• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Nasional
  • Riau
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Sportivitas
  • Sosialita
  • Wisata
  • More
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Advertorial
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • Indeks
PILIHAN +
Kanwil Kemenkum Riau Ikuti Persiapan Peacemaker Training 2026
Dibaca : 285 Kali
Kanwil Kemenkum Riau Ikuti Forum Pendalaman Materi Perancang
Dibaca : 255 Kali
Kakanwil Kemenkum Riau Perkuat Akses Keadilan bagi Masyarakat Kurang Mampu
Dibaca : 239 Kali
Kakanwil Tanda Tangani Addendum Kontrak Bantuan Hukum Periode II Bersama 22 LBH
Dibaca : 257 Kali
Kemenkum Riau Ikuti CoP BPSDM Hukum
Dibaca : 256 Kali

  • Home
  • Nasional

Nelayan Pasia Tiku Keluhkan BBM dan Pasokan Es

Boy Bahrin: Kami Tidak Pernah Diperhatikan Pak Gubernur

Zulmiron
Ahad, 20 September 2026 13:33:17 WIB
Cetak
Pengusaha Bagan Pasia Tiku, Boy Basri Tanjung saat berada di Pasia Tiku, Minggu (20/09/2026)

Tiku, Hariantimes.com - Nelayan di kawasan Pasia Tiku, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam, Sumatera Barat mengeluhkan sulitnya memperoleh bahan bakar minyak (BBM), keterbatasan pasokan es, hingga belum tersedianya pelabuhan pengaman untuk kapal dan bagan.

Bagaimana tidak? Karena persoalan yang menjadi kebutuhan mendesak tersebut berpengaruh langsung terhadap aktivitas dan pendapatan nelayan.

Keluhan tersebut disampaikan pengusaha Bagan Pasia Tiku, Boy Basri Tanjung kepada wartawan, Minggu (20/09/2026).

Menurut Boy, kebutuhan BBM nelayan di kawasan Tiku mencapai sekitar 20 ton per minggu. Namun, kebutuhan tersebut belum terpenuhi sehingga aktivitas melaut kerap terganggu.

Baca Juga :
  • Kanwil Kemenkum Riau Ikuti Persiapan Peacemaker Training 2026
  • Kanwil Kemenkum Riau Ikuti Forum Pendalaman Materi Perancang
  • Kakanwil Kemenkum Riau Perkuat Akses Keadilan bagi Masyarakat Kurang Mampu

Boy mengungkapan, biaya operasional satu armada nelayan dapat mencapai sekitar Rp5,5 juta per hari, yang mencakup kebutuhan ransum, transportasi, serta BBM untuk menuju lokasi penangkapan ikan. Namun, pendapatan nelayan tidak selalu sebanding dengan biaya operasional. Dalam kondisi tertentu, penghasilan yang diperoleh hanya sekitar Rp600 ribu hingga Rp700 ribu.

Selain BBM, Boy menyoroti keterbatasan ketersediaan es untuk kebutuhan nelayan. Bahkan sebagian kebutuhan es masih harus didatangkan dari Padang dan Pariaman.

Menurutnya, kapasitas produksi es yang tersedia di kawasan tersebut hanya sekitar 150 batang, sementara kebutuhan nelayan mencapai sekitar 400 batang.

Boy menilai keberadaan fasilitas produksi es yang memadai penting bagi nelayan karena es merupakan kebutuhan utama untuk menjaga hasil tangkapan selama proses melaut hingga dibawa ke daratan.

"Yang sangat kami butuhkan pabrik es. Karena pasokan Es Masih Didatangkan dari Luar Tiku. Kalau mau melaut, tunggu es dulu. Setelah itu esnya tidak ada, kami istirahat dulu. Untuk itu, kami masih mendatangkan dari Pariaman. Sementara pabrik di sini bagusnya tidak dipakai lagi, percuma saja," katanya.

Empat Kapal Karam

Persoalan lain yang disoroti Boy adalah belum tersedianya pelabuhan atau dermaga pengaman bagi kapal dan bagan nelayan Tanjung Mutiara.

Boy menyebutkan, dalam tahun ini sudah ada empat kapal yang karam. Kondisi tersebut berkaitan dengan belum adanya fasilitas pelabuhan pengaman yang dapat digunakan nelayan.

"Dalam tahun ini saja sudah empat kapal kami tenggelam karena kami tidak punya pelabuhan," ujarnya Boy mengatakan, pelabuhan pengaman telah lama diusulkan. Namun hingga kini belum terealisasi.

"Kami tidak punya Pelabuhan pengamanan bagan," pungkas Boy menyebutkan, jumlah armada nelayan di kawasan tersebut sekitar 26 armada. Dan secara umum armada tersebut masih layak digunakan, tetapi tetap membutuhkan dukungan pemerintah untuk sejumlah kebutuhan dan fasilitas penunjang.

"Kalau kami meminta bantuan, tidak pernah diindahkan," ujarnya Boy juga meminta pemerintah daerah, khususnya Gubernur Sumatera Barat lebih aktif melihat langsung kondisi nelayan di lapangan.

"Kami berharap Pak Gubernur turun melihat kondisi nelayan secara langsung. Sekali-sekali melihat nasib nelayan di sini, baru tahu bagaimana kondisi nelayan," katanya.

Tak Pernah Ada Perhatian Pemerintah

Boy menyebut jumlah nelayan di kawasan Tiku diperkirakan mencapai sekitar 1.500 orang.

Boy menilai sektor perikanan memiliki kontribusi terhadap perekonomian masyarakat Tanjung Mutiara dan Sumatera Barat sehingga persoalan yang dihadapi nelayan perlu mendapat perhatian.

Boy uga mengaku telah menyampaikan aspirasi terkait persoalan nelayan kepada pemerintah. Namun, keluhan tersebut belum mendapatkan respons yang diharapkan.

"Sering kami melaporkan itu, tapi tidak pernah ada perhatian," ujarnya.

Terkait dukungan dari legislatif, Boy menyebutkan, anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat pernah turun tangan membantu mengurus persoalan BBM ketika nelayan mengalami kesulitan.

Boy juga mengapresiasi perhatian dari kepala dinas terkait yang disebutnya kerap menanyakan kondisi nelayan.

Boy berharap Gubernur Sumatera Barat dan Bupati Agam memberikan perhatian lebih terhadap kebutuhan dasar nelayan, terutama ketersediaan BBM, pasokan es, serta pembangunan pelabuhan atau dermaga pengaman.

"Pak Gubernur tolonglah perhatikan kami para nelayan di Tiku ini. Bahwa nelayan yang ada di Tiku ini, itu jumlahnya kurang lebih sekitar 1.500 orang. Kami tidak pernah tersentuh oleh Pak Gubernur. Tolonglah perhatikan kami. Usaha kami, bagan-bagan kami, enggak ada respon dari Bapak sama sekali. Kami dari masyarakat nelayan, Bapak, tolong diperhatikanlah kami sedikit. Karena kami, kehidupan kami juga menunjang ekonomi yang ada di untuk Sumatera Barat ini, yaitu dari nelayan. Harapan kami, Pak Gubernur turun melihat langsung nasib nelayan di Tiku," kata Boy menegaskan pernyataannya ini merupakan bentuk penyampaian aspirasi dan kritik atas kondisi yang dialami nelayan Tanjung Mutiara. Terutama BBM yang selalu sulit kami dapatkan. Selalu dipersulit untuk BBM untuk nelayan. Sementara kami yang menjerit tidak pernah Bapak perhatikan. Padahal pemerintah, Bapak Prabowo sendiri, itu menginstruksikan kepada seluruh pemerintahan yang ada di Indonesia untuk menyejahterakan nelayan dan petani. Tapi kami enggak pernah dapat perhatian. Di mana itu rasa-rasa rasa perikemanusiaan Bapak, kami sebagai nelayan?

"Saya bertanggung jawab untuk mengatakan itu. Kami sebagai nelayan ingin diperhatikan," tegasnya.(*)

Bagaimana tidak? Karena persoalan yang menjadi kebutuhan mendesak tersebut berpengaruh langsung terhadap aktivitas dan pendapatan nelayan.

Keluhan tersebut disampaikan pengusaha Bagan Pasia Tiku, Boy Basri Tanjung kepada wartawan, Minggu (20/09/2026).

Menurut Boy, kebutuhan BBM nelayan di kawasan Tiku mencapai sekitar 20 ton per minggu. Namun, kebutuhan tersebut belum terpenuhi sehingga aktivitas melaut kerap terganggu.

Boy mengungkapan, biaya operasional satu armada nelayan dapat mencapai sekitar Rp5,5 juta per hari, yang mencakup kebutuhan ransum, transportasi, serta BBM untuk menuju lokasi penangkapan ikan. Namun, pendapatan nelayan tidak selalu sebanding dengan biaya operasional. Dalam kondisi tertentu, penghasilan yang diperoleh hanya sekitar Rp600 ribu hingga Rp700 ribu.

Selain BBM, Boy menyoroti keterbatasan ketersediaan es untuk kebutuhan nelayan. Bahkan sebagian kebutuhan es masih harus didatangkan dari Padang dan Pariaman.

Menurutnya, kapasitas produksi es yang tersedia di kawasan tersebut hanya sekitar 150 batang, sementara kebutuhan nelayan mencapai sekitar 400 batang.

Boy menilai keberadaan fasilitas produksi es yang memadai penting bagi nelayan karena es merupakan kebutuhan utama untuk menjaga hasil tangkapan selama proses melaut hingga dibawa ke daratan.

"Yang sangat kami butuhkan pabrik es. Karena pasokan Es Masih Didatangkan dari Luar Tiku. Kalau mau melaut, tunggu es dulu. Setelah itu esnya tidak ada, kami istirahat dulu. Untuk itu, kami masih mendatangkan dari Pariaman. Sementara pabrik di sini bagusnya tidak dipakai lagi, percuma saja," katanya.

Empat Kapal Karam

Persoalan lain yang disoroti Boy adalah belum tersedianya pelabuhan atau dermaga pengaman bagi kapal dan bagan nelayan Tanjung Mutiara.

Boy menyebutkan, dalam tahun ini sudah ada empat kapal yang karam. Kondisi tersebut berkaitan dengan belum adanya fasilitas pelabuhan pengaman yang dapat digunakan nelayan.

"Dalam tahun ini saja sudah empat kapal kami tenggelam karena kami tidak punya pelabuhan," ujarnya Boy mengatakan, pelabuhan pengaman telah lama diusulkan. Namun hingga kini belum terealisasi.

"Kami tidak punya Pelabuhan pengamanan bagan," pungkas Boy menyebutkan, jumlah armada nelayan di kawasan tersebut sekitar 26 armada. Dan secara umum armada tersebut masih layak digunakan, tetapi tetap membutuhkan dukungan pemerintah untuk sejumlah kebutuhan dan fasilitas penunjang.

"Kalau kami meminta bantuan, tidak pernah diindahkan," ujarnya Boy juga meminta pemerintah daerah, khususnya Gubernur Sumatera Barat lebih aktif melihat langsung kondisi nelayan di lapangan.

"Kami berharap Pak Gubernur turun melihat kondisi nelayan secara langsung. Sekali-sekali melihat nasib nelayan di sini, baru tahu bagaimana kondisi nelayan," katanya.

Tak Pernah Ada Perhatian Pemerintah

Boy menyebut jumlah nelayan di kawasan Tiku diperkirakan mencapai sekitar 1.500 orang.

Boy menilai sektor perikanan memiliki kontribusi terhadap perekonomian masyarakat Tanjung Mutiara dan Sumatera Barat sehingga persoalan yang dihadapi nelayan perlu mendapat perhatian.

Boy uga mengaku telah menyampaikan aspirasi terkait persoalan nelayan kepada pemerintah. Namun, keluhan tersebut belum mendapatkan respons yang diharapkan.

"Sering kami melaporkan itu, tapi tidak pernah ada perhatian," ujarnya.

Terkait dukungan dari legislatif, Boy menyebutkan, anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat pernah turun tangan membantu mengurus persoalan BBM ketika nelayan mengalami kesulitan.

Boy juga mengapresiasi perhatian dari kepala dinas terkait yang disebutnya kerap menanyakan kondisi nelayan.

Boy berharap Gubernur Sumatera Barat dan Bupati Agam memberikan perhatian lebih terhadap kebutuhan dasar nelayan, terutama ketersediaan BBM, pasokan es, serta pembangunan pelabuhan atau dermaga pengaman.

"Pak Gubernur tolonglah perhatikan kami para nelayan di Tiku ini. Bahwa nelayan yang ada di Tiku ini, itu jumlahnya kurang lebih sekitar 1.500 orang. Kami tidak pernah tersentuh oleh Pak Gubernur. Tolonglah perhatikan kami. Usaha kami, bagan-bagan kami, enggak ada respon dari Bapak sama sekali. Kami dari masyarakat nelayan, Bapak, tolong diperhatikanlah kami sedikit. Karena kami, kehidupan kami juga menunjang ekonomi yang ada di untuk Sumatera Barat ini, yaitu dari nelayan. Harapan kami, Pak Gubernur turun melihat langsung nasib nelayan di Tiku," kata Boy menegaskan pernyataannya ini merupakan bentuk penyampaian aspirasi dan kritik atas kondisi yang dialami nelayan Tanjung Mutiara. Terutama BBM yang selalu sulit kami dapatkan. Selalu dipersulit untuk BBM untuk nelayan. Sementara kami yang menjerit tidak pernah Bapak perhatikan. Padahal pemerintah, Bapak Prabowo sendiri, itu menginstruksikan kepada seluruh pemerintahan yang ada di Indonesia untuk menyejahterakan nelayan dan petani. Tapi kami enggak pernah dapat perhatian. Di mana itu rasa-rasa rasa perikemanusiaan Bapak, kami sebagai nelayan?

"Saya bertanggung jawab untuk mengatakan itu. Kami sebagai nelayan ingin diperhatikan," tegasnya.(*)


 Editor : Zulmiron

[Ikuti HarianTimes.com Melalui Sosial Media]


HarianTimes.com

Berita Lainnya

  • +

PWI dan Bakom Sepakat Perkuat Literasi Informasi dan Industri Pers

Menuju HPN 2027, PWI Half Marathon 2026 Siap Menggebrak Bandar Lampung

Jaga Ketahanan Nasional, PWI Perkuat Sinergi dengan Lemhannas

PWI Luncurkan Website Terintegrasi, Cak Munir: Diharapkan Bergulir Konsisten

RUPSLB Perpanjangan Masa Jabatan Presdir dan CEO Indosat

Nasaruddin Umar: Saya Merasa Tidak Pantas untuk Dipilih Jadi Pimpinan Imam Besar

PWI dan Bakom Sepakat Perkuat Literasi Informasi dan Industri Pers

Menuju HPN 2027, PWI Half Marathon 2026 Siap Menggebrak Bandar Lampung

Jaga Ketahanan Nasional, PWI Perkuat Sinergi dengan Lemhannas

PWI Luncurkan Website Terintegrasi, Cak Munir: Diharapkan Bergulir Konsisten

RUPSLB Perpanjangan Masa Jabatan Presdir dan CEO Indosat

Nasaruddin Umar: Saya Merasa Tidak Pantas untuk Dipilih Jadi Pimpinan Imam Besar



Tulis Komentar



HarianTimes TV +

Pipa Minyak Blok Rokan di Km 16 Balam, Rohil Bocor, Minyak Mentah Membasahi Hampir Sebagian Badan Jalan

24 Juli 2024
Harlindup, Aktivis Lingkungan Kunni Marohanti Turun ke Jalan Kampanyekan Keadilan Ekologis
05 Juni 2023
Rakernas Berakhir, SMSI Minta Presiden Joko Widodo Tidak Menandatangani Rancangan Perpres Publisher Right
08 Maret 2023
TERKINI +
Kanwil Kemenkum Riau Ikuti Persiapan Peacemaker Training 2026
06 November 2026
Kanwil Kemenkum Riau Ikuti Forum Pendalaman Materi Perancang
06 November 2026
Kakanwil Kemenkum Riau Perkuat Akses Keadilan bagi Masyarakat Kurang Mampu
06 November 2026
Kakanwil Tanda Tangani Addendum Kontrak Bantuan Hukum Periode II Bersama 22 LBH
06 November 2026
Kemenkum Riau Ikuti CoP BPSDM Hukum
06 November 2026
Ruang Fiskal Menyempit, Kebutuhan Pembangunan Meningkat
06 November 2026
Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Sinergi dengan Ditjen AHU
05 November 2026
Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Pelindungan Kekayaan Intelektual dan Optimalisasi Royalti Musik
05 November 2026
Kanwil Kemenkum Riau Dorong Penguatan Indikasi Geografis
04 November 2026
Cetak Paralegal Muda, Kanwil Kemenkum Riau Bekali 40 Mahasiswa UIN Suska Akses Keadilan
04 November 2026
TERPOPULER +
  • 1 Buka Musda V MUI Siak, Syamsurizal: Semoga Lahir Gagasan-Gagasan Besar
  • 2 139 ASN Kemenag Riau Ikuti Asesmen Pro ASN
  • 3 Lima Madrasah Kota Pekanbaru Promosikan Produk dan Budaya Riau di IES 2026
  • 4 Himpunan Siompu Kampar Riau Audiensi dengan Anggota DPD RI, Didis Mardisna: Semoga Bisa Berkolaborasi di Banyak Program
  • 5 Perkuat Pengelolaan JDIH, Kanwil Kemenkum Riau Terima Konsultasi DPRD Inhu
  • 6 Kanwil Kemenkum Riau Fasilitasi Ranperda Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Bengkalis
  • 7 Afni: Patut Diwariskan dan Menjadi Inspirasi bagi Generasi Sekarang
  • 8 Enam Mahasiswa Internasional Tampil Nyanyi Lagu Lancang Kuning di Acara Wisuda Unilak
  • 9 RDP Pansus DPRD Riau, Koalisi Masyarakat Sipil Minta Hapus Green Policing Peninggalan Heryman
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
HarianTimes.com ©2018 | All Right Reserved