• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Nasional
  • Riau
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Sportivitas
  • Sosialita
  • Wisata
  • More
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Advertorial
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • Indeks
PILIHAN +
Buku Kearifan Baduy hingga Jejak Adinegoro Diluncurkan di HPN 2026
Dibaca : 168 Kali
FGD di KI Banten, ForKI Riau Perkuat Peran Wartawan Dorong Transparansi
Dibaca : 187 Kali
Buka Konvensi Nasional Media Massa HPN 2026, Meutya Hafid: Transformasi Digital Tidak Boleh Menggerus Pilar Demokrasi
Dibaca : 188 Kali
Disupport PT Riau Petrolium Rokan, IKWI Riau Ikut Sukseskan Kongres XI IKWI dan HPN 2026 di Serang
Dibaca : 357 Kali
Dewan Pers Sosialisasi Pendataan Perusahaan Pers
Dibaca : 412 Kali

  • Home
  • Politik

Pilih Aktor Sosial Bukan Aktor Politik

Redaksi
Selasa, 08 Januari 2019 14:23:09 WIB
Cetak
Bagus Santoso
Oleh: Bagus Santoso
(Mahasiswa S3 Ilmu Politik, Praktisi Politik dan Anggota DPRD Riau)

PERSEPSI selama ini, yang dimaksud aktor adalah orang yang bekerja dalam seni pertunjukkan. 

Yakni yang mendapat peran utama dalam melakoni sebuah cerita. Seperti aktor film atau aktor sinetron. 

Aktor adalah panggilan buat orang-orang yang mendedikasikan dirinya di dalam bidang seni peran. Tidak semua orang bisa menjadi aktor seni peran. Tetapi, pada dasarnya semua orang adalah aktor yang memiliki perannya masing-masing dalam kehidupan. 

Aktor seni peran, serupa tapi tidak sama dengan aktor politik. Dikatakan serupa, karana aktor seni peran membutuhkan penonton dan panggung untuk beraksi sesuai tuntutan cerita. Begitu pula aktor politik membutuhkan panggung kampanye dan dukungan pemilih untuk mencapai ambisinya. Sama-sama harus memiliki kemampuan berakting. Dikatakan tidak sama, karena pada pertunjukan seni peran penonton yang membayar dengan membeli karcis untuk menyaksikan sang aktor idola. Sebaliknya, di panggung politik selama ini sang aktor politik yang membeli/membayar suara untuk memenangkan pemilu (money politics).

Disinilah bedanya aktor sosial. Tidak membutuhkan panggung dan dukungan publik. Karena bukan penghibur yang merindukan tepuk tangan gemuruh penggemar, bukan pemain yang membutuhkan medali penghargaan. 

Aktor sosial adalah orang yang ikhlas dan konsisten mendesain gerakan-gerakan sosial pemberdayaan masyarakatnya. Selalu datang menawarkan solusi-solusi alternatif pemecahan masalah, dan tidak pernah absen disaat rakyat membutuhkan pemikirannya. Ikhlas membantu orang lain tanpa target-target tertentu, serta konsisten meladeni sesama dengan sapa dan senyum ramah.

Bagi aktor sosial, setiap jiwa itu penting tanpa harus melihat ke tubuh siapa jiwa itu bersemayam. Jiwa seorang gelandangan sama saja nilanya dengan jiwa seorang presiden sekalipun, baginya buruh, petani, pekebun, nelayan adalah sahabat, dan tuntutan alami setiap jiwa adalah dianggap penting. Itulah sebabnya bagi aktor sosial setiap jiwa itu penting dalam kondisi apapun, tidak hanya pada saat ada kepentingan tertentu. 

Bandingkan dengan aktor politik yang hanya ramai-ramai menganggap jiwa rakyat itu penting hanya pada saat musim kampanye pemilu. Setelah pemilu berlangsung kembali jiwa-jiwa rakyat dibiarkan saja merana menggelepar kelaparan, kebanjiran, mengais dan mengemis untuk sekedar bernafas mempertahankan hidup. 

Rakyat sering “ngedumel” ketika musim pemilu tiba. Mereka diperlakukan bak raja. Mereka baru sadar ditinggalkan saat jabatan digenggaman. Maka kewajiban bersama perlunya pendidikan politik bagi rakyat agar memilih wakilnya yang benar- benar  merakyat bukan dibuat-buat.

Filosofi aktor sosial adalah “menjadi pelayan kemanusiaan”. Dan esensinya, itulah tugas negara bersama aparaturnya untuk melayani rakyat. Tetapi faktanya, di dunia politik nama rakyat hanya dieksploitasi untuk kepentingan politik. 

Pendidikan gratis nyatanya janji manis, sertifikat gratis faktanya bualan gombal, justeru beban terus menggumpal, tarif listrik mencekik, pajak terus merangkak memijak- mijak. Secara normatif semua politisi berbicara dan bahkan berteriak atas nama kepentingan rakyat, tetapi dalam tahap implementasi di lapangan hampir semua politisi tidak mempunyai konsistensi keberpihakan kepada rakyat. 

Beda dengan seorang aktor sosial yang selalu konsisten dan ikhlas menjadi bagian dari perjuangan rakyat mempertahankan hidup. Seorang aktor sosial tidak pernah membiarkan manusia lain sebagai anak yatim piatu berjalan sendiri menggunakan peta buta dalam menyelesaikan persoalan kehidupan sosialnya. Aktor sosial tidak datang membagi uang tatkala berkepentingan-menebar janji kepada rakyat, tetapi datang menebar silaturahmi menyambung peseduluran untuk menyelesaikan persoalan kehidupan. 

Aktor sosial merakyat dengan visi kepemimpinan visioner yang memiliki pandangan jauh ke depan dalam membangun peradaban manusia, dusun, kampung, desa, bangsa dan negaranya. Tidak memanfaatkan waktu untuk kepentingan sendiri dan kelompoknya, tetapi bagaimana bersama rakyat merumuskan strategi untuk menggali seluruh potensi bangsa dan daerah dalam menjalankan roda pembangunan ke depan. 

Jadi sangat tepat kalau dalam Pemilu 2019 rakyat bersatu melakukan revolusi pemikiran mencari aktor sosial untuk menjadi wakilnya di parlemen, karena hanya aktor sosial yang bisa melayani kepentingan rakyat, bukan aktor politik. 
Pesan yang ingin disampaikan kepada politisi termasuk penulis didalamnya, kalau ingin memenangkan pemilu dengan meminimalkan biaya politik, harus cerdas dari awal membangun personal branding. Harus mengetahui kapan menjadi aktor sosial dan kapan menjadi aktor politik. 

Jadilah aktor sosial dengan menyingkirkan semua atribut politik dalam dirinya minimal satu tahun menjelang pemilu. Aktor sosial tidak muncul secara instan,tetapi butuh waktu dan konsistensi untuk terlibat langsung mendesain kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan. Itulah sebabnya sahabat penulis Ruslan Ismail Mage Direktur Sipil Intitut menyebutkan aktor sosial sebagai seorang desainer yang merancang pola pemecahan masalah, seorang arsitek yang merekontruksi kerangka pemberdayaan potensi masyarakat. Aktor sosial tidak mempunyai waktu bertanam tebu di bibir, memasang spanduk atau baleho apalagi tebar pesona untuk pencitraan karena lebih vokus menanam saham budi pekerti di lahan jiwa sesama. Lalu kapan sebaiknya seorang politisi menjadi aktor politik? Aktor politik hanya dibutuhkan pada saat musim kampanye.

Menjadi episode yang memprihatinkan ketika ending dari pemilu tetap juga mengulang sejarah kursi legislatif. Selalu dana, selalu direbut aktor politik tersebab aktor sosial terkubur lumpur politik semprul. Tak dipungkiri masih ada saja, bahkan lebih banyak para aktor politiklah yang menguasai kursi DPRD, DPR RI. Karena mereka mampu membayar penonton, dilorong gelap sana penonton belum juga sadar bahwa mereka dibayar untuk dilempar. Entah kapan, penonton terbangun dari siuman, bahwa aktor politik bukanlah pilihan.*


[Ikuti HarianTimes.com Melalui Sosial Media]


HarianTimes.com

Berita Lainnya

  • +

Simposium Nasional SMSI, Prof Taufiqurokhman: Pilkada Langsung Tetap Jadi Pilihan Utama Masyarakat

Besok, PAN Riau Gelar Musda Serentak

Rapat Perdana DPW PAN Riau, Sahidin: Susunlah Program yang Menyentuh Rakyat

PerKPU RI Rahasiakan Data Capres dan Cawapres, Zufra Irwan: Itu Keliru dan Penafsiran yang Sesat Terhadap UU KIP

HUT Bawaslu, Abdul Wahid: Saya Adalah Pemimpin yang Tidak Mau Menciderai Demokrasi dengan Money Politic

KPU Siak Tetapkan Dr Afni-Syamsurizal Sebagai Bupati Terpilih

Simposium Nasional SMSI, Prof Taufiqurokhman: Pilkada Langsung Tetap Jadi Pilihan Utama Masyarakat

Besok, PAN Riau Gelar Musda Serentak

Rapat Perdana DPW PAN Riau, Sahidin: Susunlah Program yang Menyentuh Rakyat

PerKPU RI Rahasiakan Data Capres dan Cawapres, Zufra Irwan: Itu Keliru dan Penafsiran yang Sesat Terhadap UU KIP

HUT Bawaslu, Abdul Wahid: Saya Adalah Pemimpin yang Tidak Mau Menciderai Demokrasi dengan Money Politic

KPU Siak Tetapkan Dr Afni-Syamsurizal Sebagai Bupati Terpilih



Tulis Komentar



HarianTimes TV +

Pipa Minyak Blok Rokan di Km 16 Balam, Rohil Bocor, Minyak Mentah Membasahi Hampir Sebagian Badan Jalan

24 Juli 2024
Harlindup, Aktivis Lingkungan Kunni Marohanti Turun ke Jalan Kampanyekan Keadilan Ekologis
05 Juni 2023
Rakernas Berakhir, SMSI Minta Presiden Joko Widodo Tidak Menandatangani Rancangan Perpres Publisher Right
08 Maret 2023
TERKINI +
Buku Kearifan Baduy hingga Jejak Adinegoro Diluncurkan di HPN 2026
08 Februari 2026
FGD di KI Banten, ForKI Riau Perkuat Peran Wartawan Dorong Transparansi
09 Februari 2026
Buka Konvensi Nasional Media Massa HPN 2026, Meutya Hafid: Transformasi Digital Tidak Boleh Menggerus Pilar Demokrasi
08 Februari 2026
Disupport PT Riau Petrolium Rokan, IKWI Riau Ikut Sukseskan Kongres XI IKWI dan HPN 2026 di Serang
09 Februari 2026
Dewan Pers Sosialisasi Pendataan Perusahaan Pers
07 Februari 2026
Ketum PWI: Wartawati Lebih Luwes Menembus Narasumber
07 Februari 2026
Rakernas SIWO Tetapkan Lampung Tuan Rumah Porwanas 2027
07 Februari 2026
HPN 2026 Banten Dipusatkan Serang, PWI Siapkan Gerakan Banten Asri, Konvensi Media Nasional Hingga Pembagian Sembako
07 Februari 2026
Fadli Zon Akan Hadiri Dialog Kebudayaan PWI Pusat-HPN 2026 di Banten
07 Februari 2026
HPN 2026 Beri Efek Berganda bagi Pariwisata, UMKM dan Citra Daerah
07 Februari 2026
TERPOPULER +
  • 1 PWI Tetapkan Juara AJP 2026, Karya Jurnalistik Terbaik Rekam Pengabdian Polri
  • 2 Kemenag Terus Upayakan Guru Madrasah Swasta Bisa Diangkat PPPK
  • 3 UIR Buka PMB Jalur RPL, Berikut Daftar Program Studinya!
  • 4 Jelang Ramadhan, FKIP UIR Gelar Konser Orkestra Religi Spektakuler di Gedung Idrus Tintin
  • 5 PWI Riau Berangkatkan 110 Delegasi Hadiri HPN 2026 di Serang, Banten
  • 6 Kasus Tudingan Ijazah Palsu Jokowi, Roy Suryo CS Minta Salinan 709 Dokumen
  • 7 Audiensi Strategis dengan Plt Gubri, Kakanwil Kemenkum Riau Laporkan Penguatan 1.862 Posbankum Desa/Kelurahan
  • 8 Hari Pers Nasional sebagai Medan Uji Kesehatan Pers
  • 9 FPK Riau Minta Tempat Hiburan di Pekanbaru Patuhi Aturan dan Nilai Melayu
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
HarianTimes.com ©2018 | All Right Reserved