Kanal

PPI Lestarikan Kekayaan Budaya Melalui Karya Sastra

Jawa Barat, Hariantimes.com - Komunitas Penyair Perempuan Indonesia (PPI) kembali menggelar program Pulang ke Kampung Tradisi (PKT) ke-6 di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Kegiatan tahunan yang berlangsung pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026 itu mengusung tema "Milampah Tapak Kuningan" sebagai upaya menggali, mendokumentasikan dan melestarikan kekayaan budaya melalui karya sastra.

Selama tiga hari, para penyair perempuan dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti sejumlah agenda budaya, di antaranya menggali tradisi Pasar Renteng Cibogo, mengunjungi Kampung Adat Majalaya, mengikuti Bincang Sastra dan Pergelaran Seni, serta mengkaji harmonisasi antara Gunung Ciremai dengan kehidupan masyarakat Kuningan.

Ketua PPI, Kunni Masrohanti mengatakan, Kuningan dipilih sebagai lokasi PKT ke-6 berdasarkan hasil musyawarah pengurus dan anggota PPI. Tema kegiatan juga ditetapkan melalui diskusi panjang yang melibatkan panitia dan seluruh pengurus.

"Pulang ke Kampung Tradisi tahun ini merupakan penyelenggaraan yang keenam. Kuningan dipilih sebagai tujuan berdasarkan kesepakatan bersama dengan mempertimbangkan lokasi serta kesiapan seluruh anggota. Program ini merupakan bagian dari upaya pemajuan kebudayaan melalui jalan puisi," ujar Kunni.

Menurutnya, salah satu capaian terpenting dari setiap penyelenggaraan PKT adalah lahirnya buku antologi puisi sebagai dokumentasi perjalanan budaya. Dari PKT ke-6 ini, PPI kembali akan menerbitkan antologi puisi yang menjadi buku keenam hasil program tersebut.

Sebelumnya, PPI telah menerbitkan antologi Temanten (PKT 1), Umbul Pasiraman (PKT 2), Ajari Aku Baduy (PKT 3), Nyulam Kata Tanah di Lada (PKT 4), dan Susur Sisir Tengger (PKT 5). Sebelum program PKT digagas, PPI juga telah menerbitkan buku Palung Tradisi.

"PKT merupakan upaya PPI mendokumentasikan sekaligus melestarikan objek-objek kebudayaan melalui puisi, termasuk bahasa daerah dan bentang alam yang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan masyarakat. Kami berharap buku-buku puisi yang lahir dari perjalanan ini dapat menjadi kontribusi nyata bagi pelestarian budaya bangsa," katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia Rini Intama menjelaskan, persiapan kegiatan diawali dengan survei lapangan ke sejumlah lokasi di Kuningan. Panitia juga berdialog dengan tokoh masyarakat, budayawan, seniman, sastrawan, serta pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) untuk menentukan lokasi yang paling representatif.

"Setiap kampung memiliki keunikan dan kearifan lokalnya masing-masing. Namun karena keterbatasan waktu, kami harus memilih lokasi yang paling tepat. Seluruh keputusan diambil melalui survei dan konsultasi bersama tokoh budaya, seniman, sastrawan, serta komunitas sastra di Kuningan sebelum akhirnya dibahas bersama pengurus PPI," jelas Rini.

PKT ke-6 diikuti oleh penyair perempuan dari berbagai daerah di Indonesia, yakni Kunni Masrohanti dan DM Ningsih (Pekanbaru), Nia Kurnia (Bandung), Rini Intama (Banten), Ponnoer (Sukabumi), Juliani Rangkuti, Retno Indarsih, Rissa Churia, dan Berti Khajati (Bekasi), Mezra E. Pellondou (Kupang, NTT), Ayu Yulia Johan (Jakarta), Dyah Susilowati dan Teti Marlina (Bogor), Heti Palestina Yunani (Surabaya), Nunung Noor el Noel (Bali), Chie Setiawati (Kuningan), Puput Amiranti (Jawa Timur), Ratna Ayu Budhiarti, Yoza Veronika, dan Asmariah (Yogyakarta), Resti Nurfaidah (Bandung), Veronika Sri Wahyuningsih (Tangerang), Eva Septiana (Tuban), Iin Muthmainnah (Lampung), Devi Komala Syahni (Jakarta), Khoiriyah (Palembang), M Ade Putra (Riau), serta Alang Alang Khatulistiwa (Sumatera Barat).(*)
 

Berita Terkait

Berita Terpopuler