• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Nasional
  • Riau
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Sportivitas
  • Sosialita
  • Wisata
  • More
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Advertorial
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • Indeks
PILIHAN +
Kemenkum Riau Serahkan Sertifikat Hak Cipta Gratis
Dibaca : 181 Kali
Penuh Kebersamaan, Tasyakuran Hari Pengayoman ke-81 Pererat Kekeluargaan Jajaran Kemenkum Riau
Dibaca : 186 Kali
Hari Pengayoman ke-81, Kemenkum Riau Teguhkan Transformasi Digital dan Sinergi untuk Pelayanan Hukum Berdampak
Dibaca : 181 Kali
Butik Selaras Resmi Dibuka, Atal S Depari: Memiliki Arti Positif dan Sejalan dengan Nilai-Nilai Wartawan
Dibaca : 204 Kali
Wartawati Senior PWI Musrifah Lestarikan Warisan Nusantara
Dibaca : 184 Kali

  • Home
  • Hukrim

Komnas Perlindungan Anak

Lakukan Kejahatan Seksual Terhadap Anak, Arist: Pelaku Terancam 20 Tahun Penjara

Redaksi
Ahad, 03 Februari 2019 03:21:24 WIB
Cetak
Wakapolres Aceh Utara Kompol Edwin Aldro didampingi Kasat Reskrim Iptu Kholid Dyansyah saat press conference
Medan, HarianTimes.com - 1 Januari 2019 : Berdasarkan laporan orang tua kepada Polisi melalui LP/ 162/.... Seorang perempuan berprofesi sebagai guru agama di Aceh Utara berinisial NU (31) ditangkap Polisi karena diduga melakukan kejahatan seksual terhadap 5 orang muridnya.

Atas perbuatannya itu, NU perempuan belum menikah itu menginap di Mapolres Aceh Utara dan terancam 20 tahun pidana penjara.

Informasi yang diperoleh Komnas Perlindungan Anak dari relawan sahabat Anak Indonesia di Aceh Utara, pada Rabu (30/01/2019) kejahatan seksual yang dilakukan NU terhadap 5 muridnya itu dilakukan dalam waktu terpisah dan dilakukan dalam rentang waktu setahun terakhir 2018. Perbuatan bejat dan tak lazim itu dilakukan di kamar pelaku.

Modus dan kronologi kejahatan seksual yang dilakukan NU terhadap 5 orang anak  itu terungkap setelah orang tua korban melaporkan ke Mapolres Aceh Utara, pada Selasa (29/01/2019) lalu.

Wakapolres Aceh Utara Kompol Edwin Aldro didampingi Kasat Reskrim Iptu Kholid Dyansyah dalam Konferensi persnya di Mapolres Aceh Utara mengatakan 5 orang anak korban NU, masing-masing 2 laki-laki dan 3 perempuan. Korban rata-rata berusia 8 sampai 11 tahun dan semua korban masih satu desa dengan pelaku di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh Nanggro Darussalam (NAD).

Kompol Edwin mengatakan bahwa NU pertama kali melakukan kejahatan seksual pada akhir tahun 2017. Modus tersangka mula-mula menunjukkan video musik klip musik dari handphonenya kepada korban lalu mengajak para korban ke kamarnya dan setelah di kamar NU kemudian mengajak korban laki-laki bermain keluar masuk burung. 'Yuk main masuk-masukan burung,  tidak apa-apa,  tidak apa-apa tidak berdosa'," demikian rayuan pelaku  kepada korban laki-laki seperti yang dituturkan Kompol Edwin kepada media. 

"Usai melakukan masuk-masukan burung,  para korban laki-laki diberikan sejumlah uang," ujarnya.

Berhasil memperdayai dan mengeksploitasi seksual anak laki-laki, NU lalu mengulangi perbuatannya Januari 2018 dengan anak perempuan. Kali ini korban diajak dalam kamar bermain cium-ciuman. Begitulah cara pelaku merayu korban.

Korban sesungguhnya sempat menolak tetapi NU yang sudah memuncak salatnya kemudian menjawab tidak apa-apa nggak dosa," jelas Kompol Edwin dalam keterangan persnya. 

Saat NU dikonfirmasi wartawan, dengan tertunduk malu NU mengakui perbuatannya. NU mengaku kepada penyidik mencabuli anak itu karena sangat menyukai korban.

Akibat dari perbuatannya itu kini NU mendekam di tahanan Mapolres Aceh Utara dan terancam ketentuan Undang-Undang RI nomor 17 tahun 2016 tentang perubahan kedua dari Undang-Undang RI Nomor 23 tahun 2016, ketentuan pasal 81 ayat (2) junto pasal 82 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor :  35 Tahun 2014 tentang perubahan kedua atas undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Snak dengan ancaman minimal 10 tahun dan maksimal 20 tahun," demikian disampaikan Arist Merdeka Sirait, Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Indonesia menjawab pertanyaan media, pada Jumat (01/02/2019). 

Arist menambahkan, kejahatan seksual yang terjadi diberbagai tempat dan pelakunya lintas profesi dan latarbelakang  itu menunjukkan lemahnya pengawasan dan kewaspadaan orang tua dan guru. Seharusnya orang tua mengajarkan anak-anaknya cara cara melindungi anak dari kejahatan seksual. "Seharusnyalah anak diajarkan pengetahuan dan keterampilan bagaimana menjaga dirinya dari serangan kejahatan seksual baik di rumah di ruang publik dan di sekolah anak harus diajarkan kemampuan dan keberanian untuk menolak ajakan orang lain yang tidak dikenalnya serta bujuk rayu orang-orang terdekat anak, demikian juga anak harus diajarkan bagaimana menjaga organ- organ bagian tubuh yang mana saja yang tidak boleh dipegang atau disentuh orang lain," ungkap Arist.

Untuk menyikapi kejahatan seksual yang sangat menakutkan ini, Menurut Arist Merdeka Sirait, pria yang telah malang melintang dalam gerakan perlindungan anak lebih dari 30 tahun menyampaikan, ini cara efektif untuk melindungi anak dan dari predator kejahatan seksual seperti yang terjadi di Aceh Utara, Bandung dan di tempat-tempat lain yang terjadi akhir-akhir ini, terjadi baik dilakukan secara perorangan maupun gerombol.

Adalah melahirkan undang-undang penghapusan Kekerasan Seksual yang saat ini masih parkir di Senayan dan perlu dipercepat untuk disyahkan menjadi Undang-Undang. Sebab pada kenyataan bahwa masih banyak orang dewasa dan atau orang tua masih belum banyak mengetahui peran mereka untuk memenuhi hak anak dan cara melindungi anak-anaknya dari serangan seksual,  eksploitasi, diskriminasi serta eksploitasi seksual dan lain-lainnya," kata Arist Merdeka Sirait, Jumat (01/02/2019) di Medan.

Arist menambahkan, "Tidak ada toleransi kata damai terhadap kejahatan seksual, karena kejahatan seksual terhadap anak merupakan tindak pidana luar biasa (extraordinary crime) yang disetarakan dengan tindak pidana korupsi narkoba dan terorisme," tegasnya. Sekali lagi Arist menekankan, tidak ada kata damai terhadap kejahatan seksual. "Demi keadilan bagi korban NU harus mempertanggungjawabkan perbuatannya," tegasnya lagi. 

Komnas Perlindungan Anak dan Relawan Sahabat Anak Indonesia di Aceh Utara memberikan apresiasi kepada pihak Polres Aceh Utara atas kerja keras dan langkah cepat serta tepat dalam mengungkap kasus kejahatan seksual terhadap anak yang dilakukan NU perempuan berprofesi guru ini. (*/hrp)


[Ikuti HarianTimes.com Melalui Sosial Media]


HarianTimes.com

Berita Lainnya

  • +

Perambah Mangrove Ditangkap, Bupati Rohil: Harus Jadi Efek Jera

Geram Lihat Mangrove Dirusak, Kapolda Riau: Tidak Ada Toleransi

Irjen Pol Herry: Tak Ada Ampun bagi Perusak Alam

Tak Kunjung Tuntas, DPRD Pekanbaru Bawa Kasus Mafia Tanah Sudirman ke Jamintel, DPR dan Menteri ATR

Satresnarkoba Polres Bengkalis Gagalkan Peredaran Narkoba Jaringan Malaysia

BBKSDA Riau Dua Truk Bermuatan Kayu Olahan di Kawasan Suaka Margasatwa Teluk Meranti

Perambah Mangrove Ditangkap, Bupati Rohil: Harus Jadi Efek Jera

Geram Lihat Mangrove Dirusak, Kapolda Riau: Tidak Ada Toleransi

Irjen Pol Herry: Tak Ada Ampun bagi Perusak Alam

Tak Kunjung Tuntas, DPRD Pekanbaru Bawa Kasus Mafia Tanah Sudirman ke Jamintel, DPR dan Menteri ATR

Satresnarkoba Polres Bengkalis Gagalkan Peredaran Narkoba Jaringan Malaysia

BBKSDA Riau Dua Truk Bermuatan Kayu Olahan di Kawasan Suaka Margasatwa Teluk Meranti



Tulis Komentar



HarianTimes TV +

Pipa Minyak Blok Rokan di Km 16 Balam, Rohil Bocor, Minyak Mentah Membasahi Hampir Sebagian Badan Jalan

24 Juli 2024
Harlindup, Aktivis Lingkungan Kunni Marohanti Turun ke Jalan Kampanyekan Keadilan Ekologis
05 Juni 2023
Rakernas Berakhir, SMSI Minta Presiden Joko Widodo Tidak Menandatangani Rancangan Perpres Publisher Right
08 Maret 2023
TERKINI +
Kemenkum Riau Serahkan Sertifikat Hak Cipta Gratis
19 Agustus 2026
Penuh Kebersamaan, Tasyakuran Hari Pengayoman ke-81 Pererat Kekeluargaan Jajaran Kemenkum Riau
19 Agustus 2026
Hari Pengayoman ke-81, Kemenkum Riau Teguhkan Transformasi Digital dan Sinergi untuk Pelayanan Hukum Berdampak
19 Agustus 2026
Butik Selaras Resmi Dibuka, Atal S Depari: Memiliki Arti Positif dan Sejalan dengan Nilai-Nilai Wartawan
19 Agustus 2026
Wartawati Senior PWI Musrifah Lestarikan Warisan Nusantara
19 Agustus 2026
HUT ke-81 MA, Kemenkum Riau Terima Apresiasi Kolaborasi Pelayanan Publik Berdampak
19 Agustus 2026
Kemenkum Riau dan BNI Bersinergi Fasilitasi Pencatatan Hak Cipta Gratis bagi Pelaku Kreatif dan UMKM
18 Agustus 2026
Perkuat Akses Keadilan, Kemenkum Riau dan Kejati Riau Bangun Sinergi Layanan Hukum bagi Masyarakat
18 Agustus 2026
Intensifkan Pendampingan, Kemenkum Riau Dorong JDIH Berkualitas dan Terintegrasi
18 Agustus 2026
Program MALIKA, PDC Edukasi Warga Desa Bangko dan Duri Olah Minyak Jelantah Jadi Sabun dan Lilin Aromaterapi
18 Agustus 2026
TERPOPULER +
  • 1 Kemenkum Riau Dorong Sivitas Akademika UIR Lindungi Inovasi melalui Paten
  • 2 UPT Perpustakaan dan Arsip Unilak Masuk 10 Besar Lomba Portal Website Perpustakaan 2026
  • 3 Kunjungi PLN UID Riau dan Kepri, Komisi VI DPR RI Bahas Penguatan Keandalan Kelistrikan
  • 4 Kemenkum Riau Percepat Pelindungan IG Talas Ungu Sinaboi dan Terasi Bagan Rohil
  • 5 Kakanwil Kemenkum Riau Dampingi Peserta PKA Angkatan LXXVII sebagai Mentor Aksi Perubahan
  • 6 Kanwil Kemenkum Riau Dukung Penuh Rangkaian Kegiatan Nasional
  • 7 Perkuat Komunikasi Publik, Imigrasi Siak Gandeng PWI Riau
  • 8 Tim Perpustakaan El-Hayaah MAN 1 Pekanbaru Stand Teredukatif di Festival Literasi Provinsi Riau 2026
  • 9 Hadapi Era AI dan UU ITE, PWI Dumai Perkuat Kompetensi Wartawan
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
HarianTimes.com ©2018 | All Right Reserved