• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Nasional
  • Riau
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Sportivitas
  • Sosialita
  • Wisata
  • More
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Advertorial
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • Indeks
PILIHAN +
Suara Qurani Rizki Arya Dinata dari Meranti Tembus ke Final MTQ Nasional 2026
Dibaca : 190 Kali
Siswa Kelas VI MI Assidiqiyah Siak Lolos ke Final Cabang Tartil Al-Qur’an Putra MTQ Nasional 2026
Dibaca : 190 Kali
Lindungi Anak di Ruang Digital, Kemenag Atur Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan Keagamaan
Dibaca : 234 Kali
Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Pemahaman Pelindungan Rahasia Dagang
Dibaca : 235 Kali
Mediasi Berujung Damai, Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Pelindungan IG Kopi Liberika Meranti
Dibaca : 237 Kali

  • Home
  • Opini

Subsidi dan Teknologi, Kunci Menjaga Stabilitas Pangan di Tengah Mahalnya Biaya Input Pertanian

Zulmiron
Kamis, 30 Oktober 2025 17:59:43 WIB
Cetak
Heriyanto, Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang dan Dosen Fakultas Pertanian Universitas islam Riau

Oleh : Heriyanto, Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang dan Dosen Fakultas Pertanian Universitas islam Riau

STABILITAS pangan lokal, khususnya komoditas sayuran di Provinsi Riau kini menghadapi tantangan serius.

Biaya input pertanian yang terus melambung telah menjepit petani, membuat usaha tani sayuran menjadi tidak menguntungkan dan berisiko mengancam keberlanjutan produksi.

Menjawab tantangan krusial ini, akademisi dari Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau (UIR) menyoroti dua solusi strategis: intervensi subsidi yang tepat sasaran dan adopsi teknologi pertanian modern.

Temuan ini dipaparkan dalam sebuah kajian ilmiah yang disampaikan saat Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Kelompok Wanita Tani (KWT) Pelita Hati, Pekanbaru.

Data kajian tersebut menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Ditemukan bahwa hampir seluruh, atau 99%, usahatani sayuran di Riau tidak efisien secara alokatif (harga). Inefisiensi ini disebabkan oleh rasio harga input yang dibayar petani.seperti pupuk, benih, dan pestisida jauh lebih besar daripada harga jual (output) yang mereka terima di pasar.

"Petani yang belum efisien secara alokatif disebabkan oleh rasio harga input yang dibayarkan petani lebih besar dari harga output yang mereka terima," tulis paparan tersebut.

Selain masalah harga, 85% petani sayuran juga ditemukan tidak efisien secara teknis. Artinya, penggunaan faktor produksi seperti lahan, pupuk, dan tenaga kerja belum sesuai dan belum mampu menghasilkan produksi yang optimal.

Dampaknya sangat serius. Pendapatan dari usahatani sayuran dirasa lebih kecil dibandingkan sektor lain seperti perkebunan. Hal ini memicu penurunan luas panen sayuran akibat banyaknya alih fungsi lahan menjadi areal perkebunan yang dianggap lebih menguntungkan. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berdampak langsung pada pasokan dan konsumsi masyarakat.

Subsidi dan Teknologi Sebagai Solusi

Menghadapi mahalnya harga sarana produksi (saprodi), merekomendasikan intervensi kebijakan yang konkret.

Pertama, "memberikan subsidi terhadap faktor produksi terutama benih, pupuk dan pestisida". Subsidi ini dinilai krusial untuk menekan biaya produksi yang tinggi akibat harga saprodi yang mahal. Dengan input yang lebih terjangkau, diharapkan petani dapat mengoptimalkan penggunaan faktor produksi sehingga usahatani menjadi efisien secara teknis dan produksi meningkat.

Kedua, perlunya "dukungan teknologi". Mengingat karakteristik lahan di Riau yang didominasi tanah organosol (gambut) dan podsolik merah kuning, penerapan teknologi modern menjadi kunci. Kajian ini merekomendasikan inovasi seperti sistem pengelolaan tanaman hidroponik, irigasi tetes, vertigasi, dan sistem pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) yang efektif.

Heriyanto menyimpulkan, pencapaian efisiensi teknis dan alokatif adalah syarat mutlak. Jika kedua efisiensi ini tercapai, maka efisiensi ekonomi akan tercapai dengan sendirinya, yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan petani dan memperkuat ketahanan pangan daerah.
(*)


 Editor : Zulmiron

[Ikuti HarianTimes.com Melalui Sosial Media]


HarianTimes.com

Berita Lainnya

  • +

Kabut Asap Bukan Bencana Alam, Ini Kejahatan Lingkungan Tahunan Berulang

Waspada Killing Ground Terhadap Presiden Prabowo sebagai Sang Presiden

SF Hariyanto Jadi Gubernur Pertama di Indonesia Raih IPU

Ketika Pemerintah Menjadi Milik Pemenang

Kanwil Kemenkum Riau Tingkatkan Manajemen ASN

Kakanwil Kemenkum Riau Rudy Hendra Pakpahan Dukung Penyiapan Fast-Track Layanan Apostille

Kabut Asap Bukan Bencana Alam, Ini Kejahatan Lingkungan Tahunan Berulang

Waspada Killing Ground Terhadap Presiden Prabowo sebagai Sang Presiden

SF Hariyanto Jadi Gubernur Pertama di Indonesia Raih IPU

Ketika Pemerintah Menjadi Milik Pemenang

Kanwil Kemenkum Riau Tingkatkan Manajemen ASN

Kakanwil Kemenkum Riau Rudy Hendra Pakpahan Dukung Penyiapan Fast-Track Layanan Apostille



Tulis Komentar



HarianTimes TV +

Pipa Minyak Blok Rokan di Km 16 Balam, Rohil Bocor, Minyak Mentah Membasahi Hampir Sebagian Badan Jalan

24 Juli 2024
Harlindup, Aktivis Lingkungan Kunni Marohanti Turun ke Jalan Kampanyekan Keadilan Ekologis
05 Juni 2023
Rakernas Berakhir, SMSI Minta Presiden Joko Widodo Tidak Menandatangani Rancangan Perpres Publisher Right
08 Maret 2023
TERKINI +
Suara Qurani Rizki Arya Dinata dari Meranti Tembus ke Final MTQ Nasional 2026
19 September 2026
Siswa Kelas VI MI Assidiqiyah Siak Lolos ke Final Cabang Tartil Al-Qur’an Putra MTQ Nasional 2026
19 September 2026
Lindungi Anak di Ruang Digital, Kemenag Atur Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan Keagamaan
18 September 2026
Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Pemahaman Pelindungan Rahasia Dagang
18 September 2026
Mediasi Berujung Damai, Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Pelindungan IG Kopi Liberika Meranti
18 September 2026
Kanwil Kemenkum Riau Hadiri Pelantikan 107 Advokat PERADI Pekanbaru
18 September 2026
Kanwil Kemenkum Riau Harmonisasi Tiga Rancangan Peraturan Kabupaten Rohil
18 September 2026
Lubuk Larangan Garuda Mas Manggopoh Jadi Destinasi Wisata Alam dan Edukasi
18 September 2026
Kanwil Kemenkum Riau Ikuti Analisis Evaluasi Dampak Kebijakan Pemeriksaan Majelis Pengawas Notaris
17 September 2026
Kakanwil Kemenkum Riau Berikan Masukan Perubahan Permenkum Nomor 11 Tahun 2026
17 September 2026
TERPOPULER +
  • 1 Perkenalkan Diri ke PWI, Fikri Fardhian: Hubungan PHR dengan Insan Pers Harus Terjalin Seperti Saudara
  • 2 UIR Bersama Komisi X DPR RI dan Kemdiktisaintek Gelar Workshop Pemanfaatan AI dalam Penelitian dan Pembelajaran
  • 3 Direktur PKH Kemenhut Apresiasi Kolaborasi Siak Tangani Karhutla
  • 4 Jajaran Kanwil Kemenkum Riau Ikuti Forum Pendalaman Materi Edisi ke-14
  • 5 Kabut Asap Bukan Bencana Alam, Ini Kejahatan Lingkungan Tahunan Berulang
  • 6 PT Arara Abadi dan IKPP Kolaborasi dengan TNI/Polri-Upika Padamkan Api di Lahan Masyarakat
  • 7 Assoc Prof Dr Dodi Sukma Dekan Terpilih Fahutsain Unilak
  • 8 Melalui Perseroan Perorangan, Kanwil Kemenkum Riau Dorong UMKM Dumai Naik Kelas
  • 9 Evaluasi IRH 2026, Kanwil Kemenkum Riau Dorong Reformasi Hukum Daerah yang Lebih Substantif dan Berdampak
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
HarianTimes.com ©2018 | All Right Reserved