Pekanbaru, Hariantimes.com - Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PKS, Dr H Syahrul Aidi Maazat Lc MA menekankan pentingnya evaluasi total terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Meski program MBG ini dinilai baik untuk peningkatan kualitas SDM, namun Syahrul memberikan catatan kritis terkait efektivitas anggaran dan ketepatan sasaran di lapangan.
Hal itu disampaikannya dalam acara silaturahmi bersama insan pers Riau di Wareh Kupie, Jalan Arifin Achmad, Pekanbaru, Kamis (23/04/2026).
Syahrul Aidi menyayangkan adanya pos anggaran yang dianggap tidak menyentuh substansi oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Contohnya pengadaan semir sepatu sebesar Rp1,6 miliar dan pembelian motor operasional senilai Rp50 juta per unit.
"Kebutuhan petugas di lapangan tidak memerlukan spesifikasi semahal itu, hanya untuk mengontrol dapur. Seharusnya operasional staf lebih difokuskan pada fungsi kontrol kualitas makanan di sekolah pelosok, bukan untuk fasilitas mewah," tegas Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI tersebut.
Menurutnya, anggaran jumbo senilai Rp335 triliun untuk program MBG sangat membebani APBN. Jika tidak dikaji mendalam, program ini berisiko menguras pos anggaran penting lainnya, terutama di saat transfer dana pusat ke daerah sedang terkendala.
"Kami memberi masukkan secara persuasif agar program ini tepat sasaran. Jangan sampai mereka yang sudah mampu secara ekonomi tetap mendapat bantuan, sementara anggaran daerah sedang terjepit. Fokuslah pada anak-anak di daerah tertinggal," tambahnya.
Dampak Efisiensi dan Kondisi Keuangan Daerah
Sejalan dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto mengenai efisiensi anggaran, Syahrul melihat adanya kontradiksi antara semangat penghematan dengan pola belanja kementerian. Efisiensi ini pun berdampak luas, termasuk menurunnya anggaran kemitraan media di daerah secara drastis.
Syahrul juga menyoroti kesulitan keuangan yang dialami banyak kepala daerah akibat kemacetan transfer dana dari pusat. "Daerah seperti Pekanbaru dan Riau yang bergantung pada Dana Bagi Hasil (DBH) pasti merasakan dampaknya. Kita harus bersiap menghadapi tantangan ini," ungkapnya.
Ancaman Krisis Global dan Kenaikan BBM
Selain masalah domestik, Syahrul memperingatkan kerentanan ekonomi Indonesia terhadap konflik global. Ketegangan antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat telah memicu lonjakan harga BBM global.
"Harga BBM nonsubsidi kini mencapai Rp24.000 per liter. Kondisi ini akan memberikan efek berantai yang nyata bagi masyarakat dalam beberapa bulan ke depan. Kita harus siap menghadapi gejolak ekonomi akibat dinamika geopolitik di Timur Tengah," jelasnya.
Apresiasi dan Sinergi dengan Media
Di sela diskusi, Syahrul menyampaikan terima kasih kepada jurnalis Riau yang telah aktif menyosialisasikan Empat Pilar melalui karya opini. Terkait lomba penulisan yang diadakan sebelumnya, Syahrul telah mengantongi tiga nama terbaik.
"Untuk penentuan juara 1, 2, dan 3, saya serahkan kepada senior media agar penilaian tetap objektif. Ke depan, saya berkomitmen memperkuat silaturahmi dengan rekan media di Pekanbaru dan Riau secara luas, tidak hanya terfokus di Kampar saja," pungkasnya.(*)
Penulis: Zulmiron