Soal Keuangan Jadi tumit Achilles kampus, Prof Elfizar Dorong Perguruan Tinggi Mulai Berani Bangun BUMK
Pekanbaru, Hariantimes.com - Bakal calon Rektor Universitas Riau (Unri), Prof Dr Elfizar SSi MKom menyoroti persoalan klasik yang hingga kini masih membelit banyak perguruan tinggi daerah, yakni ketergantungan keuangan kampus terhadap Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa dan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurut Prof Elfizar, kondisi tersebut membuat ruang gerak universitas menjadi terbatas, terutama dalam pengembangan riset dan inovasi.
“Ada satu rahasia terbuka di kalangan pengelola kampus daerah, yakni persoalan keuangan yang menjadi tumit Achilles kampus. Ketergantungan hampir sepenuhnya pada UKT dan APBN membuat universitas sulit bergerak fleksibel,” ujar Prof Elfizar, Kamis (04/06/2026).
Prof Elfizar menjelaskan, kebutuhan pembaruan fasilitas laboratorium dengan teknologi mutakhir kerap terkendala keterbatasan anggaran dan mekanisme birokrasi yang dinilai terlalu rigid.
Akibatnya, dana penelitian sering dibagi secara merata dengan nominal kecil demi asas pemerataan, meski kebijakan tersebut dinilai tidak efektif untuk melahirkan riset-riset unggulan yang berdampak besar.
“Sering kali peneliti memiliki ide dan inovasi besar, tetapi energinya habis hanya untuk mengurus administrasi dan laporan keuangan. Fokus mereka akhirnya bukan lagi pada pengembangan riset dan hilirisasi inovasi,” katanya.
Prof Elfizar juga menyinggung capaian akademik Universitas Riau yang menurutnya sebenarnya memiliki modal kuat untuk bersaing secara global. Dengan status Akreditasi Unggul dan lebih dari 100 guru besar, Unri dinilai memiliki sumber daya manusia yang mumpuni.
Namun demikian, publikasi ilmiah pada jurnal internasional bereputasi seperti Scopus dan Web of Science (WoS) dinilai masih perlu ditingkatkan.
“Universitas Riau tidak kekurangan orang pintar. Tetapi birokrasi riset yang panjang dan rumit membuat produktivitas ilmiah belum maksimal,” ujar Prof Elfizar menilai Provinsi Riau memiliki potensi ekonomi besar yang dapat menjadi sumber penguatan kemandirian kampus, terutama melalui sektor minyak bumi dan perkebunan sawit.
Prof Elfizar mendorong perguruan tinggi untuk mulai berani membangun Badan Usaha Milik Kampus (BUMK) yang profesional dan mampu menawarkan solusi ilmiah kepada dunia industri.
“Riau adalah laboratorium hidup sekaligus lumbung ekonomi. Kampus harus keluar dari zona nyaman dan mulai mendiversifikasi sumber pendapatan secara mandiri,” katanya.
Menurutnya, jika kampus memiliki sumber pembiayaan alternatif yang kuat, maka para peneliti akan lebih leluasa mengembangkan inovasi tanpa terlalu dibatasi keterbatasan anggaran negara.
“Ketika kampus mandiri secara finansial, maka riset dan inovasi akan berkembang lebih cepat. Peneliti bisa fokus menembus batas-batas sains dan teknologi global,” tutupnya.(*)
.jpeg)










Tulis Komentar