Pekanbaru, Hariantimes.com -Tari Zapin massal berkebaya Laboh Kekek Riau pecahkan Rekor Dunia sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) tahun 2026 dengan total peserta lebih kurang 6.085 penari.
Dengan rincian:
- 2750 organisasi anggota BKOW Riau,
- 1163 organisasi perempuan lainnya,
- 1347 dari guru SMK, SMA & MA
- 825 dari Dharma Wanita, PKK, dan GOW kabupaten/kota.
Rekor Dunia atau Museum Rekor Dunia-Indonesia tersebut, merupakan pencatatan prestasi unik, pertama, terukur dan langka terjadi di Indonesia.

"Rencana awal kegiatan ini akan ditetapkan hanya sebagai Rekor Muri dengan penari terbanyak yang melibatkan 4.000 penari. Namun, setelah dilakukan verifikasi ulang saat kegiatan, ternyata pesertanya melebihi dari target sebelumnya yaitu mencapai 6.085 pensri. Sehingga rencana penetapan sebelumnya dibatalkan dan di tingkatkan menjadi rekor MURI tingkat dunia..Karena ini bukan lagi Rekor MURI, namun sudah Rekor Dunia. Zapin merupakan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia yang hanya ada di Provinsi Riau,” ungkap Senior General Manager MURI Triyono saat memberikan sambutan sekaligus penetapan prestasi pada acara pelaksanaan Tari Zapin Massal Berkebaya Laboh Kekek di Jalan Gajah Mada, Pekanbaru, Minggu (11/01/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Riau melalui Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Riau tersebut mengusung tema “Bersatu Dalam Gerak Zapin Lestarikan Budaya Melayu”.
Menurut Triyono, Tari Zapin Massal ini juga merupakan komitmen dan konsisten masyarakat Riau dalam menjunjung tinggi budaya. Meski saat ini perkembangan modern semakin maju, Riau tidak lepas dan lupa dengan terus membesarkan budaya.
Di tempat yang sama, Ketua Umum BKOW Provinsi Riau, Adrias Hariyanto menegaskan, keterlibatan ribuan perempuan dalam pemecahan rekor ini memiliki makna strategis bagi pelestarian budaya Melayu.

Menurutnya, perempuan Riau memegang peran penting dalam merawat sekaligus menghidupkan nilai-nilai budaya agar tetap relevan bagi generasi penerus.
“Pemecahan Rekor MURI Tari Zapin ini adalah ikhtiar budaya, ikhtiar untuk menunjukkan bahwa perempuan Riau hadir di garda terdepan dalam menjaga, merawat, dan menghidupkan warisan Melayu,” ujarnya.
Antusiasme peserta yang melampaui target awal disebut Adrias sebagai cerminan kuatnya semangat kolektif perempuan Riau. Para penari berasal dari berbagai organisasi dan latar belakang, namun disatukan oleh komitmen yang sama untuk melestarikan budaya Melayu.
Tari Zapin bukan sekadar rangkaian gerak tari, melainkan sarat makna dan nilai kehidupan masyarakat Melayu yang patut terus diwariskan.
“Zapin bukan hanya rangkaian gerak, melainkan tunjuk ajar. Di dalamnya terkandung nilai kebersamaan, kedisiplinan, kesantunan, serta religiusitas,” katanya.
Adrias juga mengapresiasi dedikasi seluruh peserta yang telah menjalani latihan rutin selama hampir dua bulan. Kedisiplinan, kekompakan, dan kesungguhan para perempuan tersebut dinilai menjadi bukti bahwa pelestarian budaya membutuhkan proses panjang, komitmen, dan kebersamaan.
“BKOW Provinsi Riau turut menyampaikan terima kasih kepada para instruktur dan pelatih tari, panitia pelaksana, organisasi wanita anggota BKOW, Lembaga Adat Melayu, media, serta Pemerintah Provinsi Riau atas dukungan dan kolaborasi yang menyukseskan kegiatan ini,” katanya.(*)