seminarkan peny" />
 
Home | Nasional | Riau | Ekonomi | Politik | Hukrim | Pendidikan | Sportivitas | Sosialita | Wisata | Indeks Senin, 24 Agustus 2020
 
Seminarkan Penyelesaian Sengketa Hukum
Himpunan Mahasiswa FH UIR Hadirkan Lawyer dari Australia
Sabtu, 05 Oktober 2019 - 17:15:18 WIB
John Woodward bercerita pengalamannya sebagai lawyer dan mediator dalam menyelesaikan sengketa hukum di Australia.

Pekanbaru, Hariantimes.com - Himpunan Mahasiswa Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Islam Riau (FH UIR) seminarkan penyelesaian sengketa hukum, Sabtu (05/10/2019).


Seminar bertajuk 'Regulation and Implementation of Alternative Dispute Resolution (A Legal Comparative between Australia and Indonesia) yang dimoderatori Evriliana Yothi ini menghadirkan tiga narasumber utama. Yakni Dr John Woodward, Lawyer Researching Dispute Rosolution, Associete Lecturer Newcastle Law School, Assoc. Prof Dr Abdul Thalib SH MCL dan Assist. Prof Dr Admiral SH MH. Keduanya adalah Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Riau.


Di kesempatan itu, John Woodward banyak bercerita tentang pengalamannya sebagai lawyer dan mediator dalam menyelesaikan sengketa hukum di Australia.


Menurut John, dalam menyelesaikan sengketa atau perselisihan para pihak perlu melakukan pendekatan ADR (Alternative Dispute Resolution) daripada menempuh jalur hukum ke pengadilan. Mediasi sebagai salah satu bentuk alternatif penyelesaian sengketa, kata John, menjadi solusi yang tepat untuk menyelesaikan sengketa.


''Pola penyelesaian sengketa melalui mediasi sering dilakukan di Australia dan terbukti ampuh menyelesaikan berbagai masalah bisnis. Faktor lain adalah karena budaya masyarakatnya tidak lagi menjadikan pengadilan sebagai pilihan pertama penyelesaian sengketa. Berperkara ke pengadilan juga butuh biaya yang tidak sedikit,'' ungkap John Woodward.


Sementara Abdul Thalib. Thalib berpendapat, arbitrase merupakan jalan terbaik penyelesaian perselisihan. Apalagi sekarang  banyak kasus menumpuk di Mahkamah Agung yang menunggu putusan kasasi. Sehingga, hakim-hakim di Mahkamah agak kewalahan menangani kasus karena jumlahnya terus bertambah. Alasan lain,  karena berperkara melalui pengadilan membutuhkan biaya besar, dikarenakan banyak pihak menginginkan perselisihan diselesaikan di luar pengadilan.


Di samping itu, kata Abdul Thalib, itu juga tuntutan para pebisnis. Sebab berperkara melalui pengadilan sejak di tingkat pertama hingga kasasi dapat menghabiskan waktu 6 sampai 8 tahun. ''Bagi pebisnis waktu selama itu selain mengurus energi, tenaga juga fikiran. Pihak asing pun menuntut Indonesia memiliki arbitrase yang bertugas menyelesaikan perselisihan. Mereka lebih senang melibatkan arbitrase dalam berperkara daripada pengadilan,'' ujar Abdul Thalib.


Senada dengan Thalib, Admiral menyatakan sebuah kontrak yang baik harus disertai dengan pengaturan sengketa di luar pengadilan. 


''Kalau anda membuat kontrak maka jangan buat kontrak yang sifatnya mengancam. Misalnya menulis dengan kalimat, apabila timbul sengketa di antara para pihak maka akan ditempuh  melalui jalur hukum dalam wilayah pengadilan negeri Pekanbaru," ujar Admiral.


Menurut Admiral, kalimat seperti itu bernada mengancam. Ini tidak baik apalagi orang Indonesia itu suka baper. Anda harus gunakan klausula yang lebih responsif. Antara lain menyertakan, 'apabila timbul sengketa yang diakibatkan terjadinya perbedaan pandangan dalam hal dilakukannya hubungan kontrak maka para pihak sepakat untuk menempuh jalur konsultasi dan negosiasi dengan iktikad baik'.


Ini penting sebab, seperti kata Abdul Thalib, di tahun 2017 saja perkara yang menumpuk di Mahkamah Agung bisa mencapai 2.500 kasus. Jadi, lanjut Dekan Fakultas Hukum ini gunakan selalu konsultasi dan negosiasi dalam menyelesaikan setiap problem yang timbul dalam berkontrak. ''Ini lebih terhormat daripada berperkara menggunakan jalur hukum di pengadilan,'' imbuh Admiral.(*)


Editor: Zulmiron




 
Berita Lainnya :
  • Himpunan Mahasiswa FH UIR Hadirkan Lawyer dari Australia
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Edwin: Lahan Masyarakat dengan Indikasi Unsur Kesengajaan
    02 RAPP Kampanyekan "Dari Sampah Menjadi Berkah dan Emas"
    03 Zapnil Helmi : Gubri Berikan Bantuan 220 Ribu Benih Ikan
    04 Gubri : Semoga Porprov Nanti Bisa Berkontribusi Terhadap Masyarakat
    05 Silaturahmi Masyarakat Baserah Untuk Percepatan Pembangunan
    06 Desa Ujung Tombak Pembangunan, Jhon Pitte Alsi : Jangan Minder Dengan Media
    07 LPMP Tunjuk SMPN 34 Pekanbaru Sebagai Sekolah Model SPMI
    08 Jokowi: Saya Akan Terus Bagikan ke Rakyat Kecil
    09 Kunni: bukan Mengerdilkan Diri, Apalagi Bersaing dengan Lelaki
    10 Menteri Siti: Negara Tidak akan Lemah Pada Penjahat Lingkungan
    11 Syamsidir Atan Mandau Terpilih Lewat Jalan Musyawarah Mufakat
    12 Dewan Pers Berikan UKW Gratis untuk 480 Wartawan
    13 Atal S Depari: Kami Menolak Adanya Pasal 18 Ayat (4)
    14 29 Februari, PWI akan Gelar Porwada Catur
    15 PWI Meranti Gelar Pelatihan Jurnalistik Industri Hulu Migas
    16 Karantina Wilayah Kerja Selatpanjang Musnahkan 681 Kg Buah Asal Malaysia
    17 Presiden Jokowi: Kalau Mereka Ngurus Izin, Tolong Dipermudah
    18 Amril: Tolong Jaga Marwah Organisasi
    19 M Nuh: Proses Verifikasi Faktual SMSI Sedang Proses Tahap Akhir
    20 Dispar Riau Sosialisasikan Pergub Pembentukan BRCN
    21 Sabtu, DPD Kosgoro 1957 Pekanbaru akan Dilantik
    22 Ratna: Setiap Desa Agar Memiliki Dasa Wisma
     
     
    Galeri Foto | Advertorial | Indeks Berita
    Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Tentang Kami
    © HarianTimes.Com - #Kanal Informasi Public