Luncurkan Buku Autobiografi Jalan Hidup Anak Pujud, Saleh Djasit: Semuanya Dilalui dengan Kerja Keras
Pekanbaru, Hariantimes.com - Setelah melalui proses kontemplasi panjang selama 18 tahun, Brigadir Jenderal TNI (Purn) H Saleh Djasit SH meluncurkan buku autobiografinya yang berjudul Jalan Hidup Anak Pujud.
Peluncuran karya monumental ini digelar dengan khidmat di Balairung Tenas Effendi, Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Rabu (15/04/2026).
Acara yang kental dengan nuansa adat Melayu ini diawali dengan prosesi tepuk tepung tawar sebagai bentuk doa dan penghormatan.
Peluncuran ini menjadi ajang reuni akbar para pemimpin Riau. Di antaranya dihadiri oleh tokoh-tokoh penting seperti Gubernur Riau di masanya yakni H Arsyadjuliandi Rachman, H Syamsuar, Wakil Gubernur di masanya antara lain H Wan Thamrin Hasyim, H Mambang Mit dan H Wan Abu Bakar.
Hadir juga ?Tokoh Adat dan Politik di antaranya Datuk Seri H Raja Marjohan Yusuf (Ketua MKA LAMR), Datuk Seri Taufik Ikram Jamil (Ketua DPH LAMR), Hendry Munief (Anggota DPR RI), serta tokoh pendiri LAMR OK Nizami Jamil.
Filosofi "Anak Pujud": Dari Nol Menuju Pucuk Pimpinan
Dalam sambutannya, Saleh Djasit mengungkapkan, buku ini adalah rekam jejak perjuangannya yang dimulai dari keterbatasan di Desa Pujud. Ia baru mengenyam bangku sekolah dasar pada usia 11 tahun dan harus menempuh perjalanan kapal seharian demi melanjutkan pendidikan.
"Semuanya dilalui dengan kerja keras. Mulai dari merantau ke Padang hingga kisah menjual celana kawan demi bertahan hidup saat pendidikan militer," kenang Gubernur Riau di masanya ini.
Ketekunan itulah yang kemudian mengantarkannya memegang tongkat komando kepemimpinan sebagai Bupati Kampar dua periode, Gubernur Riau, hingga anggota DPR RI.
Sosok Futuristik dan Peletak Dasar Reformasi
Diskusi buku yang dipandu oleh Prof Dr Firdaus mengungkap sisi lain Saleh Djasit sebagai pemimpin yang melampaui zamannya.
Bahkan ?Ketua Umum MUI Riau Dr Saidul Amin menjuluki Saleh sebagai "makhluk futuristik" atas keberaniannya merumuskan Visi Riau 2020 dan menginisiasi Riau Airlines (RAL) di masa transisi.
Sementara itu, Sekdaprov Riau Syahrial Abdi dan Prof Nazir Karim sependapat, Saleh adalah sosok guru bangsa yang disiplin dan peletak tiang pancang pembangunan Riau di awal era reformasi.
Ruh Kekeluargaan dalam Novel "Ayah Keduaku"
Menariknya, peluncuran ini juga membedah novel Ayah Keduaku karya Muhammad Amin yang terinspirasi dari fragmen hidup Saleh Djasit.
Rektor Unilak, Prof Dr Junaidi memaparkan secara emosional, bahwa kesuksesan sang Jenderal berakar pada pengorbanan besar keluarganya.
"Keberhasilan Saleh menjadi gubernur adalah buah keikhlasan ayahnya, Kholifah Kholid, yang mengorbankan pendidikan anak lainnya demi Saleh. Inilah nilai kekeluargaan Melayu yang menjadi ruh pengabdian beliau bagi masyarakat Riau," jelas Prof Junaidi.
Harapan Literasi Riau
Datuk Seri Taufik Ikram Jamil berharap langkah Saleh Djasit membukukan perjalanan hidupnya dapat menjadi tradisi baru bagi tokoh-tokoh Riau lainnya. Hal ini dinilai penting untuk memperkuat akar literasi daerah dan mewariskan nilai kejujuran serta disiplin kepada generasi muda melalui platform digital yang relevan.(*)
.jpeg)










Tulis Komentar