Pekanbaru, Hariantimes.com - Puluhan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Munawwarah Pekanbaru yang aktif dalam program tahfidz Al-Qur'an ternyata memiliki cita-cita besar untuk masa depan.
Selain bertekad menjadi hafidz Qur'an, sebagian besar santri juga ingin melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi dan menyandang gelar sarjana. Tak sedikit pula yang bercita-cita menjadi pengusaha.
Hal tersebut terungkap dalam dialog interaktif antara Pimpinan Komunitas Kurnia Wakaf Al-Qur'an (KWQ), AZ Fachri Yasin.dengan para santri saat penyerahan wakaf 38 mushaf Al-Qur'an di Aula Ponpes Al-Munawwarah, Jalan Pesantren, Pematang Kapau, Kulim, Pekanbaru, Jumat (05/06/2026).
Penyaluran wakaf Al-Qur'an ini merupakan kali kedua dilakukan KWQ di pesantren yang berdiri sejak 1986 tersebut. Sebelumnya, kegiatan serupa telah dilaksanakan pada Juni 2024.
Sebanyak 38 mushaf Al-Qur'an metode tajwid dan terjemahan berwarna diberikan kepada santri MTs dan MA yang telah memiliki hafalan minimal dua juz.
Mushaf tersebut berasal dari delapan pewakaf, yakni Embing Sukarriya, Adlaida Malik, Keluarga Sutan Balia, Siti Maesaroh, Widodo, Nurmawati, Sarjono Amnan, dan Susi Ariani.
Tidak sekadar menyerahkan wakaf, Fachri Yasin memanfaatkan kesempatan itu untuk memberikan motivasi kepada para santri. Melalui dialog santai, ia menggali pandangan dan cita-cita mereka mengenai pendidikan dan masa depan.
Ketika ditanya siapa yang ingin menjadi sarjana, sebagian besar santri mengangkat tangan. Setelah kembali diberikan motivasi tentang pentingnya pendidikan tinggi, hampir seluruh santri menyatakan keinginan yang sama.
"Semakin banyak umat Islam yang menjadi sarjana, dokter, akademisi, dan profesional lainnya, tentu akan menjadi kebanggaan bagi umat," ujar Fachri.
Beberapa santri yang diminta maju ke depan pun menyampaikan rencana masa depannya. Cahaya Kasih, santriwati kelas IX MTs asal Pelalawan, mengaku akan melanjutkan pendidikan ke MA Al-Munawwarah dan bercita-cita kuliah meski belum menentukan kampus tujuan.
Hal serupa disampaikan seorang santriwati kelas VIII MTs yang juga ingin melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi dengan dukungan penuh dari orangtuanya.
Sementara itu, santri kelas XI MA, Cahya Maulana mengaku ingin melanjutkan studi ke UIN Sultan Syarif Kasim Riau pada Program Studi Pendidikan Agama Islam. Sedangkan Farian, santri kelas XII MA asal Kabupaten Siak, berencana kuliah di FKIP Universitas Islam Riau jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan cita-cita menjadi dosen sastra.
Keinginan melanjutkan pendidikan tinggi juga disampaikan Noval Rizki, santri kelas X MA yang berharap dapat melanjutkan kuliah di Yogyakarta.
Fachri mengaku gembira melihat semangat para santri untuk melanjutkan pendidikan. Menurutnya, kehadiran sarjana muslim yang memahami ilmu agama dan menghafal Al-Qur'an sangat dibutuhkan untuk membawa kemaslahatan bagi umat dan bangsa.
"Keinginan menjadi sarjana sangat bergantung pada keyakinan dan kemauan diri sendiri. Memang prosesnya tidak mudah, tetapi selalu ada jalan, termasuk melalui berbagai program beasiswa," katanya.
Di akhir dialog, Fachri kembali mengajukan pertanyaan mengenai cita-cita menjadi pengusaha. Kali ini, sebagian besar santri langsung mengangkat tangan dengan penuh semangat.
"Saya senang banyak yang ingin menjadi pengusaha. Negara ini masih membutuhkan lebih banyak pengusaha muslim. Nabi Muhammad SAW sendiri adalah seorang pedagang dan pengusaha yang sukses pada masanya," ujarnya.
Hafalan Tertinggi Capai 15 Juz
Sebelumnya, mewakili pimpinan pesantren, Ustadz Tommy Rafeldi, S.Pd., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada KWQ yang kembali menyalurkan wakaf Al-Qur'an kepada para santri.
Menurutnya, bantuan mushaf baru tersebut diharapkan semakin memotivasi santri untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur'an.
"Semoga kegiatan ini menjadi amal jariyah bagi para pewakaf dan membawa keberkahan bagi semua pihak," ujarnya.
Tommy menjelaskan, santri yang menerima wakaf Al-Qur'an rata-rata telah memiliki hafalan lebih dari dua juz, bahkan hafalan tertinggi mencapai 15 juz.
Ponpes Al-Munawwarah sendiri menerapkan sistem pendidikan terpadu yang memadukan kurikulum pesantren dengan kurikulum madrasah Kementerian Agama RI. Salah satu keunggulannya adalah pembelajaran kitab kuning (turats) yang menjadi ciri khas pesantren sejak didirikan oleh Abuya TM Busra pada 1986.
Menurut Tommy, kombinasi pendidikan agama yang kuat melalui kajian kitab kuning dan program tahfidz, serta penguasaan ilmu pengetahuan umum, diharapkan mampu melahirkan generasi santri yang berilmu, bertakwa, dan siap menjadi ulama maupun pemimpin masa depan.
Acara penyerahan wakaf berlangsung khidmat dan penuh keakraban. Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh Fatir Muhammad, santri kelas XII MA, kemudian dilanjutkan dengan penyerahan mushaf Al-Qur'an kepada para santri.
Sebagai bentuk apresiasi, pihak Ponpes Al-Munawwarah juga menyerahkan piagam penghargaan kepada KWQ. Acara kemudian ditutup dengan foto bersama antara pengurus pesantren, tim KWQ dan para santri.(*)