Belasan Warga Tembilahan Luka-Luka Diserang Monyet Ekor Panjang


Dibaca: 112 kali 
Kamis, 06 Agustus 2026 - 20:23:17 WIB
Belasan Warga Tembilahan Luka-Luka Diserang Monyet Ekor Panjang Tim WRU BBKSDA Riau memasang jaring di lokasi.

Pekanbaru, Hariantimes.com - Konflik satwa liar jenis Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) terjadi di Kecamatan Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir.

Untuk menangani konflik ini, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau melalui Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Bidang KSDA Wilayah I terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta berbagai pemangku kepentingan.

Kepala Balai Besar KSDA Riau, Supartono menegaskan, penanganan konflik satwa liar harus dilakukan secara terukur. Untuk itu, baik pemerintah, aparat keamananan, dan masyarakat harus bersinergi bersama.

"Keselamatan masyarakat merupakan prioritas utama dalam setiap penanganan konflik satwa liar. Namun demikian, upaya mitigasi juga harus tetap mengedepankan prinsip konservasi. Karena itu, kami terus bersinergi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan dan seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan pemantauan, identifikasi, serta penanganan yang tepat terhadap individu satwa penyebab konflik tanpa menimbulkan risiko yang lebih besar bagi masyarakat maupun satwa itu sendiri," kata Supartono.

Tim WRU BBKSDA Riau pada Rabu (05/06/2026) melaksanakan koordinasi bersama Kapolres Indragiri Hilir, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran, Camat Tembilahan dan Lurah Tembilahan Kota. Pertemuan yang dilaksanakan di Kantor Lurah Tembilahan Kota tersebut bertujuan menyamakan langkah penanganan sekaligus mengevaluasi perkembangan konflik yang terjadi di wilayah tersebut.

Berdasarkan hasil koordinasi, konflik terjadi di kawasan Parit 12, Parit 13, Parit 14, dan Parit 15, Jalan Malagas, Kelurahan Tembilahan Kota.

Sejak pertama kali dilaporkan pada 23 Juli 2026 hingga 5 Agustus 2026, tercatat 19 warga mengalami luka akibat serangan. Selain itu menimbulkan keresahan dan dampak psikologis di tengah masyarakat. Hasil pemantauan sementara menunjukkan bahwa serangan diduga dilakukan oleh satu individu Monyet Ekor Panjang dewasa yang diperkirakan berjenis kelamin jantan, dengan ciri khusus terdapat bekas luka (codet) pada bagian pipi.

Pola serangan umumnya terjadi ketika korban berada seorang diri atau dalam kondisi lengah, dengan sasaran gigitan pada bagian kaki sebelum satwa melarikan diri.

Hingga saat ini, individu tersebut juga belum merespons umpan yang diberikan berupa pisang. Sebelum keterlibatan Tim WRU BBKSDA Riau, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir bersama Forkopimda telah melakukan berbagai upaya penanganan, antara lain penyisiran lokasi menggunakan jaring dan tangguk yang melibatkan unsur TNI, Polri, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, pemerintah kecamatan, relawan, serta unsur masyarakat.

Berbagai langkah mitigasi juga telah dilakukan untuk mengurangi potensi terjadinya korban baru. Melalui rapat koordinasi tersebut disepakati bahwa penanganan konflik akan mengedepankan keselamatan masyarakat sekaligus tetap memperhatikan prinsip-prinsip konservasi satwa liar.

Seluruh pihak diminta untuk tidak melakukan perburuan terhadap satwa, melainkan memperkuat pemantauan di lapangan dan menyiapkan kandang perangkap sebagai sarana evakuasi yang aman apabila individu satwa berhasil teridentifikasi.

BBKSDA Riau juga mengimbau masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan, menghindari beraktivitas seorang diri di lokasi yang berpotensi menjadi jalur pergerakan satwa, tidak memberikan pakan kepada satwa liar, serta segera melaporkan kepada petugas apabila melihat individu monyet dengan ciri-ciri yang telah diidentifikasi.

Balai Besar KSDA Riau mengajak seluruh masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan tindakan yang dapat memperburuk situasi. Penanganan konflik satwa liar memerlukan kerja sama seluruh pihak agar keselamatan masyarakat dapat terjamin, sekaligus memastikan satwa liar tetap ditangani sesuai dengan prinsip-prinsip konservasi satwa liar.(*)