasional sebagai Medan Uji Kesehatan Pers

Pemilihan Gubernur, Dari Desentralisasi ke Sentralisasi (Bagian II)

Memaknai Putusan MK, Wartawan tak Dapat Dituntut



Tulis Komentar



HarianTimes TV +

Pipa Minyak Blok Rokan di Km 16 Balam, Rohil Bocor, Minyak Mentah Membasahi Hampir Sebagian Badan Jalan

24 Juli 2024
Harlindup, Aktivis Lingkungan Kunni Marohanti Turun ke Jalan Kampanyekan Keadilan Ekologis
05 Juni 2023
Rakernas Berakhir, SMSI Minta Presiden Joko Widodo Tidak Menandatangani Rancangan Perpres Publisher Right
08 Maret 2023
TERKINI +
Terima Tokoh Lintas Agama, Muliardi: Kerukunan yang Telah Terjalin Harus Terus Kita Rawat dan Tingkatkan
26 Maret 2026
Banyak Warga Menikah Setelah Lebaran, Kemenag: Layanan KUA Tetap Jalan di tengah Kebijakan WFA
25 Maret 2026
Safari Ramadhan di Masjid Al-Adzim Polda Riau, Kapolri Imbau Semua Pihak Swaspada Terhadap Narasi-Narasi Provokatif
17 Maret 2026
Syahrial Abdi: Kebijakan Ini Mewajibkan Setiap Pegawai untukTtetap Produktif Meski Tidak Berada di Kantor
16 Maret 2026
Dedikasi Pekerja PHR yang Setia Menjaga Energi di Hari Kemenangan
24 Maret 2026
Film Pelangi di Mars Tayang di Studio 3 Bioskop Cinema XXI SKA, Pekanbaru
23 Maret 2026
Tidak Ada Open House, Bupati dan Wabup Siak Tetap Buka Rumah Rakyat
20 Maret 2026
Menag Ajak Umat Islam Jadikan Idulfitri Momentum Memperkuat Empati dan Kepedulian Sosial
20 Maret 2026
Luncurkan Program “Ekspedisi Masjid Indonesia” 2026, Kemenag Sediakan Ribuan Masjid Ramah Pemudik
20 Maret 2026
Pemerintah Tetapkan 1 Syawal 1447 Hijriyah 21 Maret 2026
19 Maret 2026
TERPOPULER +
  • 1 Film Pelangi di Mars Tayang di Studio 3 Bioskop Cinema XXI SKA, Pekanbaru
  • 2 Tidak Ada Open House, Bupati dan Wabup Siak Tetap Buka Rumah Rakyat
  • 3 Menag Ajak Umat Islam Jadikan Idulfitri Momentum Memperkuat Empati dan Kepedulian Sosial
  • 4 Luncurkan Program “Ekspedisi Masjid Indonesia” 2026, Kemenag Sediakan Ribuan Masjid Ramah Pemudik
  • 5 Pemerintah Tetapkan 1 Syawal 1447 Hijriyah 21 Maret 2026
  • 6 Penentuan Idul Fitri Tunggu Sidang Isbat, Kemenag Riau Ajak Masyarakat Jaga Toleransi
  • 7 Definisi Fakir dan Miskin Masih Rancu, Syahrul Aidi Usulkan Pasal 34 Ayat 1 UUD 1945 Perlu Direinterpretasi
  • 8 Lewat Pasar Murah Ramadhan, PHR Alirkan Energi Kebahagiaan di Zona Rokan
  • 9 Cegah Gratifikasi di Lingkungan Birokrasi, KPK Ingatkan Pejabat Jaga Integritas.
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
HarianTimes.com ©2018 | All Right Reserved