• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Nasional
  • Riau
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Sportivitas
  • Sosialita
  • Wisata
  • More
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Advertorial
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • Indeks
PILIHAN +
Menag: Integrasi Antara MTQ dan Pacu Jalur Dapat Jadi Model Best Practice
Dibaca : 129 Kali
Perjanjian Kerja Bersama Harus Dikawal, Menaker: Tantangan Ada pada Implementasi
Dibaca : 341 Kali
Sukses Gelar Pengabdian Internasional di Malaysia, UIR Perkuat Aqidah dan Literasi Digital Mahasiswa Orang Asli
Dibaca : 309 Kali
Aklamasi, Purnomo Yusgiantoro Nahkodai DPP IKAL Lemhannas
Dibaca : 375 Kali
Polwan Polres Siak Gelar Trauma Healing bagi Siswa SMP Sains Tahfizh Siak
Dibaca : 443 Kali

  • Home
  • Opini

Bengkalis Negeri Jelapang Padi

Zulmiron
Ahad, 30 Juli 2023 12:06:59 WIB
Cetak

Oleh ; Dr H Bagus Santoso/Wakil Bupati Bengkalis
 
USIA lima abad lebih, tepatnya 511 tahun, merupakan perjalanan yang panjang, bagi Bengkalis. Negeri pernah jaya menjadi kota perdagangan atau bandar, sehingga Johor pun tertarik menjadikannya sebagai bagian dari wilayah kota perdagangannya.

Bandar Bengkalis menjadi perhatian Portugis, sehingga mereka pun menyerang kota Bengkalis yang posisinya di muara Sungai Bengkalis. Penyerangan Portugis ke Bandar Bengkalis inilah yang dijadikan titik poin awal mulanya Kota Bengkalis, pada Juli 1512.

Padahal jauh sebelum kejadian penyerangan, nama bandar Bengkalis sudah menjadi kota perdagangan, namun perlu penelusuran lebih jauh dengan meneliti naskah-naskah lokal tentang nama Bengkalis.

Sebelum dikuasasi Johor, Bengkalis sebagai wilayah kota pesisir, diperkirakan dikuasai Aceh, sebab Aceh di masa Sultan Iskandar Muda, mereka melakukan perluasan ke sepanjang pesisir timur Sumatera.

Selain itu di muara Sungai Bengkalis juga ditemukan koin emas, peninggalan kerajaan Aceh Darussalam, jika ini sebagai poin awal untuk dijadikan HUT Bengkalis, maka diperkirakan tahun 1400 an, artinya usia Bengkalis bisa enam abad.

Demikian catatan penelitian Dr. Jarir tentang Situs-situs Awal Peradaban di Pulau Bengkalis di sebuah jurnal.

Ada hal yang menarik dalam perjalanan Bengkalis dari masa ke masa, yakni Bengkalis merupakan “pelabuhan antara”; diperkirakana di zaman kuno dulunya, wilayah Bengkalis sebagai tempat dikumpulkannya produk pertanian seperti padi (Riza Pahlefi menyebut Bengkalis Negeri Jelapang Padi, tempat dikumpulkannya padi dari hulu Sungai Siak kemudian dibawa ke Johor dan Melaka) hulu Sungai Siak termasuk wilayah Tapung Kanan dan Tapung Kiri. Petapahan sebagai bandar dagang tempat dikumpulkannya emas untuk dibawa ke Johor, namun sebelum ke Johor, kapal-kapal dari Petapahan singgah ke Bengkalis.

Pilihan kata “Jelapang Padi” yang digunakan Riza Pahlefi menarik, artinya wilayah ini dinamis, bukan hanya dari sisi perekonomian tetapi juga politiknya.
Di masa Belanda, Bengkalis dijadikan ibu kota Sumatera Timur.

Sumatera Timur yang wilayahnya dari mulai Tanjungpura yang berbatasan dengan Aceh, Langkat, Deli (Medan), Lubuk Pakam, Serdang, Bedagai, Pagurawan, Siantar (Simalungun), Batubara, Tanjung Balai, Asahan, Rantauprapat, Kota Pinang, Kualu, Panai, Bagansiapi-api, Siak, Pekanbaru, Selatpanjang.

Wilayah Sumatera Timur ini sangat luas, dan ternyata Bengkalis sebagai ibu kotanya. Luar biasa, betapa hebatnya Bengkalis saat itu menjadi sentral Pesisir Timur Sumatera.

Di masa sebagai ibu kota residen Sumatera Timur inilah pembangunan kota Bengkalis, yang tadinya bandar dagang Bengkalis berada di muara Sungai Bengkalis, kemudian dipindahkan ke Kota Bengkalis saat ini.

Disebutkan Datuk Sofyan Said Ketua LAM Bengkalis Belanda membangun Kota Bengkalis, termasuk pembangunan kantor residen ( sekarang UPT Kehutanan) pelabuhan Bengkalis, bank, kejaksaan, penjara, kantor pos, klinik, Tangki Air dan lainnya.

Di masa kota residen inilah kapal-kapal besar, lintas samudera, singgah di Pelabuhan Bengkalis.

Mulai tahun 1840 an, tercatat kapal-kapal dari Loksumawe (Aceh), Pedir, Deli, Singapura, Muntok (Bangka), Batavia, singgah ke Bengkalis. Bengkalis sebagai ibu Kota Residen sumatera timur, tentunya menjadi kota penting.

Belakangan tahun 1880an, ibu kota Residen Sumatera Timur pun pindah ke Labuhan Deli (kota ini sekitar 10 Km dari Medan, di Sungai Deli), kemudian akhirnya ibu kota Residen Sumatera Timur pindah ke Medan.

Bagaimana Bengkalis? Walau tidak lagi sebagai ibu kota residen Sumatera Timur, Bengkalis tetap ramai, sebagai pelabuhan tempat bersinggahnya kapal-kapal besar. Mungkin karena bangganya pada Bengkalis, Belanda pun membangun kapal besar dengan nama Bengkalis.

Sebagai pelabuhan besar, Bengkalis banyak disinggahi pendatang, termasuk Cina dan Suku Jawa. Penduduk Jawa yang merantau ke Semenanjung Melaya, ke Pineng, Malaka, Temasek, Muar, Deli dan kota pesisir timur dan lainnya, ada yang lebih memilih mukim di Bengkalis.

Karena hubungan transportasi saat itu sangat mudah, maka beragam suku datang ke Pulau Bengkalis. Lihat saja sosok KH Imam Bulqin (ulama Bengkalis yang tahun lalu menerima penghargaan pahlawan daerah).

Menurut tim penulisnya, Ustaz Amrizal dan Marzuli, ternyata dulunya ia pernah ke Malaysia, kemudian akhirnya bermukim di Bengkalis. Beliau ulama dan juga pejuang kemerdekaan di masa agresi Belanda. Pada awal abad XX pengiriman paket pun sangat mudah ke Bengkalis, karena kapal-kapal pengangkutan paket ini setiap hari singgah ke pelabuhan Bengkalis.

Di masa kemerdekaan RI, jalur transportasi tidak lagi menggunakan laut, jalur darat terus berkembang pesat, sehingga pelabuhan Bengkalis pun mengalami kemunduran. Bahkan saat ini, terkesan orang yang datang ke Pulau Bengkalis, harus menggunakan Roro, seakan-akan Bengkalis ini wilayah belum tersentuh peradaban. Padahal Bengkalis merupakan wilayah yang awal-awal tersentuh peradaban.

Itulah realitasnya, jika dulu Bengkalis mudah diekses, kini dengan berkembangnya jalur transportasi darat, maka Bengkalis di ujung, dan sulit diekses (dikunjungi).

Tentunya kondisi keterbatasan ekses ini menghambat pembangunan, diperlukan solusi bersama, baik dari Pemkab Bengkalis, Pemprov Riau dan juga pemerintah pusat (Jakarta), bagaimana agar ekses ke Pulau Bengkalis mendapat perhatian.

Setakat ini jalur laut masih dipertahankan ciri khas wilayah pesisir. Kedepan bukan hal mustahil akan terbangun jembatan penghubung dari Sungai Pakning Pulau Sumatera - Pulau Bengkalis. 
 
Bengkalis Kota Pendidikan

Sebagai kota residen, dan Bandar dagang, maka dulunya di Pulau Bengkalis ini dibangun lembaga pendidikan, maka tidak sedikit orang besar saat ini dulunya pernah mengecap sekolah di Pulau Bengkalis.

Mulai dari Soeman HS, Taufik Ikram Jamil, Fahrunnas MA Jabbar, bahkan Wagub Brigjen (Pur) Edy Natar Nasution merupakan produk pendidikan Bengkalis. Lalu, sebaiknya Bengkalis ini tetap dijadikan kota Pendidikan seperti pada masa lalu.

Di Bengkalis saat ini ada perguruan tinggi negeri, seperti STAIN Bengkalis dari cikal bakal STIT, STAI Alkautsar. Insya Allah tidak lama lagi STAIN akan berubah menjadi IAIN. Jumlah mahasiswanya 3.000 an lebih.

Demikian juga Politeknik Negeri Bengkalis yang mahasiswa berasal dari berbagai wilayah di negeri ini, mereka berdatangan ke Pulau Bengkalis untuk menuntut ilmu. Berdiri juga STIE Bengkalis dibawah naungan Pemkab Bengkalis.

Ribuan mahasiswa ini merupakan potensi bagi pengembangan Pulau Bengkalis sebagai pusat pendidikan. Perguruan tinggi negeri ini ikut bagian membangun Bengkalis dengan cara meraih anggaran pusat yang jumlah puluhan miliran setiap tahunnya.

Bagi penduduk lokal, kedatangan ribuan mahasiswa di Bengkalis ini merupakan mesin penggerak ekonomi, sehingga usaha dagang penduduk tempat pun laku dan rumah kos pun bertumbuhan. Transportasi Roro yang dulunya ramai ketika L2D (lebaran, liburan dan musim duren) sekarang begitu riuh dan perlu peningkatan infrastruktur penambahan dermaga dan armada. Masih banyak sisi lainnya, yang merupakan dampak positif dari kota pendidikan ini.
 
Bengkalis Masa Kini

Kabupaten Bengkalis masa kini tetap gagah dan masih layak disebut “Jelapang Padi”, bahkan terus tumbuh bergeliat mantab.

Secara administratif Wilayah Kabupaten berkurang tapi pemekaran membuat berkah anggaran mekar. Sebagai Kota lama maka Bengkalis ibarat induk terbaik bagi daerah yang dilahirkan. Kota Dumai, Kabupaten Siak, Rokan Hilir dan Kepulauan Meranti berhasil mandiri.

Langkah melepaskan anak-anaknya merupakan catatan sejarah mulia yang  tak terprediksi oleh daerah lainnya. Banyak yang mau mengikuti kepiawaian Bengkalis memekarkan wilayah tapi ketinggalan momentum, Zaman sudah berubah regulasi ketat hingga moratorium.

Hari ini Kabupaten Bengkalis dinahkodai pasangan lihai pegang kemudi yaitu Bupati Kasmarni dan Wabup Bagus Santoso.

Berdua serasi arungi samudera dengan tenang sampai menyusuri Selat Melaka , merekatkan daratan dan kepulauan.

(4 kecamatan daratan ; Mandau, Talang Muandau, Pinggir dan Bathin Solapan, 3 pesisir ; Bukit Batu, Bandar Laksamana, Siak Kecil dan 4 kepulauan ;Bengkalis, Bantan, Rupat dan Rupat Utara). Membawa cita niat mulia bersama menuju Kabupaten Bengkalis BERMASA (Bermarwah Maju dan Sejahtera).

Pasangan KBS ( Kasmarni-Bagus Santoso) melanjutkan  estafet pemimpin sebelumnya sejak masa transisi sentralistik Bupati Azali Johan, Fadlah Sulaiman disambung masa desentralisasi Syamsurizal, Herliyan Saleh, Amril Mukminin. Dengan para Wakil Bupati Riza Pahlefi, Norman Abdul Wahab, Suayatno dan Muhammad.

Banyak kebijakan pembangunan berlaku, silih berganti pemimpin mengikut masanya dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Konfusius mengatakan, pelajarilah masa lalu jika anda ingin mengetahui masa depan.

Lalu kata Lorenzo Snow, jadilah hari ini lebih baik dari hari kemarin. Dan jadilah hari esok lebih baik dari hari ini.

Tahniah Bengkalis ku tercinta. Selamat HUT ke-511. Bengkalis Hebat, Bermasa Mantab.***


 Editor : Zulmiron

[Ikuti HarianTimes.com Melalui Sosial Media]


HarianTimes.com

Berita Lainnya

  • +

Pasca Ops Ketupat 2026, Polda Riau Intensifkan KRYD

Definisi Fakir dan Miskin Masih Rancu, Syahrul Aidi Usulkan Pasal 34 Ayat 1 UUD 1945 Perlu Direinterpretasi

Cegah Gratifikasi di Lingkungan Birokrasi, KPK Ingatkan Pejabat Jaga Integritas.

Penguatan Lembaga Komisi Informasi Menuju Budaya Kerja Badan Publik yang Transparan

Hari Pers Nasional sebagai Medan Uji Kesehatan Pers

Pemilihan Gubernur, Dari Desentralisasi ke Sentralisasi (Bagian II)

Pasca Ops Ketupat 2026, Polda Riau Intensifkan KRYD

Definisi Fakir dan Miskin Masih Rancu, Syahrul Aidi Usulkan Pasal 34 Ayat 1 UUD 1945 Perlu Direinterpretasi

Cegah Gratifikasi di Lingkungan Birokrasi, KPK Ingatkan Pejabat Jaga Integritas.

Penguatan Lembaga Komisi Informasi Menuju Budaya Kerja Badan Publik yang Transparan

Hari Pers Nasional sebagai Medan Uji Kesehatan Pers

Pemilihan Gubernur, Dari Desentralisasi ke Sentralisasi (Bagian II)



Tulis Komentar



HarianTimes TV +

Pipa Minyak Blok Rokan di Km 16 Balam, Rohil Bocor, Minyak Mentah Membasahi Hampir Sebagian Badan Jalan

24 Juli 2024
Harlindup, Aktivis Lingkungan Kunni Marohanti Turun ke Jalan Kampanyekan Keadilan Ekologis
05 Juni 2023
Rakernas Berakhir, SMSI Minta Presiden Joko Widodo Tidak Menandatangani Rancangan Perpres Publisher Right
08 Maret 2023
TERKINI +
Menag: Integrasi Antara MTQ dan Pacu Jalur Dapat Jadi Model Best Practice
14 April 2026
Perjanjian Kerja Bersama Harus Dikawal, Menaker: Tantangan Ada pada Implementasi
12 April 2026
Sukses Gelar Pengabdian Internasional di Malaysia, UIR Perkuat Aqidah dan Literasi Digital Mahasiswa Orang Asli
12 April 2026
Aklamasi, Purnomo Yusgiantoro Nahkodai DPP IKAL Lemhannas
11 April 2026
Polwan Polres Siak Gelar Trauma Healing bagi Siswa SMP Sains Tahfizh Siak
10 April 2026
Aksi Goro Massal di Siak, Mahadar: Ini Wajib Kita Pertahankan
10 April 2026
Nakhodai Hanura Riau, Arsadianto Rachman: Saya Berjanji akan Bekerja All Out
09 April 2026
Versi EduRank dan UniRank, UIR Tiga Tahun Berturut Sukses Duduki Peringkat 1 PTS se Riau
09 April 2026
Tak Kunjung Tuntas, DPRD Pekanbaru Bawa Kasus Mafia Tanah Sudirman ke Jamintel, DPR dan Menteri ATR
09 April 2026
Dorong Produktivitas Petani, Wabup Siak Syamsurizal Serahkan Dua Unit Mesin Panen Padi
09 April 2026
TERPOPULER +
  • 1 Nakhodai Hanura Riau, Arsadianto Rachman: Saya Berjanji akan Bekerja All Out
  • 2 Tak Kunjung Tuntas, DPRD Pekanbaru Bawa Kasus Mafia Tanah Sudirman ke Jamintel, DPR dan Menteri ATR
  • 3 Dari Kebun ke Energi, Asian Agri dan Apical Tingkatkan Nilai Sawit
  • 4 Indosat dan Google Berkolaborasi Hadirkan Akses Google Gemini AI Plus
  • 5 PHR Dorong Pengembangan Migas Non-Konvensional sebagai Game Changer Ketahanan Energi Nasional
  • 6 Lantik 12 Pejabat, Menaker: Layanan Publik Harus Jadi Prioritas
  • 7 Menaker: Kesempatan Kerja Tetap Terbuka di Tengah Tantangan Global
  • 8 Lantik Anggota Bapekam Dua kampung di Sungai Mandau, Wabup Siak Dorong Optimalkan SDA Kampung
  • 9 Tandatangani MoU, Polres Siak dan PGRI Perkuat Pendidikan dan Perlindungan Guru
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
HarianTimes.com ©2018 | All Right Reserved