Kanal

Matangkan Persiapan Puncak Haji, Kloter BTH 09 Gelar Manasik Armuzna dan Sosialisasikan Skema Murur

Makkah, Hariantimes.com - Menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji pada 8 hingga 13 Zulhijjah mendatang, jemaah calon haji kloter BTH 09 mengikuti kegiatan bimbingan manasik Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina). 

Kegiatan pemantapan yang dilangsungkan di Hotel 201 Talal Al Ghadir bertujuan agar jemaah siap secara fisik dan batin menghadapi fase paling krusial dalam ibadah haji.
Bimbingan manasik ini diselenggarakan secara sinergis oleh seluruh jajaran petugas haji kloter, yang terdiri dari Ketua Kloter, Pembimbing Ibadah, Tim Kesehatan (Dokter dan Perawat), serta Tenaga Haji Daerah (TKHD). Kehadiran formasi lengkap petugas ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif, baik dari sisi syariat ibadah maupun mitigasi kesehatan.

Skema Pergerakan dan Aturan Bawaan

Dalam sesi bimbingan, Petugas Haji Pembimbing Ibadah, H. Suryandi Temala Bonar, Lc., MA., memaparkan secara rinci skema pergerakan jemaah selama di Armuzna. Alur pergerakan tersebut meliputi perjalanan dari hotel menuju Arafah, dilanjutkan ke Mina, prosesi Lontar Jamarat, Tahalul Awal, Mabit, hingga kembali ke hotel dan pelaksanaan Tawaf Ifadhah.

"Saat mengenakan pakaian ihram untuk Armuzna, jemaah diimbau hanya membawa tas khusus Armuzna. Terkait jam keberangkatan dan skema pastinya, kita saat ini masih menunggu instruksi resmi dari pihak Syarikah dan Daker Instruksi tersebut nantinya akan diteruskan ke Ketua Kloter dan didistribusikan kepada para Ketua Rombongan (Karom)," jelas H Suryandi.

Di Padang Arafah nanti, prosesi ibadah akan diisi dengan penyampaian khutbah wukuf terlebih dahulu, yang kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan shalat Zuhur dan Ashar secara jamak qashar, sesuai dengan pendapat mayoritas  ulama.

Penerapan Skema Murur, Tanazul, dan Rukhsah Ibnu Abbas

Pada malam hari setelah wukuf, jemaah akan didorong dari Arafah menuju Muzdalifah menggunakan bus. Tahun ini, jemaah akan difokuskan pada skema Murur, yakni melintas di Muzdalifah tanpa turun dari bus.

"Bagi jemaah lansia, risiko tinggi (risti), penyandang disabilitas, serta para pendampingnya, diperbolehkan untuk tidak mabit di Muzdalifah. Ini adalah bentuk *rukhsah* (keringanan) dalam agama yang bersandar pada pendapat sahabat Ibnu Abbas," tegas H. Suryandi lulusan Universitas di Suriah

Karena penerapan murur tersebut, jemaah lansia dan risti akan langsung diberangkatkan menuju tenda Mina Jadid (Zona 5) yang juga menjadi lokasi maktab bagi kloter BTH lainnya seperti BTH 06, 07, 08, dan seterusnya.

Di Mina Jadid, jemaah lansia dan risti akan diinapkan, sementara kewajiban Lontar Jamarat mereka akan dibadalkan (diwakilkan). Setelah malam tanggal 10 Zulhijjah, kelompok jemaah ini akan diantar kembali menggunakan bus menuju hotel yang berjarak sekitar 4 kilometer dari Jamarat.

Sementara itu, bagi jemaah yang memiliki kondisi fisik sehat dan kuat, pergerakan akan dilakukan dari hotel menuju Jamarat untuk melontar secara mandiri, serta melakukan mabit (sesaat) di area yang berdekatan dengan Jamarat.

Fleksibilitas Pelaksanaan Tawaf Ifadhah

Menutup bimbingannya, H. Suryandi juga memberikan penekanan terkait rukun haji terakhir, yaitu Tawaf Ifadhah, Sa'i, dan Tahallul Tsani. Ia meminta jemaah untuk bijak mengatur tenaga dan waktu.

"Waktu untuk melaksanakan Tawaf Ifadhah itu sangat luas. Jemaah tidak perlu memaksakan diri untuk turun ke Masjidil Haram pada tanggal 10 Zulhijjah, mengingat kondisi lalu lintas dan kepadatan massa yang sangat tinggi pada hari tersebut," pungkasnya.

Dengan sosialisasi dan manasik yang matang ini, jemaah kloter BTH 09 diharapkan dapat menjalani seluruh rangkaian puncak ibadah haji dengan lancar, aman, dan meraih predikat haji yang mabrur. Biiznillah, dengan iringan doa seluruh masyarakat Riau.(*)

Berita Terkait

Berita Terpopuler