• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Nasional
  • Riau
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Sportivitas
  • Sosialita
  • Wisata
  • More
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Advertorial
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • Indeks
PILIHAN +
Lampung Resmi Jadi Tuan Rumah HPN dan Porwanas 2027
Dibaca : 159 Kali
Sosialisasi EMIS GTK IMP, Syamsurizal Tekankan Akurasi Data Madrasah di Siak
Dibaca : 170 Kali
Rapat TIMPORA Kabupaten Kampar 2026, Imigrasi Pekanbaru Perkuat Sinergi Pengawasan Orang Asing
Dibaca : 193 Kali
Akhiri Penantian 22 Tahun, Pemerintah dan DPR Setujui RUU PPRT Disahkan Jadi Undang-Undang
Dibaca : 227 Kali
Ikuti Policy Talks Nasional, Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Kapasitas Analis Kebijakan
Dibaca : 211 Kali

  • Home
  • Opini

Sang Penolong

Zulmiron
Ahad, 20 April 2025 20:14:04 WIB
Cetak

Oleh: Syaukani Al Karim (Sastrawan dan budayawan Riau dan Ketua Umum DPH LAMR Kabupaten Bengkalis)

NAMANYA bukan Tengku Kamariah, bukan pula Tengku Agung Sultanah Latifah. Dia bukan keturunan bangsawan,  hanya seorang perempuan jelata. 

Dia tumbuh dalam  keluarga yang terbilang “paria” secara ekonomi. Kondisi itu memacu dirinya untuk bergerak maju, dan berjuang memperbaiki keadaan. Meski bukan bangsawan, namun Dia sepertinya mewarisi semangat dua orang perempuan penting,  dalam sejarah kerajaan Siak Sri Inderapura itu.

Dari Tengku Kamariah, Dia sepertinya belajar, tentang bagaimana mencintai tanah yang memberikannya kehidupan. Belajar tentang mental seorang pejuang, dan keridhaan sorang isteri.  Kita tahu, Tengku Kamariah, bahu-membahu mendampingi suami dalam perang melawan kerajaan Johor, yang merupakan tanah kelahirannya, melawan ayah, abang, dan kakak sendiri, demi kecintaan kepada suami dan tanah Siak.

Baca Juga :
  • Nakhodai Hanura Riau, Arsadianto Rachman: Saya Berjanji akan Bekerja All Out
  • Dorong Reinterpretasi Pasal 34 UUD 1945, Syahrul Aidi Usulkan Redefinisi 'Fakir Miskin'
  • Simposium Nasional SMSI, Prof Taufiqurokhman: Pilkada Langsung Tetap Jadi Pilihan Utama Masyarakat

Dari Tengku Agung Sultanah Latifah, Dia sepertinya belajar tentang semangat kemajuan dan keinginan memperbaiki negeri. Apa yang telah dilakukan Tengku Agung Sultanah Latifah, dengan mendirikan Sultanah Latifah School, telah menginspirasi dan memberinya keyakinan, bahwa seorang perempuan, yang tak mustahil pula adalah dirinya, dapat membuat negeri Siak, menjadi negeri yang maju, kuat, dan penuh harapan.

Namanya bukan Tengku Kamariah, dan bukan pula Tengku Agung Sultanah Latifah. Di tengah segala keterbatasannya, Dia, terus membekali diri dengan ilmu, karena Dia percaya bahwa hanya dengan pengetahuan, segala sesuatu akan sampai pada tujuan.

Dia juga meningkatkan diri dengan menulis dan kelihaian literasi, karena Dia pastilah sangat paham dengan ungkapan “verba volant scripta manent”, atau mengetahui ungkapan Melayu yang menyebut bahwa “manusia mati meninggalkan nama”, atau telah memahami pandangan pilsuf Francis Bacon: Usia manusia pendek, tapi manusia dapat memperpanjangnya melalui karya. 

Namanya bukan Tengku Kamariah, dan bukan pula Tengku Agung Sultanah Latifah. Ketika Namanya mulai disebut dalam kontestasi kepemimpinan Siak, banyak yang memuji, dan tak sedikit pula yang mencibir. Dalam sebuah diskusi menjelang petang merembang di cafe “bandar gemintang” [star city], seorang sahabat mengatakan bahwa Dia belum waktunya untuk muncul, karena tembok politik masih terlalu kuat untuk bisa Dia robohkan. Jika Dia gagal, bisa berpengaruh pada karirnya di masa datang.

Kemunculannya dipandang sebagai melawan takdir. Aku tak sependapat dengan itu, karena semua tembok dapat dihancurkan, seperti halnya tembok Konstatinopel di Romawi Timur. Tak ada pula konsep melawan takdir, yang ada adalah bahwa setiap kita berjuang membuat kurva takdir masing-masing.

Namanya bukan Tengku Kamariah dan bukan pula Tengku Agung Sultanah Latifah. Dia menyimak dan menafsir keadaan. Membaca dirinya penuh seluruh, sambil berkelana dalam lorong kisah tentang eksistensi perempuan dalam perjalanan sejarah Siak.

Akhirnya Dia sampai pada sebuah pintu makrifat, bahwa kekuatan utama dari Tengku Kamariah, Tengku Agung Sultanah Latifah, dan juga dirinya, adalah keperempuanannya. Mereka bertiga adalah perempuan, dan perempuan berakar pada kata “empu”, yang bermakna kreator, pengasuh, pemelihara, dan pemulia kehidupan.

Sebagai perempuan dia paham, bahwa dia memiliki kekuatan yang penuh untuk menaklukkan kerasnya kehidupan. Perempuan memang ditakdirkan untuk mementahkan kemustahilan.

Ketika banyak orang meragukan kemampuannya bertarung dalam dunia yang dianggap sangat lelaki, agresif, kejam dan anomi, yaitu politik, Dia memutuskan untuk terus maju.

Dia sepertinya sangat sadar dengan kekuatan dan keranggiannya sendiri. Mungkin dalam hati kecilnya berkata: “Jika kami dapat menyimpan lelaki dalam  rahim dan menghidupinya selama sembilan bulan sepuluh hari, maka kami dapat pula mengalahkannya dalam sebuah pertempuran.”

Saya ingat sebuah kalimat dari bhiksu sastra Hasan Junus, dalam karyanya Burung Tiung Seri Gading, tentang kehebatan perempuan: “Rahasia perempuan gelap bagi lelaki, sebaliknya rahasia lelaki terang bagi perempuan, dan di mata seorang lelaki yang paling garang sekalipun, membayang wajah seorang perempuan”. Dia  sepertinya menyadari itu, bahwa perempuan memenuhi segala unsur “asnaf” politik untuk kuat, untuk bertarung, untuk menang, untuk dirindui dan dicintai.

Namanya bukan Tengku Kamariah, dan bukan pula Tengku Agung Sultanah Latifah. Tapi sebagai perempuan, Dia, sepertinya telah memahami dengan baik, makna  dari kata Cherchez la Femme.  Kalimat Alexandre Dumas [1802-1870], dalam Mohicans of Paris itu, pastilah sudah diselaminya dalam-dalam. Dia, barangkali juga sudah  lama mafhum bagaimana kekuatan seorang perempuan, seperti perempuan  Anne Boleyn [1501-1536] yang mengubah peta kekristenan Eropa dan tradisi monarkhi  Kerajaan Inggris.

Dia juga sadar, bagaimana dengan kecerdasannya, Cleopatra, berhasil menggetarkan Romawi dan memecah-belah triumvirat, atau tentang perempuan Aisyah yang memimpin segugusan lelaki, dalam Ma’rakat al-Jamal [perang unta]. Dia pasti telah mempelajari itu.

Namanya bukan Tengku Kamariah, dan bukan pula Tengku Agung Sultanah Latifah. Namun Dia, memutuskan maju bertarung. Dia maju bukan dengan tempik sorak, melainkan dengan ketajaman senyum, dengan gempita empati, riuh kesahajaan, dan ketinggian akalbudi.

Berbekal semangat, kelembutan, dan doa ibunya, dia mengayak Siak, meninggikan harapan di pucuk-pucuk kemegahan istana, menghilirkan cita-citanya pada arus Sungai Jantan, menjawab setiap hati yang bertanya, dan mengaransemen setiap denting rindu rakyat, menjadi melodi baru yang dapat mencabik-cabik mimpi. Dia berhasil mengokah kesadaran, bahwa masa depan Siak, akan tersulam dengan menenun kembali benang-benang harapan yang terkoyak.

Namanya bukan Tengku Kamariah, dan bukan pula Tengku Agung Sultanah Latifah. Dia, akhirnya memenangkan pertempuran. Ketika orang-orang coba menafikannya, Dia menghadapinya dengan cara seorang perempuan yang ibu: menenangkan, meneduhkan, dan menawarkan keyakinan. Kemenangan ada padanya, pada nilai, ketulusan, dan cara perjuangannya, bukan sekedar pada angka-angka di papan penjumlahan.

Namanya bukan Tengku Kamariah, dan bukan pula Tengku Agung Sultanah Latifah. Kini, Dia, menjadi pemimpin negeri istana itu. Sudah saatnya rakyat Siak bergandeng-tangan dengannya, menjemput Siak baru yang gagah namun tak jumawa, dengan membawa tepak cinta. Rakyat Siak harus menjadi sokong yang tidak membawa rebah. Selebihnya mari  berdoa agar Dia dapat menjadi menjadi penolong dalam kehidupan masyarakat dan bagi kemuliaan negeri. 

Meski dia bukan Tengku Kamariah, dan bukan pula Tengku Agung Sultanah Latifah, namun dia, berpotensi menjadi pelayan dan penolong yang baik, karena sejatinya dia bernama Afni: Seorang Penolong. Sebuah nama yang juga dipakai oleh Muhammad Al Fatih [Avni] ketika meninggikan kejayaan Turki Usmani. Insya Allah, bersama dukungan masyarakat Siak, Dia, akan dapat menjadi Afni yang ‘menjadi”. Wallahu a’lam bissawab.(*)
 


 Editor : Zulmiron

[Ikuti HarianTimes.com Melalui Sosial Media]


HarianTimes.com

Berita Lainnya

  • +

Kanwil Kemenkum Riau Dorong Inovasi Digital Hukum

Pasca Ops Ketupat 2026, Polda Riau Intensifkan KRYD

Definisi Fakir dan Miskin Masih Rancu, Syahrul Aidi Usulkan Pasal 34 Ayat 1 UUD 1945 Perlu Direinterpretasi

Cegah Gratifikasi di Lingkungan Birokrasi, KPK Ingatkan Pejabat Jaga Integritas.

Penguatan Lembaga Komisi Informasi Menuju Budaya Kerja Badan Publik yang Transparan

Hari Pers Nasional sebagai Medan Uji Kesehatan Pers

Kanwil Kemenkum Riau Dorong Inovasi Digital Hukum

Pasca Ops Ketupat 2026, Polda Riau Intensifkan KRYD

Definisi Fakir dan Miskin Masih Rancu, Syahrul Aidi Usulkan Pasal 34 Ayat 1 UUD 1945 Perlu Direinterpretasi

Cegah Gratifikasi di Lingkungan Birokrasi, KPK Ingatkan Pejabat Jaga Integritas.

Penguatan Lembaga Komisi Informasi Menuju Budaya Kerja Badan Publik yang Transparan

Hari Pers Nasional sebagai Medan Uji Kesehatan Pers



Tulis Komentar



HarianTimes TV +

Pipa Minyak Blok Rokan di Km 16 Balam, Rohil Bocor, Minyak Mentah Membasahi Hampir Sebagian Badan Jalan

24 Juli 2024
Harlindup, Aktivis Lingkungan Kunni Marohanti Turun ke Jalan Kampanyekan Keadilan Ekologis
05 Juni 2023
Rakernas Berakhir, SMSI Minta Presiden Joko Widodo Tidak Menandatangani Rancangan Perpres Publisher Right
08 Maret 2023
TERKINI +
Lampung Resmi Jadi Tuan Rumah HPN dan Porwanas 2027
22 April 2026
Sosialisasi EMIS GTK IMP, Syamsurizal Tekankan Akurasi Data Madrasah di Siak
22 April 2026
Rapat TIMPORA Kabupaten Kampar 2026, Imigrasi Pekanbaru Perkuat Sinergi Pengawasan Orang Asing
22 April 2026
Akhiri Penantian 22 Tahun, Pemerintah dan DPR Setujui RUU PPRT Disahkan Jadi Undang-Undang
21 April 2026
Ikuti Policy Talks Nasional, Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Kapasitas Analis Kebijakan
21 April 2026
Kanwil Kemenkum Riau Dorong Inovasi Digital Hukum
21 April 2026
Kemenag Tegaskan Tidak Ada Kebijakan Uang Kas Masjid Dikelola Pemerintah
21 April 2026
Rahul Nahkodai Karang Taruna Riau, Hendrik Firnanda: Momentum Kebangkitan Pemuda
21 April 2026
Pemerintah Serahkan DIM RUU PPRT ke DPR
20 April 2026
Halal bi Halal PGRI Riau, Adolf Bastian: Mari Kita Perbarui Niat
20 April 2026
TERPOPULER +
  • 1 Bupati Agam Berharap IKLA Dapat Terus Jadi Benteng Pelestarian Adat dan Budaya Minangkabau
  • 2 Tambua dan Silat Gelombang Semarakkan Milad Perak IKLA Riau
  • 3 Sekjend PWI Pusat Zulmansyah Sekedang Wafat, Achmad Munir: Kami Kehilangan Kader Terbaik
  • 4 Sekjend PWI Pusat Zulmansyah Sekedang Wafat, Sumber Rajasa Ginting: Mohon Dimaafkan Segala Kesalahan Almarhum
  • 5 Menuju Pasar Ekspor, Pucuk Rebung-PHR Sukses Berkolaborasi Berdayakan UMKM Riau
  • 6 Pemkab Siak Dorong Petani Jemput Program PSR
  • 7 Tanamkan Pendidikan Penuh Kasih, Guru RA Didorong Terapkan KBC
  • 8 Jawaban Pemerintah Atas LKPJ 2025: Wabup Siak Tekankan Efisiensi Anggaran dan Sinergi Program Nasional
  • 9 Wujudkan Lingkungan Kerja Bersih dan Profesional, Kemenag Riau Dorong Implementasi GEMAH ASRI di KUA
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
HarianTimes.com ©2018 | All Right Reserved