• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Nasional
  • Riau
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Sportivitas
  • Sosialita
  • Wisata
  • More
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Advertorial
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • Indeks
PILIHAN +
Buka Musda V MUI Siak, Syamsurizal: Semoga Lahir Gagasan-Gagasan Besar
Dibaca : 275 Kali
139 ASN Kemenag Riau Ikuti Asesmen Pro ASN
Dibaca : 303 Kali
Lima Madrasah Kota Pekanbaru Promosikan Produk dan Budaya Riau di IES 2026
Dibaca : 332 Kali
Himpunan Siompu Kampar Riau Audiensi dengan Anggota DPD RI, Didis Mardisna: Semoga Bisa Berkolaborasi di Banyak Program
Dibaca : 332 Kali
Perkuat Pengelolaan JDIH, Kanwil Kemenkum Riau Terima Konsultasi DPRD Inhu
Dibaca : 330 Kali

  • Home
  • Nasional

Interactive Talkshow FIM-PII, Prof Rokhmin Dahuri Prihatin Nasib Nelayan Indonesia

Zulmiron
Sabtu, 11 November 2023 13:46:41 WIB
Cetak
Forum Insinyur Muda Persatuan Insinyur Indonesia (FIM-PII) menggelar acara Young Engineer Festival (YEF) di Auditorium Mataram, Kementerian Perhubungan Jakarta, Jumat (10/11/2023) malam.

Jakarta, Hariantimes.com - Forum Insinyur Muda Persatuan Insinyur Indonesia (FIM-PII) menggelar acara Young Engineer Festival (YEF) di Auditorium Mataram, Kementerian Perhubungan Jakarta, Jumat (10/11/2023) malam.

YEF 2023 dengan tema “Collaboration With Nature to Build Sustainable Environment Through Blue Economy and Green Energy” tersebut menghadirkan para pembicara ahli di bidang engineering, mulai dari kalangan akademisi, praktisi hingga pemerintahan.

Sebagai narasumber pada Interactive Talkshow 2: Optimizing Maritime Potential To Build A National Blue Economy, Ketua Gerakan Nelayan Tani Indonesia Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS berbicara sejauhmana perhatian kita kepada para nelayan? Setidaknya 15 sampai 25 persen nelayan dan pembudidaya kita tergolong miskin.

“Ini sebuah fakta yang harus diperhatikan dan diatasi,” ujar Prof Rokhmin Dahuri.

Baca Juga :
  • Jaga Ketahanan Nasional, PWI Perkuat Sinergi dengan Lemhannas
  • PWI Luncurkan Website Terintegrasi, Cak Munir: Diharapkan Bergulir Konsisten
  • Nasaruddin Umar: Saya Merasa Tidak Pantas untuk Dipilih Jadi Pimpinan Imam Besar

Padahal, lanjutnya, Indonesia sebagai Negara kepulauan, yang luas wilayahnya ¾ merupakan laut di dalamnya terkandung potensi ekonomi yang cukup melimpah.

Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan 2020 hingga sekarang mengungkapkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan kondisi miskin pada nelayan dan pembudidaya. Di antaranya harga jual hasil tangkap yang terlalu murah dibanding dengan biaya produksi.

“Kuantitas produksi dari dua kalangan ini, terutama usaha kecil dan menengah, terlampau rendah dibandingkan pengusaha perikanan skala besar,” terangnya.

Menurutnya, banyak penyebab juga yang menyebabkan kuantitas tangkapan rendah. Sebagian besar usaha perikanan tangkap, perikanan budidaya, pengolahan hasil perikanan, dan perdagangan hasil perikanan dilakukan secara tradisional (low technology) dan berskala Usaha Kecil dan Mikro (UKM). Sehingga, tingkat pemanfaatan SDI  (sumber daya insani), produktivitas, dan efisiensi usaha perikanan pada umumnya rendah.

“Akibatnya, nelayan dan pelaku usaha lain miskin dan kontribusi bagi perekonomian (PDB, nilai ekspor, pajak, PNBP, dan PAD) rendah,” sebut Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB University itu.

Prof Rokhmin memberikan contoh, dari 625.633 unit kapal ikan, setidaknya hanya 3.811 unit yang tergolong modern. Indikator modern sendiri ditandai dengan kapasitasnya yang berada di atas 30 gross ton (GT).

"Jumlah tersebut sekitar 0,6 persen. Sangat kecil," ucapnya.

Selain itu, ukuran unit usaha (bisnis) perikanan tangkap, perikanan budidaya, pengolahan hasil perikanan, dan perdagangan hasil perikanan sebagian besar tidak memenuhi skala ekonomi (economy of scale).

“Sehingga, keuntungan bersih (pendapatan) lebih kecil dari 300 dolar AS  (Rp4,5 juta)/orang/bulan, alias miskin. Faktor lainnya, sebagian besar pembudidaya ikan belum menerapkan Best Aquaculture Practices (BAP = Cara Budidaya Ikan Terbaik), sehingga sering terjadi serangan wabah penyakit yang menyebabkan gagal panen,” kata Prof Rokhmin Dahuri.

Kemudian, sambungnya, pasokan pakan ikan berkualitas yang selama ini mengandalkan sumber proteinnya dari fishmeal (tepung ikan) semakin terbatas, sehingga mengakibatkan harganya terus naik. Padahal, sekitar 60 persen  biaya produksi untuk pakan ikan.

“Pasokan induk (broodstocks) dan benih berkualitas unggul (SPF, SPR, dan fast growing) masih terbatas.  Padahal, benih menentukan 50% keberhasilan usaha budidaya,” ujar Prof Rokhmin mengutip data  FAO (2018).

Prof Rokhmin Dahuri mengaku merasa prihatin dengan nasib nelayan karena kalau membeli sarana produksi seperti jaring, BBM, beras dst selalu mendapatkan harga yang lebih mahal karena nelayan tidak bisa membeli langsung ke pabrik tetapi harus melalui sekian banyak perantara. Sebaliknya ketika nelayan menjual ikan hasil tangkap mereka pun tidak bisa langsung menjual ke pasar akhir.

“Lagi-lagi, harus melalui tengkulak atau pedagang perentara,” ungkapnya.

Untuk itu, Prof Rokhmin Dahuri berharap kehidupan nelayan Indonesia bisa lebih sejahtera.

''Saya berharap pendapatan minimal para nelayan di Indonesia rata-rata per bulannya Rp 7 juta,'' ujar Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia itu.

Dalam kesempatan tersebut, Prof Rokhmin Dahuri memaparkan, Indonesia memiliki modal besar dan lengkap untuk menjadi negara maju, sejahtera, dan berdaulat. Namun dengan modal yang begitu besar, Indonesia masih berada dalam middle class.

“Untuk menuju Indonesia yang maju dibutuhkan transformasi struktural ekonomi,” katanya.

Saat ini, ungkapnya, kontribusi sektor manufacturing terhadap PDB hanya 18 persen. Padahal, menurut Menteri Kelautan dan Perikanan-RI Kabinet Gotong Royong ini minimal jika ingin maju 30 persen. Untuk itu, agas bisa keluar dari middle-income trap (jebakan negara berpendapatan menengah) menjadi negara maju, sejahtera dan berdaulat.

Maka ke depan rata-rata laju pertumbuhan ekonomi Indonesia harus diatas 7 persen per tahun.  Selain itu, sifat pertumbuhannya harus berkualitas dan inklusif. Artinya, banyak menyerap tenaga kerja, tersebar secara proporsional ke seluruh wilayah Nusantara (jangan terkonsentrasi di P. Jawa), dan mensejahterakan seluruh rakyat secara berkeadilan.

”Mesti ramah lingkungan dan berkelanjutan (sustainable),” kata ketua Dewan Pakar Masyarakat Perikanan Nusantara  itu.

Potensi Ekonomi Biru (Blue Economy) Indonesia sangat besar, sekitar 1,4 trilyun dolar AS per tahun atau 1,2 kali lipat besaran ekonomi (PDB) Indonesia saat ini. Dan berpotensi untuk menyerap tenaga kerja untuk lebih dari 45 juta orang.

Potensi ekonomi itu tersebar di 11 sektor Blue Economy, yakni:

(1) Perikanan Tangkap
(2) Perikanan Budidaya
(3) Imdustri Pengolahan Hasil Perikanan dan Seafood
(4) Industri Bioteknologi Kelautan
(5) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
(6) Pariwisata Bahari
(7) Kehutanan Pesisir (Coastal Forestry)
(8) Sumber Daya Wilayah Pulau-Pulau Kecil
(9) Industri dan Jasa Maritim (seperti galangan kapal, pabrik alat tangkap ikan, pabrik mesin kapal, pabrik kincir air tambak, pabrik mesin pakan ikan, dan coastal and ocean engineering)
(10) Transportasi Laut
(11) Sumber Daya Alam laut non-konvensional.

Sejauh ini, bangsa Indonesia baru memanfaatkan sekitar 25% dari total potensi Blue Economy diatas.

Untuk lebih mengoptimalkan pemanfaatan Blue Economy bagi kemajuan, kemakmuran; dan kedaulatan bangsa, selain dukungan APBN, alokasi kredit perbankan,  unfrastruktur dan konektivitas, juga yang tak kalah penting adalah SDM (human capital), khususnya para insinyur dan teknolog yang dibutuhkan untuk pengembangan kesebelas sektor Blue Economy diatas.(*)


 Editor : Zulmiron

[Ikuti HarianTimes.com Melalui Sosial Media]


HarianTimes.com

Berita Lainnya

  • +

Jaga Ketahanan Nasional, PWI Perkuat Sinergi dengan Lemhannas

PWI Luncurkan Website Terintegrasi, Cak Munir: Diharapkan Bergulir Konsisten

RUPSLB Perpanjangan Masa Jabatan Presdir dan CEO Indosat

Nasaruddin Umar: Saya Merasa Tidak Pantas untuk Dipilih Jadi Pimpinan Imam Besar

Ketua BKSAP DPR RI Kecam Pengangkatan Isu West Papua di UNGA PBB

Syahrul Aidi: Indonesia Tetap Konsisten Berdiri Bersama Rakyat Palestina

Jaga Ketahanan Nasional, PWI Perkuat Sinergi dengan Lemhannas

PWI Luncurkan Website Terintegrasi, Cak Munir: Diharapkan Bergulir Konsisten

RUPSLB Perpanjangan Masa Jabatan Presdir dan CEO Indosat

Nasaruddin Umar: Saya Merasa Tidak Pantas untuk Dipilih Jadi Pimpinan Imam Besar

Ketua BKSAP DPR RI Kecam Pengangkatan Isu West Papua di UNGA PBB

Syahrul Aidi: Indonesia Tetap Konsisten Berdiri Bersama Rakyat Palestina



Tulis Komentar



HarianTimes TV +

Pipa Minyak Blok Rokan di Km 16 Balam, Rohil Bocor, Minyak Mentah Membasahi Hampir Sebagian Badan Jalan

24 Juli 2024
Harlindup, Aktivis Lingkungan Kunni Marohanti Turun ke Jalan Kampanyekan Keadilan Ekologis
05 Juni 2023
Rakernas Berakhir, SMSI Minta Presiden Joko Widodo Tidak Menandatangani Rancangan Perpres Publisher Right
08 Maret 2023
TERKINI +
Buka Musda V MUI Siak, Syamsurizal: Semoga Lahir Gagasan-Gagasan Besar
31 Oktober 2026
139 ASN Kemenag Riau Ikuti Asesmen Pro ASN
31 Oktober 2026
Lima Madrasah Kota Pekanbaru Promosikan Produk dan Budaya Riau di IES 2026
31 Oktober 2026
Himpunan Siompu Kampar Riau Audiensi dengan Anggota DPD RI, Didis Mardisna: Semoga Bisa Berkolaborasi di Banyak Program
30 Oktober 2026
Perkuat Pengelolaan JDIH, Kanwil Kemenkum Riau Terima Konsultasi DPRD Inhu
30 Oktober 2026
Kanwil Kemenkum Riau Fasilitasi Ranperda Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Bengkalis
30 Oktober 2026
Afni: Patut Diwariskan dan Menjadi Inspirasi bagi Generasi Sekarang
30 Oktober 2026
Enam Mahasiswa Internasional Tampil Nyanyi Lagu Lancang Kuning di Acara Wisuda Unilak
29 Oktober 2026
RDP Pansus DPRD Riau, Koalisi Masyarakat Sipil Minta Hapus Green Policing Peninggalan Heryman
29 Oktober 2026
Kanwil Kemenkum Riau Fasilitasi Konsultasi Ranperda Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Kabupaten Bengkalis
29 Oktober 2026
TERPOPULER +
  • 1 Karhutla Riau Berulang, Okto: Kemunduran Kebijakan Perlindungan Gambut dan Pengabaian Korban
  • 2 Karhutla Meluas, Jikalahari Soroti Lemahnya Perlindungan Gambut di Riau
  • 3 Perkuat Ketahanan Pangan, IKA Faterna Unand Riau-Kepri Gagas Ranch Peternakan dengan Konsep Mix Farming di Riau dan Kepri
  • 4 Kemah Kerukunan dan Ekoteologi di Siak, Muliardi: Ikhtiar Bersama Untuk Merawat Kehidupan Beragama
  • 5 Gerakan Ekoteologi, Kemenag Siak Tanam 1.347 Bibit Pohon di 449 Titik
  • 6 Defile Kemah Kerukunan dan Ekoteologi Siak Hijau 2026 Diikuti 1.460 Peserta
  • 7 Libatkan 1.711 Peserta, Kemah Kerukunan dan Ekoteologi Gaungkan Toleransi dan Siak Hijau
  • 8 Persiapkan Masa Depan, Santri dan Santriwati Diajak Terus Belajar Mengembangkan Potensi Diri
  • 9 Edison Manik: Momen Pulang Kampung untuk Mengabdi di Riau
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
HarianTimes.com ©2018 | All Right Reserved