• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Nasional
  • Riau
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukrim
  • Pendidikan
  • Sportivitas
  • Sosialita
  • Wisata
  • More
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Advertorial
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • Indeks
PILIHAN +
Menyemai Kemandirian UMKM Seroja Melalui Penguatan Kapasitas Budidaya Jamur
Dibaca : 141 Kali
Perkuat Kapasitas Analis Kebijakan Berbasis Bukti, Kemenkum Riau Ikuti Policy Talks 2026
Dibaca : 141 Kali
2.500 Peserta Ramaikan Gerak Jalan Santai Milad Unilak, Rektor Luncurkan Prodi Baru
Dibaca : 161 Kali
Sambut 5.000 Wartawan, PWI Pusat Matangkan Persiapan HPN dan Porwanas 2027 di Lampung
Dibaca : 217 Kali
Cerminan Moderasi Beragama dalam Kebersamaan
Dibaca : 209 Kali

  • Home
  • Riau

Seminar Pembauran, Fachri Yasin: Bangsa yang Besar Harus Mampu Mengelola Kemajemukan

Zulmiron
Ahad, 06 Desember 2020 00:45:06 WIB
Cetak
Seminar Percepatan Pembauran dalam Pembangunan Daerah Riau yang ditaja Forum Pembauran Kebangsaan (FPK), Sabtu (05/12/2020).

Pekanbaru, Hariantimes.com - Permasalahan pembauran kebangsaan memang sangat kompleks, karena menyangkut aspek sosial, budaya, ekonomi dan politik. 

Pembauran bangsa tidak hanya ditujukan pada kaum tertentu, golongan mayoritas dan minoritas. Tetapi telah mengarah pada pembauran etnis atau suku dan antar golongan di berbagai kehidupan, pembauran untuk meningkatkan kerukunan masyarakat. 

Karena itu, penyelenggaraan pembauran menjadi salah satu pilihan dan masih tetap diperlukan secara berkelanjutan agar masyarakat dapat menerima kenyataan hidup dalam kemajemukan dan mengelola dengan baik.

"Bangsa Indonesia tidak bisa dipaksakan sebagai bangsa yang monolitis. Keberagaman etnik dan budaya Indonesia menjadi modal besar membawa bangsa Indonesia sejajar dengan Negara besar lainnya. Bangsa yang besar harus mampu mengelola kemajemukan sebagai aset atau potensi. Bukan faktor yang dapat memecah belah kehidupan masyarakat, sosial dan keagamaan. Masyarakat yang majemuk pada dasarnya selalu rawan konflik. Karena itu diperlukan suatu wadah. Konflik horizontal yang kerapkali muncul yang bersumber dari perlakuan diskriminasi seperti ketidakadilan sosial dan ekonomi, kesenjangan pembangunan infrastruktur, pendidikan dan lainnya. Dan Forum Pembauran Kebangsaan merupakan wadah informasi, komunikasi, konsultasi dan kerjasama antara warga masyarakat yang diarahkan untuk menumbuhkan, memantapkan, memelihara dan mengembangkan pembauran kebangsaan," papar Ketua FPK Riau Ir AZ Fachri Yasin MAgr saat memaparkan materi Peran Paguyuban dalam Peningkatan Percepatan Pembauran pada Seminar Percepatan Pembauran dalam Pembangunan Daerah Riau yang ditaja Forum Pembauran Kebangsaan (FPK), Sabtu (05/12/2020).

Seminar ini dibuka secara luring oleh Wakil Gubernur Riau (Wagubri) Brigjend TNI Purnawirawan Eddy Natar Nasution SIP,  sekaligus  sebagai keynotespeaker. Sedangkan narasumber yang dihadirkan yakni Dosen Pascasarjana Institute Bisnis dan Teknologi Pelita Indonesia Dr Nyoto PhD.

Dr Nyoto dalam seminar yang dimoderatori adalah Dr Santoso Almatesehi ini memaparkan materi Sumbangan Pemikiran Akdemisi dan Perguruan Tinggi dalam Upaya Mempercepat Pembauran (Ditinjau dari perspektif ke Tionghos-an).

Dipaparkan Fachri Yasin, pembauran kebangsaan adalah proses integrasi anggota masyarakat dari berbagai ras, suku dan etnis melalui integrasi sosial dalam bidang bahasa, adat istiadat, seni budaya, pendidikan dan perekonomian untuk mewujudkan kebangsaan Indonesia tanpa harus menghilangkan identitas ras, suku dan etnis masing-masing dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peningkatan persatuan dan kebangsaan sebagai bagian penting dari kerukunan nasional, maka diperlukan pembauran atas kebinekaan tersebut.

Dikatakannya juga, pembauran kebangsaan dilaksanakan oleh masyarakat difasilitasi dan dibina oleh pemerintah. Maka perlu ada suatu wadah informasi, komunikasi, konsultasi dan kerjasama antar masyarakat untuk menumbuhkan, memantapkan dan mengembangan pembauran kebangsaan. 

"Manfaat Pembauran Kebangsaan antara lain penyebarluasan pemahaman
mengenai Pembauran Kebangsaan, Meningkatkan kesadaran dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bemegara, Mendorong persatuan dan kesatuan bangsa, Memperkuat ketahanan nasional, Memantapkan eksistensi dan keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bemegara," beber Fahcri Yasin seraya menjelaskan, pembauran kebangsaan ini merupakan bagian penting dari kerukunan nasional yang akan memperkokoh integrasi bangsa. Pembauran kebangsaan akan meningkatkan penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia dengan tekad untuk berkehidupan kebangsaan yang bebas, merdeka dan bersatu serta cinta tanah air. 

"Dalam pembauran kebangsaan, masyarakat juga harus memahami wawasan dan nilai kebangsaan dengan baik. Wawasan kebangsaan merupakan rasa yang lahir secara alamiah karena
adanya kesadaran berbangsa, kebersamaan sosial yang tumbuh dari kebudayaan, sejarah dan aspirasi perjuangan masa lampau, serta kebersamaan dalam menghadapi tantangan masa kini dan masa yang akan datang," tambah Fachri Yasin.

Ditegaskannya, pembauran Kebangsaan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat dan seluruh komponen bangsa lainnya yang wajib dilaksanakan setiap saat, baik secara periodik maupun berkala serta berkelanjutan oleh pemerintah dan pemerintah daerah. 

"Karena itu, setiap ada program pemerintah yang berkaitan erat dengan program nasional, FPk dilibataktifkan. Seperti gugus tugas anti Narkoba, Covid 19, Karhutla dan lainnya. Selain itu, partisipasi FPK selalu diupayakan terlibat
dalam kegiatan mengatasi masalah daerah dalam bentuk bantuan kepada masyarakat," sebut Fachri Yasin seraya menyampaikan, sosialisasi pembauran kebangsaan adalah upaya untuk memasyarakatkan program pembauran kebangsaan agar masyarakat secara luas dapat memahami dan menghayatinya. Karena itu, penguatan kelembagaan pembauran kebangsaan melalui pembinaan sangat berperan penting dalam rangka pemantapan pembauran kebangsaan.

"Sosialisasi ini bertujuan untuk menyatukan kembali persepsi dan toleransi antar etnis, suku, ras dan agama agar tidak terjadi konflik sosial di tengah masyarakat. Selain untuk membangkitkan rasa dan semangat kebangsaan dikalangan masyarakat demi mendorong terwujudnya kehidupan harmonis yang akan mendukung percepatan pencapaian tujuan dan cita-cita nasional dalam suasana keutuhan bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun demikian, kesulitan akan dialami dalam bersosialisasi berkaitan dengan sikap dalam menghadapi egois maupun individualis yaitu kita tidak boleh melupakan takdir kita sebagai makhluk sosial yang mungkin saja sewaktu-waktu membutuhkan bantuan orang lain," ulas Fachri Yasin.

Dikatakannya juga, konflik terkadang terjadi karena kepentingan diri, golongan, komunitas dan masyarakat tertentu bisa menjadi kendala dalam mewujudkan kehidupan yang teratur. 

"Kita sebagai bangsa yang besar, sudah seharusnya semua elemen menyadari bahwa tiada kebesaran suatu bangsa tanpa merajut kebersamaan berbasis perbedaan, baik dalam ras,
etnis, dan agama. Dengan kata lain, membangun pembauran kebangsaan berpeluang besar terjadi kebersamaan dalam kerangka mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu masyarakat yang adil, makmur, sejahtera, cerdas dan mampu membangun perdamaian dunia. Disadari atau tidak disadari, konflik horizontal dapat terjadi di sekitar kita, antar tetangga, atau terjadi diperalat oleh pihak lain. Konflik antara warga masyarakat dengan entitas agama atau suku tidak menjadi modal sosial untuk perekat kebangsaan, malah menjadi pemicu konflik sosial," tutur Fachri Yasin.

Menurut Fachri Yasin, potensi konflik terkait dengan isu suku, agama, ras dan antar golongan menjadi hal yang harus ditangani dan dikelola secara arif dan bijaksana. Hal ini dimaksudkan, masyarakat tidak mudah terhasut dengan berbagai isu yang menyesatkan dan tidak jelasnya orang yang bertanggung jawab sebagai provokator.

"Banyak faktor penyebab terjadinya konflik di masyarakat. Antara lain disebabkan oleh perubahan sosial dan budaya masyarakat. Dimana terjadinya perubahan pada lembaga-lembaga sosial. Selanjutnya mempunyai pengaruhnya pada sistem-sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, pola-pola perilaku ataupun sikap-sikap dalam masyarakat itu yang terdiri dari kelompok-kelompok sosial. Dalam rangka menjaga dan memelihara keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa serta tetap tegaknya kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia diperlukan adanya komitmen seluruh bangsa dan upaya guna meningkatnya persatuan dan kesatuan bangsa," sebut Fachri Yasin.

Salah satu upaya fundamental untuk mengurangi permasalahan di atas, ungkap Fachri Yasin, perlu adanya pembauran kebangsaan. Ini merupakan bagian penting dari kerukunan nasional dalam upaya meningkatkan persatuan dan kesatuan. Dan konflik terkadang terjadi karena kepentingan diri, golongan, komunitas dan masyarakat tertentu bisa menjadi kendala dalam mewujudkan kehidupan yang teratur. 

"Kita sebagai bangsa yang besar, sudah seharusnya semua elemen menyadari bahwa tiada kebesaran suatu bangsa tanpa merajut kebersamaan berbasis perbedaan, baik dalam ras, etnis, dan agama. Dengan kata lain, membangun pembauran kebangsaan berpeluang besar terjadi kebersamaan dalam kerangka mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu masyarakat yang adil, makmur, sejahtera, cerdas dan mampu membangun perdamaian dunia. Kehidupan rukun, damai dan sejahtera dalam kemajemukan masyarakat masih
menemukan hambatan, misalnya konflik antara kelompok buruh, petani, dan masyarakat adat dengan negara atau swasta/perusahaan. Karena itu kita perlu mengelola konflik secara demokratis. Salah satu cara mengatasi konflik tersebut diperlukan tokoh masyarakat sebagai duta kearifan lokal dalam penyelesaian konflik, sebagai mediator, negosiator dan inisiator serta sebagai bagian dari media untuk rekayasa sosial. Potensi konflik terkait dengan isu suku, agama, ras dan antar golongan menjadi hal yang harus ditangani dan dikelola secara arif dan bijak," beber Fachri Yasin.

Butuh Solidaritas

Fachri Yasin juga menjelaskan, pembauran kebangsaan merupakan bagian dari proses pembudayaan bangsa yang harus dipacu ke arah yang positif, masyarakatnya bersikap tenggang rasa, rukun damai dan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap kebersamaan dan kesetiakawanan tanpa harus menghapus identitas dan budaya masing-masing. 

Dikatakannya, kelompok individu di bawah suatu paguyuban memiliki hubungan pribadi yang kuat, ada pembagian kerja, dan lembaga sosial dasar yang relatif sederhana dan terikat oleh kepercayaan dan norma yang umum. Norma-norma ini membantu mengatur perilaku manusia. Meski pada masyarakat perkotaan sudah tidak bisa dipungkiri lagi bahwa rasa solidaritas tersebut mulai memudar. Itu dikarenakan sifat masyarakatnya yang dominan akan keindividuannya, sifat acuh tak acuh dan lebih mementingkan diri sendiri dibandingkan dengan rasa kebersamaan terhadap masyarakat.

"Bangsa Indonesia mempunyai banyak keragaman dan kekayaan yang sangat
membutuhkan solidaritas antara sesama demi terwujudnya kehidupan yang harmonis," katanya.(*)

Penulis: Zulmiron


 Editor : Zulmiron

[Ikuti HarianTimes.com Melalui Sosial Media]


HarianTimes.com

Berita Lainnya

  • +

KLH/BPLH Perkuat Pencegahan Karhutla di Lahan Gambut Riau

Perkuat Sinergi Antar-Instansi, Kakanwil Kemenkum Riau Hadiri Kenal Sambut Kakanwil Ditjen PAS

Nurhasanah: Jangan Mudah Terpengaruh oleh Pesan yang Belum Jelas Sumber dan Kebenarannya

KI Riau Ingatkan Pentingnya Optimalisasi PPID di Lingkungan Pemko Pekanbaru

Mediasi Sengketa Informasi Disdik Riau dan Zonny Hundri Capai Kesepakatan

Manggala Agni Tuntaskan Karhutla di Rupat, Fokus Mopping Up di Rohil

KLH/BPLH Perkuat Pencegahan Karhutla di Lahan Gambut Riau

Perkuat Sinergi Antar-Instansi, Kakanwil Kemenkum Riau Hadiri Kenal Sambut Kakanwil Ditjen PAS

Nurhasanah: Jangan Mudah Terpengaruh oleh Pesan yang Belum Jelas Sumber dan Kebenarannya

KI Riau Ingatkan Pentingnya Optimalisasi PPID di Lingkungan Pemko Pekanbaru

Mediasi Sengketa Informasi Disdik Riau dan Zonny Hundri Capai Kesepakatan

Manggala Agni Tuntaskan Karhutla di Rupat, Fokus Mopping Up di Rohil



Tulis Komentar



HarianTimes TV +

Pipa Minyak Blok Rokan di Km 16 Balam, Rohil Bocor, Minyak Mentah Membasahi Hampir Sebagian Badan Jalan

24 Juli 2024
Harlindup, Aktivis Lingkungan Kunni Marohanti Turun ke Jalan Kampanyekan Keadilan Ekologis
05 Juni 2023
Rakernas Berakhir, SMSI Minta Presiden Joko Widodo Tidak Menandatangani Rancangan Perpres Publisher Right
08 Maret 2023
TERKINI +
Menyemai Kemandirian UMKM Seroja Melalui Penguatan Kapasitas Budidaya Jamur
22 Juni 2026
Perkuat Kapasitas Analis Kebijakan Berbasis Bukti, Kemenkum Riau Ikuti Policy Talks 2026
22 Juni 2026
2.500 Peserta Ramaikan Gerak Jalan Santai Milad Unilak, Rektor Luncurkan Prodi Baru
21 Juni 2026
Sambut 5.000 Wartawan, PWI Pusat Matangkan Persiapan HPN dan Porwanas 2027 di Lampung
21 Juni 2026
Cerminan Moderasi Beragama dalam Kebersamaan
21 Juni 2026
Gaungkan Gerakan P4GN, Harry Setiawan: Literasi Digital Jadi Benteng Generasi Muda dari Bahaya Narkoba
21 Juni 2026
Defizon: Enam Orang Jemaah Masih di Arab Saudi
21 Juni 2026
Waspada Penipuan!, UIR Tegaskan Tidak Pernah Menagih UKT Melalui WhatsApp, SMS Maupun Medsos
20 Juni 2026
Kloter BTH 18 Tiba di Tanah Air, Defizon: Kepulangan Jadi Bagian Proses Pemulangan Jemaah Haji Riau
20 Juni 2026
KLH/BPLH Perkuat Pencegahan Karhutla di Lahan Gambut Riau
20 Juni 2026
TERPOPULER +
  • 1 AI Ubah Wajah Industri Media, Ilona: Era ‘Homeless Media’ Mulai Mendominasi
  • 2 Kick Off Forum Komunikasi Kebijakan 2026, Kemenkum Riau Dorong Sinergi Analisis Kebijakan Publik
  • 3 Kanwil Kemenkum Riau Laksanakan Harmonisasi Enam Ranperbup Kabupaten Kuansing
  • 4 Gelar Workshop dan FGD AI di Batam, SMSI Riau Kupas Peluang Bisnis Era New Media
  • 5 IZI Sumbar dan JNE Luncurkan Program Pemberdayaan UMKM Dhuafa
  • 6 Dipercaya Lagi Pimpin APHTN-HAN Riau Periode 2026-2031, Dr Maxaxai Indra: Kita Ingin Perkuat Sinergi Antara Anggota
  • 7 Indosat, Adobe dan Kemenekraf Berkolaborasi Ubah Kreativitas Jadi Peluang Nyata, Kreator Bersiaplah!
  • 8 Kakanwil Kemenkum Riau Hadiri Pelepasan Peserta Magang Kemnaker Batch III Secara Hybrid
  • 9 Ikuti Forum Policy Talks Virtual, Kemenkum Riau Optimalkan Peran Analis Kebijakan Hukum
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
HarianTimes.com ©2018 | All Right Reserved