Pelalawan, Hariantimes.com - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau melalui Resor Kerumutan utara dan Resor Kerumutan berhasil mengamankan dua unit truk beserta muatan kayu olahan di dalam kawasan konservasi Suaka Margasatwa Kelurahan Teluk Meranti, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau.
Kepala Balai Besar KSDA Riau Supartono SHut MP melalui kepala Bagian Tata Usaha Laskar Jaya Permana mengatakan, pengungkapan kasus ini bermula saat tim melaksanakan kegiatan patroli rutin Smart Patrol di kawasan Suaka Margasatwa Kerumutan pada Kamis (05/03/2026) sekitar pukul 02.50 WIB.
Saat itu tim patroli menemukan dan mengamankan satu unit mobil truk merek Mitsubishi Canter dengan nomor polisi BM 9869 SU yang sedang melakukan aktivitas pemuatan kayu dua orang pelaku yang diduga berasal dari aktivitas ilegal di Parit Mega, Kelurahan Teluk Meranti, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan.
Namun pada saat penyergapan pelaku melarikan diri. Selanjutnya Laskar mengatakan bahwa Tim kembali melanjutkan patroli dan sekitar pukul 03.15 WIB, Tim kembali menemukan satu unit mobil truk merek Isuzu Giga dengan nomor polisi BM 9382 UN yang tengah melakukan aktivitas pemuatan kayu di Parit Pago, Kelurahan Teluk Meranti, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan.
Selanjutnya Tim memberikan tembakan peringatan agar pelaku tidak melarikan diri dan ketika itu berhasil diamankan seorang sopir dengan inisial G dan seorang kernet inisial H.
Selanjutnya, dua unit truk yang berisikan kayu olahan dan dua orang pelaku diamankan ke Kantor Resor Kerumutan Utara di Kelurahan Teluk Meranti.
Selanjutnya bersama dengan Balai Gakkum melalui Seksi Wilayah II, tim kemudian melakukan pengawalan dan membawa dua unit truk beserta dua pelaku ke Kantor Seksi Wilayah II Balai Gakum di pekanbaru untuk proses hukum lebih lanjut sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pelaku diduga melanggar Tindak pidana bidang Kehutanan yaitu mengangkut, menguasai, atau memiliki hasil hutan kayu yang tidak dilengkapi secara bersama surat keterangan sahnya hasil hutan dan/atau melakukan pengangkutan kayu hasil hutan tanpa memiliki dokumen yang merupakan surat keterangan sahnya hasil hutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan sebagaimana telah diubah dengan Pasal 37 Angka 13 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang dan/atau Pasal 88 ayat (1) huruf a UndangUndang Nomor 18 tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan Jo. Pasal 20 huruf c Undang-Undang Nomor 1 tahun 2023 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 5 tahun serta pidana denda paling sedikit Rp500.OO0.000 dan paling banyak Rp2.500.000.000.
Selanjutnya Laskar mengatakan, Kegiatan patroli dan penindakan ini merupakan kegiatan rutin dalam upaya pengawasan serta penegakan hukum di kawasan konservasi guna mencegah dan menindak aktivitas ilegal yang merusak ekosistem hutan serta mengancam kelestarian keanekaragaman hayati di Suaka Margasatwa Kerumutan.
"Mari kita Bersama-sama menjaga hutan kita untuk menghindari bencana seperti banjir, longsor, kekeringan dan hilangnya habitat satwa," ajak Laskar. (*)