Pekanbaru. Hariantimes.com - PT Patra Drilling Contractor (PDC) terus memperkuat komitmennya dalam memberdayakan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Salah satu program yang dikembangkan adalah MALIKA (Mari Kelola Jelantah Kita), yakni program edukasi dan pemberdayaan masyarakat untuk mengolah limbah minyak jelantah menjadi produk bernilai ekonomi, seperti sabun dan lilin aromaterapi.
Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk mengurangi dampak lingkungan akibat pembuangan minyak jelantah, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk memperoleh tambahan pendapatan melalui pengembangan usaha berbasis UMKM.
Direktur Keuangan dan Penunjang Bisnis PT PDC, Fitra Adriza didampingi Manager Corsec Ani Aryani mengatakan, program MALIKA dirancang berdasarkan pemetaan sosial atau social mapping terhadap potensi dan kebutuhan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
"Kami melakukan social mapping untuk melihat potensi dan kebutuhan masyarakat sekitar. Karena bisnis catering kami menghasilkan limba minyak jelantah secara konsisten, limbah ini dimanfaatkan dan dikonversi menjadi produk yang bisa menambah pendapatan warga," ujar Fitra saat bersilaturahmi dengan insan pers di Pekanbaru, Selasa (18/08/2026).
Menurut Fitra, program pengolahan minyak jelantah tersebut merupakan pengembangan dari program pemberdayaan yang telah dilaksanakan PDC pada tahun sebelumnya di wilayah Duri, Kabupaten Bengkalis.
Pada 2025, PDC memberdayakan masyarakat di dua desa, yakni Desa Petani dan Desa Buluh Manis, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis. Hasilnya cukup positif. Kelompok binaan di wilayah tersebut mampu membukukan omzet penjualan sekitar Rp83 juta dalam kurun waktu satu tahun dari produk sabun dan lilin yang dihasilkan.
"Melihat keberhasilan tersebut, PDC memperluas jangkauan program pada tahun 2026 ini ke tiga desa di wilayah Bangko, yakni Bangko Permata, Bangko Jaya dan Bangko Bakti, Kecamatan Bangko, Kabupaten Rokan Hilir," ungkapnya.
PDC juga merencanakan pengembangan program serupa ke wilayah Marunda, Jakarta Utara, sebagai bagian dari upaya memperluas dampak program pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan.
Sementara itu, Ani Aryani menjelaskan, proses pengolahan minyak jelantah dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari penyaringan hingga pemurnian menggunakan bahan pendukung tertentu.
Minyak jelantah yang berasal dari unit bisnis katering perusahaan terlebih dahulu disaring dan diproses beberapa kali untuk mengurangi endapan, bau, serta warna gelap. Setelah melalui proses pemurnian, minyak yang telah lebih jernih kemudian diolah bersama bahan pendukung untuk menghasilkan sabun dan lilin aromaterapi.
"Produk akhir dipasarkan ke lingkungan sekitar, dimanfaatkan oleh pemerintah desa setempat sebagai suvenir resmi desa, serta dibeli kembali oleh PT PDC untuk kebutuhan suvenir acara perusahaan," kata Ani.
Fitra menambahkan, keberlanjutan program tersebut didukung oleh ketersediaan bahan baku yang berasal dari limbah minyak jelantah unit katering perusahaan serta pelatihan yang dilakukan secara berkelanjutan kepada kelompok masyarakat binaan.
Melalui program MALIKA, PDC berharap masyarakat tidak hanya mampu mengurangi limbah yang berpotensi mencemari lingkungan, tetapi juga memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan baru.
"Program ini telah dimulai sejak 2025 di Duri dan berlanjut serta berkembang pada 2026 di Bangko. Program ini memanfaatkan limbah dapur catering perusahaan agar tidak mencemari lingkungan sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat sekitar," ujarnya.
Program MALIKA yang dilaksanakan pada 14 hingga 16 Juli 2026 tersebut melibatkan 25 peserta dari Desa Bangko Bakti, Desa Bangko Jaya, dan Desa Bangko Permata, Kecamatan Bangko Pusako, Kabupaten Rokan Hilir, Riau.
Para peserta mendapatkan edukasi mengenai dampak pembuangan minyak jelantah terhadap lingkungan, sekaligus pelatihan teknis mengolah limbah tersebut menjadi produk bernilai guna, seperti lilin aromaterapi dan sabun.
Program ini menjadi salah satu bentuk sinergi antara upaya menjaga lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, dengan memanfaatkan limbah yang sebelumnya tidak bernilai menjadi produk yang memiliki nilai jual.
Dengan pengembangan program secara berkelanjutan, PDC menargetkan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan dapat semakin kuat dan mampu mendorong kemandirian ekonomi berbasis UMKM.
(*)