• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Nasional
  • Riau
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Sportivitas
  • Sosialita
  • Wisata
  • More
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Advertorial
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • Indeks
PILIHAN +
Akselerasi Kinerja dan Konsolidasi Program Strategis, Kakanwil Pimpin Rapat Kinerja Kemenkum Riau
Dibaca : 200 Kali
Kanwil Kemenkum Riau Bahas Usulan Perubahan Perjanjian Kinerja untuk Perkuat Akuntabilitas
Dibaca : 205 Kali
Perkuat Sinergi Organisasi, Kemenkum Riau Ikuti Pelantikan Pimti Madya Secara Virtual
Dibaca : 199 Kali
IKAN PATIN Permudah Pengambilan Paspor, Pemohon Bisa Cek Status Secara Online
Dibaca : 227 Kali
SPS Riau Pelajari Strategi Pengembangan Media ke Batam News
Dibaca : 303 Kali

  • Home
  • Opini

Ketika Siber Menggusur Budaya Lama Bermedia

Zulmiron
Jumat, 25 Agustus 2023 10:19:34 WIB
Cetak

Catatan: Mohammad Nasir, Sekretaris Jenderal Serikat Media Siber Indonesia. Disampaikan dalam Indonesia 4.0 Conference and Expo yang diselenggarakan PT Naganaya Indonesia di Grand Ballroom Jakarta International Expo, 24 Agustus 2023.


ERA digital masuk Indonesia bagaikan badai. Awalnya berupa angin lembut yang terasa nyaman.  Kemudian tekanan angin itu bertambah kuat,  semakin kuat dan membesar. Dahsyat dan mengobrak-abrik segala yang sudah ada.

Sebagai praktisi media, wartawan media cetak, semula kami mendambakan hadirnya teknologi digital yang bisa untuk mengirim naskah berita ke redaksi tempat kami bekerja, Harian Kompas.

Awal tahun 1990-an kami diperkenalkan perangkat pengiriman berita lewat komputer/laptop yang dihubungkan melalui jaringan telepon. Namanya crosstalk.

Pengiriman dijamin tidak sampai apabila pengiriman belum sampai 100 persen yang ditunjukkan dengan munculnya angka yang disertai suara “krook, kroook”. Begitu sampai 100 persen lega. Pasti masuk.  Itulah lah pertama pengenalan alat pengiriman berita lewat komputer.

Sebelumnya kami menggunakan mesin teleks, dan faksimile yang kami pinjam dari kantor Telekom terdekat di mana kami berada: di daerah, luar kota, atau luar negeri. Tentunya kami membayar.

Ketika kami meliput konflik di Bosnia Herzegovina, tahun 1995, masuk sebuah hotel yang dinding kamar dan lift sudah berlubang-lubang karena ditembus peluru, pertama yang kami dekati adalah kantor hotel atau business centre untuk bisa menggunakan faksimile untuk mengirim berita. Ketika mesin faksimile yang dibutuhkan sudah ada, barulah kami tenang.

Zaman sekarang beda. Yang dicari bukan faksimile, tetapi komputer yang terdapat jaringan internet. Kalaupun tidak ditemukan komputer yang berjaringan internet, smartphone di tangan pun bisa berfungsi untuk mengirim berita dengan jaringan internet yang ada di dalamnya.

Smartphone berjaringan internet inilah yang kami bayangkan untuk bisa mengirim berita dari mana saja, dari hutan, dari pegunungan sampai rawa-rawa.

Saat itu saking kepinginnya mempunyai smartphone berteknologi  canggih seperti itu, kami membeli setiap smartphone yang di dalamnya terdapat perangkat internet. Tujuannya untuk mengirim berita dari luar kantor.

Smartphone yang kami coba mulai dari merek Siemens, Nokia, Samsung, dan lain-lainnya. Namun ketika itu tahun 1990-an belum ada smartphone canggih yang bisa mengirim berita secepat smartphone sekarang ini. Dulu smartphone bisa digunakan mengakses internet setelah dioperasikan dengan beberapa langkah. Hasilnya tidak semulus sekarang.

Sekarang smartphone android bisa digunakan mengirim teks dan gambar hanya tiga langkah. Mengarahkan cursor ke pengiriman, pilih yang akan dituju, lalu tekan kirim (send). Betapa mudahnya. Ini surga bagi wartawan yang mengirim naskah berita dari luar kantor.

Namun kemudahan dan kenyamanan itu berujung duka. Diiringi “badai” internet. Semua serba internet.

Pertumbuhan media berbasis internet, yang disebut media online atau media siber tumbuh di mana. Kebiasaan membaca lewat media cetak tergerus. Belanja iklan sebagian beralih ke media digital.

Media cetak kehilangan sebagian besar pemasukan iklan. Satu per satu media cetak tutup. Seluruh dunia media cetak, seperti koran, tabloid, dan majalah banyak yang gulung tikar dan tutup.

Era digital menjadi membudaya, menggusur tradisi bermedia lama. Cara mendistribusikan media berbeda, tradisi newsroom berubah, karena setiap menit berita bisa disiarkan melalui media online.

Jurnalisme pun mulai berubah. Berita yang belum dikonfirmasi kebenarannya boleh tayang, sambil menunggu dilengkapi hasil konfirmasi. Semua dilakukan demi kecepatan.

Terjadi Disrupsi

Saat itu kemudian terjadi disrupsi teknologi dan sosial di mana-mana. Masyarakat beralih ke digital dalam mencari informasi. Perusahaan media pers digital banyak tumbuh di mana-mana. Sementara media pers cetak banyak yang tutup untuk selamanya. Sebagian di antaranya bermigrasi ke online.

Ketika terjadi perubahan pekerjaan media dengan semangat kebaruannya di perusahaan media, dapat diperkirakan perguruan tinggi yang mempunyai jurusan jurnalistik ikut terkena disrupsi. Lulusannya tidak bisa memenuhi tuntutan pekerjaan, karena apa yang diajarkan kepada mahasiswa berbeda dengan tuntutan lapangan kerja.

Praktis perguruan tinggi harus “belanja” ilmu jurnalisme baru, melakukan penelitian untuk memperoleh pengetahuan terbaru. Ada perguruan tinggi yang kemudian merekrut dosen dari kalangan praktisi media online, untuk memenuhi kebutuhan link and match dengan dunia kerja.

Sebut saja salah satu perguruan tinggi di Jakarta, Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama) yang merekrut praktisi dari media siber untuk menjadi dosen di fakultas komunikasinya.

Disrupsi yang lebih tampak nyata terjadi di media pers cetak. Situasi  bisnis perusahaan pers konvensional melemah, sebagian wartawan dipotong gaji mereka, ada yang kemudian dirumahkan, dan bahkan diberhentikan secara permanen.

Keadaan krisis media konvensional seperti itu terjadi di Indonesia dan hampir seluruh belahan dunia. Para wartawan profesional yang menjadi korban disrupsi teknologi dan perubahan sosial, lalu membanting setir beradaptasi dengan zaman baru era digital ini.

Mereka merintis mendirikan perusahaan pers online atau yang disebut perusahaan rintisan (startup). “Mahasiswa-mahasiswa kami menemukan banyak startup (perusahaan pers siber- Red.) di seluruh dunia— mulai dari Uganda ke Colombia, dari Kuba ke Nepal, dari Canada ke Italy, dari Australia ke Amerika Serikat— Kami membutuhkan dana bantuan lebih banyak,” demikian kutipan dari buku Beyond Journalism (2020), ditulis dua dosen peneliti jurnalisme dan studi media, Mark Deuze (Universitas Amsterdam) dan Tamara Witschge (Universitas Groningen).

Bantuan dana yang dimaksud Tamara berasal dari Universitas Groningen tempat ia mengajar. Bantuan antara lain berupa dana, pendidikan dan beasiswa, serta pemikiran/arahan riset internasional tentang jurnalisme dan media.

Kedua peneliti itu pergi ke pusat kota Nieuwsatelier di Amsterdam, keduanya masuk ke lantai dasar gedung tua yang kosong. Di gedung tua tidak berpenghuni itu ada lima startup perusahaan media siber yang berbeda, dan sebuah asosiasi jaringan kerja wartawan independen.

Situasi itu hampir sama dengan perusahaan pers kawan-kawan di kota Tangerang yang menempati gedung tua Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang, di Jalan Daan Mogot yang tidak digunakan lagi. 

Di satu lantai atas pojok depan di gedung yang tidak diurus itu juga digunakan oleh sejumlah perusahaan pers siber.

Banyak wartawan di daerah lain di Indonesia turut beradaptasi dengan dunia baru, merintis menjadi pengusaha media online. Diharapkan perusahaan media siber tidak hanya berhenti pada adaptasi, melainkan turut berinovasi di tengah zaman digital, era 4.0. (*)


 Editor : Zulmiron

[Ikuti HarianTimes.com Melalui Sosial Media]


HarianTimes.com

Berita Lainnya

  • +

Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Sinergi dengan Pemko dan DPRD Dumai

Kabut Asap Bukan Bencana Alam, Ini Kejahatan Lingkungan Tahunan Berulang

Waspada Killing Ground Terhadap Presiden Prabowo sebagai Sang Presiden

SF Hariyanto Jadi Gubernur Pertama di Indonesia Raih IPU

Ketika Pemerintah Menjadi Milik Pemenang

Kanwil Kemenkum Riau Tingkatkan Manajemen ASN

Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Sinergi dengan Pemko dan DPRD Dumai

Kabut Asap Bukan Bencana Alam, Ini Kejahatan Lingkungan Tahunan Berulang

Waspada Killing Ground Terhadap Presiden Prabowo sebagai Sang Presiden

SF Hariyanto Jadi Gubernur Pertama di Indonesia Raih IPU

Ketika Pemerintah Menjadi Milik Pemenang

Kanwil Kemenkum Riau Tingkatkan Manajemen ASN



Tulis Komentar



HarianTimes TV +

Pipa Minyak Blok Rokan di Km 16 Balam, Rohil Bocor, Minyak Mentah Membasahi Hampir Sebagian Badan Jalan

24 Juli 2024
Harlindup, Aktivis Lingkungan Kunni Marohanti Turun ke Jalan Kampanyekan Keadilan Ekologis
05 Juni 2023
Rakernas Berakhir, SMSI Minta Presiden Joko Widodo Tidak Menandatangani Rancangan Perpres Publisher Right
08 Maret 2023
TERKINI +
Akselerasi Kinerja dan Konsolidasi Program Strategis, Kakanwil Pimpin Rapat Kinerja Kemenkum Riau
12 Oktober 2026
Kanwil Kemenkum Riau Bahas Usulan Perubahan Perjanjian Kinerja untuk Perkuat Akuntabilitas
12 Oktober 2026
Perkuat Sinergi Organisasi, Kemenkum Riau Ikuti Pelantikan Pimti Madya Secara Virtual
12 Oktober 2026
IKAN PATIN Permudah Pengambilan Paspor, Pemohon Bisa Cek Status Secara Online
12 Oktober 2026
SPS Riau Pelajari Strategi Pengembangan Media ke Batam News
11 Oktober 2026
Pemkab Siak Terima Alokasi Anggaran Dukungan Verval untuk Penguatan KDKMP
10 Oktober 2026
Kanwil Kemenkum Riau Ikuti Evaluasi Dampak Kebijakan Indikasi Geografis di Sumbar
09 Oktober 2026
Keliling Empat Kampung, Wabup Siak Syamsurizal Serahkan Bantuan ke Lansia dan Disabilitas di Sungai Apit
09 Oktober 2026
HUT ke-27 Kabupaten Siak, Diskominfo Salurkan Sembako ke Lansia dan Warga Membutuhkan
09 Oktober 2026
Jaga Identitas dan Warisan Budaya Melayu, Disdik Siak Dorong Pelajar Mainkan Kompang dari Sekolah
08 Oktober 2026
TERPOPULER +
  • 1 Kanwil Kemenkum Riau Dorong Pembenahan Regulasi Daerah
  • 2 Kanwil Kemenkum Riau Finalisasi Rekomendasi SBT
  • 3 UIR Perkuat Posisi sebagai Salah Satu Perguruan Tinggi Terdepan di Indonesia
  • 4 UIR Resmi Kantongi Izin Pembukaan Prodi Kedokteran Gigi dan Pendidikan Profesi Kedokteran Gigi
  • 5 Siswa MAN 1 Pekanbaru Raih Bronze Medal di Olimpiade Astronomi Internasional IOAA Hanoi
  • 6 Johny S Mundung: 12.000 Warga Dilaporkan Mulai Terserang ISPA
  • 7 KKP Lepas Papan Segel Tanda Penghentian Sementara Kegiatan PT MNS
  • 8 UIR Jalani Proses Akreditasi Awal Lembaga Pemeriksa Halal
  • 9 Kanwil Kemenkum Riau Ikuti Analisis Evaluasi Kebijakan Standar Layanan Bantuan Hukum
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
HarianTimes.com ©2018 | All Right Reserved