PILIHAN
+
Kanwil Kemenkum Riau Dampingi Penyusunan Ranperda Tunjangan DPRD Siak
Dibaca : 151 Kali
Tekan Penumpukan Perkara, SMSI Dukung Program Mediasi MA
Dibaca : 141 Kali
FGD dan Workshop SMSI Riau, AI Bukan Menggantikan Pekerjaan Media
Dibaca : 156 Kali
Kanwil Kemenkum Riau Sosialisasikan Kepatuhan Hak Cipta Musik dan Lagu
Dibaca : 174 Kali
Seminar Integrasi Halal Science and Technology
Prof Irwandi: Bicara Halal kan Bicara Islam
Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi "Integrasi Halal Science and Technology" yang ditaja Universitas Abdurrrab, Rabu (12/12/2018).
Pekanbaru, Hariantimes.com -
Prof Dr H Irwandi Jaswir tampil dalam Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi "Integrasi Halal Science and Technology" yang ditaja Universitas Abdurrrab di Hotel Pangeran, Pekanbaru, Rabu (12/12/2018).
Selain Irwandi, juga tampil dua pakar lain yakni dr Fariz Nurwidya PhD (FKUI) dan Dr Syamsuddin Arif MA dari Universitas Darussalam, Jakarta. Mereka membahas industri halal yang belakangan makin berkembang dan kaitannya dengan perkembangan Islam.
Menurut Irwandi Jaswir yang sehari-hari Deputi Dekan INHART Internasional Islamic University Malaysia (IIUM) ini, industri halal saat ini mengelola sekitar tiga triliun dolar.
"Sayangnya kita kurang peduli dengan potensi itu. Kita lebih fokus kepada sertifikasi," ucap Prof Irwandi.
Padahal, kata putra asal Bukittinggi itu, seharusnya Indonesia lebih fokus kepada industri halal ini. Sebab, Indonesia merupakan negara muslim terbesar.
''Bicara halal kan bicara Islam,'' katanya.
Sehingga yang memanfaatkan industri halal ini lebih banyak negara non muslim seperti Brazil, Jepang dan Korea. Mereka tidak hanya melakukan riset halal tapi juga memproduksi produk halal.
Korea, misalnya, memproduksi sekitar 2000 produk kosmetik. Produk itu mereka pasarkan ke negara-negara Asia Tengara, termasuk Indonesia. Suatu kali, kata Irwandi, dia pernah tampil di depan 200 produsen kosmetik Korea yang bertemu 500 pemasaran kosmetik Indonesia.
"Dari sekarang kita harus mengembangkan industri halal. Tidak hanya produk halal, tapi juga pengembangan jasanya. Seperti pariwisata halal. Misalnya, hotel yang ramah terhadap muslim dan lain-lain. Untuk itu, perlu political will dari kita semua, terutama pemerintah dan stakeholder lainnya. Semua komponen harus dilibatkan dalam pengembangan halal. Harus ada ekosistem halal itu, sehingga terlibat untuk itu,'' ujarnya. (*/ron)
.jpeg)










Tulis Komentar