• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Nasional
  • Riau
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Sportivitas
  • Sosialita
  • Wisata
  • More
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Advertorial
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • Indeks
PILIHAN +
Wujud Peduli Lingkungan, Siswa MAN 5 Kampar Ubah Minyak Jelantah Jadi Biodiesel
Dibaca : 134 Kali
Dukung Pembelajaran Lebih Nyaman, MTsN 4 Kampar Segera Direvitalisasi
Dibaca : 139 Kali
IM3 Pasti Simpel Bikin Pelanggan Sumatera Pulang Bawa Motor Listrik
Dibaca : 188 Kali
75 Kali Aksi Donor Sejak 2005, KDD Riau Komplek Himpun 35.515 Kantong Darah
Dibaca : 177 Kali
Layanan Sempat Terganggu Akibat Listrik Padam, Indosat Sumatera Pastikan Jaringan Kembali Normal
Dibaca : 356 Kali

  • Home
  • Opini

Tahun Berganti, Antara Optimisme dan Pesimisme

Zulmiron
Rabu, 31 Desember 2025 20:33:22 WIB
Cetak

Oleh: Assoc. Prof. Dr. H. Syafriadi, S.H., M.H (Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Riau)

TAHUN kembali berganti. Kita seperti sedang mendayung di antara dua pulau yang berhadap-hadapan: Pulau Optimisme dan Pulau Pesimisme.

Di satu sisi, ada harapan. Pemerintah berusaha meyakinkan publik bahwa 2026 akan lebih baik daripada 2025. Narasi tentang perbaikan ekonomi, pemulihan nasional, dan masa depan yang lebih cerah terus diulang dalam berbagai pidato dan pernyataan resmi.

Namun, optimisme itu, setidaknya untuk saat ini, masih berhenti sebagai retorika. Ia baru berupa keinginan dan kemauan, belum sepenuhnya ditopang oleh data dan fakta yang konkret. Janji terdengar manis, tetapi realitas sering kali berjalan dengan tempo yang berbeda.

Baca Juga :
  • 75 Kali Aksi Donor Sejak 2005, KDD Riau Komplek Himpun 35.515 Kantong Darah
  • Cuaca di Makkah Semakin Panas, Jemaah Haji Diimbau Kurangi Aktivitas di Luar Hotel Jelang ARMUZNA
  • 4.394 Jemaah Haji Riau Tuntaskan DAM Melalui Addahi

Di sisi lain, ada pesimisme yang tak bisa begitu saja ditepis. Bukan tanpa alasan. Pemerintah tampak enggan bercermin pada masa lalu, khususnya pengalaman pahit sepanjang 2025. Tahun itu meninggalkan banyak catatan kelam, terutama di bidang ekonomi dan penanganan krisis.

Kita masih ingat bagaimana Sumatera dilanda bencana besar. Ribuan nyawa melayang, rumah-rumah warga lenyap tak terhitung jumlahnya, dan tiga provinsi yakni Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat, menanggung luka yang belum sepenuhnya sembuh.

Penanganan yang lambat, koordinasi yang tersendat, dan kebijakan yang terasa reaktif membuat publik bertanya: apakah negara benar-benar hadir saat rakyat paling membutuhkan?

Di bidang ekonomi, rekam jejak itu tak kalah problematik. Janji-janji Menteri Keuangan Purbaya tentang pertumbuhan ekonomi yang akan meningkat secara bertahap hingga menyentuh angka 8 persen masih menggantung di udara.

Angka-angka itu terdengar ambisius, bahkan inspiratif. Tetapi sampai hari ini, publik masih menunggu bukti nyata: kebijakan apa yang bekerja, sektor mana yang benar-benar bergerak, dan kesejahteraan siapa yang sungguh meningkat.

Di titik inilah kita mendayung, di antara harapan yang ingin kita percayai dan keraguan yang lahir dari pengalaman. Optimisme memang penting, tetapi tanpa evaluasi yang jujur dan pembelajaran dari kegagalan, ia mudah berubah menjadi ilusi. Dan pesimisme, betapapun pahitnya, sering kali justru lahir dari ingatan kolektif yang tak ingin kembali dikecewakan.

Tahun telah berganti. Pertanyaannya sederhana: apakah kita benar-benar bergerak ke pulau yang lebih baik, atau sekadar berputar-putar di perairan yang sama?

Saya sendiri belum sepenuhnya yakin kita akan benar-benar sampai ke Pulau Optimisme. Keraguan itu bukan lahir dari sikap sinis, melainkan dari pembacaan atas berbagai proyeksi yang justru saling bertolak belakang. Banyak ekonom memprediksi kondisi ekonomi Indonesia pada 2026 tidak akan jauh lebih baik, bahkan cenderung stagnan, dibandingkan tahun 2025.

Di tengah keraguan itu, Bank Indonesia tampil membawa kabar optimistis. Dalam rilis resminya, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,1 hingga 5,6 persen. Angka yang terdengar menenangkan, seolah menjadi jangkar harapan di tengah laut ketidakpastian.

Optimisme tersebut ditopang oleh beberapa pilar utama. Pertama, konsumsi rumah tangga yang disebut masih kuat, dengan inflasi yang dijaga tetap terkendali dalam rentang sasaran 1,5–3,5 persen. Dengan inflasi yang jinak, daya beli masyarakat diasumsikan tetap terjaga. Sebuah asumsi yang rapi di atas kertas, meski di lapangan, rasa “terjaga” itu kerap terasa relatif.

Kedua, sinergi kebijakan yang diklaim pro-stability dan kebijakan makroprudensial yang pro-growth. Kombinasi ini diharapkan mampu mendorong penyaluran kredit perbankan ke sektor-sektor prioritas. Harapannya, sektor riil bergerak, usaha tumbuh, dan lapangan kerja tercipta. Namun seperti biasa, kata “diharapkan” kembali mengambil peran utama.

Ketiga, investasi, baik bangunan maupun nonbangunan, yang diyakini akan terus mengalir seiring berlanjutnya pembangunan infrastruktur konektivitas dan proyek Ibu Kota Nusantara (IKN). Pembangunan IKN yang disebut semakin masif pada 2026 diposisikan sebagai katalisator investasi nasional. Sekali lagi, keyakinan besar digantungkan pada proyek besar.

Semua pilar itu tampak kokoh dalam presentasi dan laporan resmi. Tetapi ekonomi bukan hanya soal proyeksi, melainkan juga soal kejutan, disiplin kebijakan, dan kemampuan pemerintah membaca realitas sosial yang terus berubah.

Karena itu, kita memang tidak punya pilihan selain menunggu dan melihat. Apakah proyeksi Bank Indonesia akan menjelma menjadi kenyataan, atau sekadar menjadi catatan optimisme tahunan yang kembali diuji oleh realitas? Waktu, seperti biasa, akan menjadi hakim paling jujur.

Itu baru selayang catatan di bidang ekonomi. Di bidang hukum, potret penegakan hukum pun tak menunjukkan wajah yang lebih cerah dibandingkan tahun 2025. Law enforcement masih berjalan pincang, seolah kuat di satu sisi, rapuh di sisi lain.

Kejaksaan Agung memang tampil paling mencolok. Keberhasilan mereka mengungkap dan mengembalikan keuangan negara dari jarahan korupsi kelas kakap memberi kesan show of force. Negara tampak berwibawa, setidaknya di layar publik. Namun wibawa hukum tidak bisa berdiri hanya di atas satu institusi.

Gambaran yang agak berbeda terlihat pada lembaga penegak hukum lainnya. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), misalnya, masih berkutat pada operasi tangkap tangan terhadap sejumlah kepala daerah. Persoalannya bukan pada OTT itu sendiri, melainkan pada skala. Nilai kerugian dan bobot perkara yang ditangani terasa tak sebanding dengan kebesaran nama dan mandat historis KPK sebagai lembaga pemberantas korupsi kelas berat.

Sementara itu, kepolisian justru tersedot pada polemik kasus ijazah palsu Presiden Joko Widodo, sebuah perkara yang menyita energi, waktu, dan perhatian publik secara berlebihan. Ironisnya, kasus sekelas ini pun tak kunjung menghadirkan kepastian hukum yang tegas. Jika perkara dengan kompleksitas relatif sederhana saja berlarut-larut, publik wajar bertanya: bagaimana dengan kasus-kasus lain yang jauh lebih besar dan lebih rumit?

Di atas semua itu, masih melekat stigma lama yang belum berhasil ditepis: penegakan hukum yang tebang pilih. Hukum kerap terasa tajam ke bawah, tetapi tumpul ke atas. Persepsi ini mungkin menyakitkan bagi aparat, tetapi ia lahir dari pengalaman sosial yang berulang, dan karena itu sulit diabaikan.

Penegakan hukum, pada akhirnya, bukan sekadar soal seberapa keras negara menunjukkan kekuatannya, melainkan seberapa konsisten dan adil hukum ditegakkan. Tanpa itu, hukum hanya akan dipandang sebagai pertunjukan: keras di panggung, lemah di kenyataan.

Di bidang politik, ada satu isu menarik yang belakangan mulai diwacanakan oleh para pimpinan partai politik: perubahan mekanisme pemilihan kepala daerah. Dari pemilihan langsung menuju pemilihan tidak langsung alias kepala daerah kembali dipilih oleh DPRD. Hanya saja, wacananya masih setengah matang. Belum tegas apakah yang akan dipilih DPRD hanya gubernur dan wakil gubernur, atau sekalian bupati dan wali kota.

Pada titik ini, saya harus berkata jujur: saya setuju.
Lah, mengapa setuju?

Soal mekanisme ini, saya sudah cukup lama merenung, mengamati, dan mempelajari efektivitas pemilihan kepala daerah. Bahkan, saya membandingkan dua fase penting: pemilihan tidak langsung pada masa Orde Baru (indirect election) dan pemilihan langsung pada era Orde Reformasi (direct election).

Memang, secara normatif dan retoris, pemilihan langsung terdengar lebih demokratis. Ia diklaim lebih mencerminkan kedaulatan rakyat dan menjadi antitesis dari praktik politik Orde Baru. Namun demokrasi, pada akhirnya, tidak cukup dinilai dari proses semata. Ia juga harus diukur dari hasil.

Dan di sinilah persoalan muncul. Output dari pemilihan langsung baik dari sisi kualitas figur yang terpilih maupun dari sisi efisiensi anggaran, ternyata tidak selalu lebih baik dibandingkan era pemilihan tidak langsung. Biaya penyelenggaraan pilkada membengkak, ongkos politik calon melambung, dan dampak ikutan seperti politik uang, konflik horizontal, serta pragmatisme elektoral kian mengeras.

Antara biaya dan hasil, korelasinya sering kali tidak positif. Bahkan, dalam banyak kasus, terasa mubazir.

Bandingkan jika kepala daerah dipilih oleh DPRD. Dana besar yang selama ini tersedot untuk penyelenggaraan pilkada langsung, dari logistik, pengamanan, hingga sengketa hasil, sebenarnya bisa dialihkan untuk kebutuhan publik yang lebih nyata. Dengan anggaran sebesar itu, kita bisa menyelesaikan ruas jalan tol, membangun jembatan penghubung antarwilayah, atau mendirikan gedung-gedung sekolah rakyat yang selama ini hanya hadir dalam janji kampanye.

Demokrasi tidak kehilangan maknanya hanya karena mekanisme pemilihan diubah. Yang justru perlu kita pastikan adalah apakah sistem yang dipilih mampu menghadirkan pemimpin yang kompeten, akuntabel, dan bekerja untuk kepentingan publik, bukan sekadar menang dalam kontestasi yang mahal dan melelahkan.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti memuja prosedur, dan mulai jujur menilai hasil.

“Democracy is a method, not an end,” kata Joseph Alois Schumpeter (1883–1950). Menurut ekonom dan pemikir politik besar abad ke-20 asal Austria itu, demokrasi pada dasarnya hanyalah cara, bukan tujuan itu sendiri. Ia adalah instrumen untuk memilih kepemimpinan, bukan jaminan otomatis atas kualitas hasil.

Karena itu, ketika sebuah mekanisme pemilihan menghabiskan biaya besar, melahirkan konflik berkepanjangan, dan gagal menghadirkan kepemimpinan yang lebih baik, kita patut bertanya dengan jujur: apakah kita sedang memperkuat demokrasi, atau sekadar mempertahankan sebuah ritual?

Jika demokrasi tidak lagi dinilai dari hasil yang benar-benar dirasakan rakyat, melainkan hanya dari prosedur yang dirayakan oleh elite, maka perubahan mekanisme pemilihan bukanlah pengkhianatan terhadap demokrasi. Justru sebaliknya, ia bisa dibaca sebagai upaya menyelamatkan akal sehat dalam bernegara.*


 Editor : Zulmiron

[Ikuti HarianTimes.com Melalui Sosial Media]


HarianTimes.com

Berita Lainnya

  • +

Persiapan ARMUZNA, Petugas Kesehatan Kloter BTH 04 Intensif Periksa Jamaah

437 Jemaah Riau BTH 09 Menuju Madinah, Defizon: Ddampingi 2 PHD dan 4 Petugas Kloter

Umumkam Pemenang Lomba Menulis Opini, Syahrul Aidi Serap Aspirasi 5 Asosiasi Media dan Wartawan Riau

Kanwil Kemenkum Riau Dorong Inovasi Digital Hukum

Pasca Ops Ketupat 2026, Polda Riau Intensifkan KRYD

Redefinisi Fakir dan Miskin: Memberi 'Ikan' atau 'Kail'?

Persiapan ARMUZNA, Petugas Kesehatan Kloter BTH 04 Intensif Periksa Jamaah

437 Jemaah Riau BTH 09 Menuju Madinah, Defizon: Ddampingi 2 PHD dan 4 Petugas Kloter

Umumkam Pemenang Lomba Menulis Opini, Syahrul Aidi Serap Aspirasi 5 Asosiasi Media dan Wartawan Riau

Kanwil Kemenkum Riau Dorong Inovasi Digital Hukum

Pasca Ops Ketupat 2026, Polda Riau Intensifkan KRYD

Redefinisi Fakir dan Miskin: Memberi 'Ikan' atau 'Kail'?



Tulis Komentar



HarianTimes TV +

Pipa Minyak Blok Rokan di Km 16 Balam, Rohil Bocor, Minyak Mentah Membasahi Hampir Sebagian Badan Jalan

24 Juli 2024
Harlindup, Aktivis Lingkungan Kunni Marohanti Turun ke Jalan Kampanyekan Keadilan Ekologis
05 Juni 2023
Rakernas Berakhir, SMSI Minta Presiden Joko Widodo Tidak Menandatangani Rancangan Perpres Publisher Right
08 Maret 2023
TERKINI +
Wujud Peduli Lingkungan, Siswa MAN 5 Kampar Ubah Minyak Jelantah Jadi Biodiesel
25 Mei 2026
Dukung Pembelajaran Lebih Nyaman, MTsN 4 Kampar Segera Direvitalisasi
25 Mei 2026
IM3 Pasti Simpel Bikin Pelanggan Sumatera Pulang Bawa Motor Listrik
24 Mei 2026
75 Kali Aksi Donor Sejak 2005, KDD Riau Komplek Himpun 35.515 Kantong Darah
23 Mei 2026
Layanan Sempat Terganggu Akibat Listrik Padam, Indosat Sumatera Pastikan Jaringan Kembali Normal
23 Mei 2026
Demi Lindungi WNI, Imigrasi Pekanbaru Tunda Keberangkatan 6 Jemaah Haji Nonprosedural
22 Mei 2026
Hadapi Ancaman Digital yang Kian Kompleks, Indosat Business Luncurkan whitepaper
21 Mei 2026
Untuk Mencapai Prestasi Produksi Regional 1 Sumatera, IPA Convex 2026: PHR Paparkan Keunggulan Operasi dan Inovasi
21 Mei 2026
Melalui Kolaborasi Informasi dan Pengawasan Digital, SMSI dan ABPEDNAS Sepakat Kawal Program Jaga Desa dan Jaga MBG
21 Mei 2026
Cuaca di Makkah Semakin Panas, Jemaah Haji Diimbau Kurangi Aktivitas di Luar Hotel Jelang ARMUZNA
20 Mei 2026
TERPOPULER +
  • 1 Aksi “Jemput Bola”, Petugas Medis Pantau Jamaah Lansia dan Risti ke RS King Abdul Aziz
  • 2 Hadapi Tantangan dengan Kolaborasi, PHR Percepat Pemulihan Tanah Terkontaminasi Minyak Bumi
  • 3 Persiapan Armuzna Makin Dekat! Musyawarah Ketua Kloter Tentukan Tenda Arafah Jemaah Embarkasi Batam
  • 4 Suhu Makkah Tembus 47 Derajat! Jemaah Haji BTH 09 dan 10 Dibekali "Jurus" Sabar dan Sehat
  • 5 Pastikan Kesiapan Pelayanan ke Jemaah Berjalan Optimal, Petugas Kloter BTH 12 Rakor Bersama Karu dan Karom
  • 6 Israel Cegat Misi Kemanusiaan ke Gaza, PWI Pusat Kecam Penahanan Jurnalis Indonesia
  • 7 KWQ Serahkan Mushaf Al-Qur’an Baru ke Santri PP Al-Ikhwan Pekanbaru
  • 8 Persiapan ARMUZNA, Petugas Kesehatan Kloter BTH 04 Intensif Periksa Jamaah
  • 9 3.840 Jemaah dan Petugas Percayakan Pembayaran DAM ke Addahi
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
HarianTimes.com ©2018 | All Right Reserved