Kanal

Firdaus: Apeksi Menilai Perlu Segera Dicarikan Jalan Keluar

Jakarta, Hariantimes.com - Sebanyak 12 walikota di Indonesia audiensi dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Wakil Presiden Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Jumat (30/08/2019) kemarin.

Pertemuan para walikota yang merupakan ketua dan pengurus Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) bersama Wapres tersebut bertujuan menyampaikan hasil Raker Apeksi di Semarang pada Juli 2019 lalu.

"Ada beberapa hal yang menjadi konsentrasi (hasil Raker Apeksi), pertama tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan," ungkap walikota Pekanbaru DR H Firdaus ST MT yang juga Ketua Komisariat Wilayah (Komwil) I Apeksi Sumatera yang turut hadir pada audiensi itu.

Dalam audiensi itu, sebut Walikota, Wapres JK mengatakan, jika BPJS Kesehatan selalu mengalami defisit atau kekurangan kas setiap tahunnya. Bahkan tahun ini, defisitnya diperkirakan sekitar Rp40 triliun.

Karena itu, terang Walikota, Apeksi menilai perlu segera dicarikan jalan keluar untuk menangani persoalan yang dialami BPJS Kesehatan. Pasalnya, subsidi yang diberikan kepada BPJS Kesehatan tidak hanya memberatkan APBN akan tetapi juga membebani APBD.

"Jadi itu yang kita diskusikan, bagaimana penanganan BPJS ini," ucapnya.

Dari penjelasan Wapres, sambung Walikota, BPJS Kesehatan merupakan asuransi kesehatan terbesar di dunia dengan premi atau iuran yang murah karena mendapat subsidi dari pemerintah.

"Sementara lingkup layanannya sangat luas. Sehingga itu mengakibatkan terjadinya defisit yang cukup besar setiap tahun," papar Walikota.

Untuk itu, Pemerintah Pusat bakal mengevaluasi pola pengelolaan keuangan yang sejauh ini diterapkan di BPJS Kesehatan. 

"Sekarang formulasi barunya sedang disusun Pemerintah Pusat. Apakah (subsidi) dibebankan lagi ke APBN dan APBD atau seperti apa. Juga premi yang diberikan kepada masyarakat, ini juga harus dipertimbangkan," terang Walikota.

"Karena menurut Wapres, kalau polanya tetap dipertahankan, tidak dilakukan peninjauan, perubahan kebijakan, maka subsidi dan defisit akan semakin besar," tutup Walikota.

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani telah mengusulkan kenaikan iuran BPJS Kesehatan di setiap kelas. Kenaikan iuran ini merupakan salah satu solusi yang ditawarkan guna menghindari defisit keuangan yang dialami BPJS Kesehatan.

Untuk kelas mandiri I diusulkan naik dari Rp80 ribu menjadi Rp160 ribu per orang per bulan. Kemudian kelas mandiri II dari Rp59 ribu naik menjadi Rp110 ribu, dan kelas mandiri III dari Rp25.500 menjadi Rp42 ribu per orang per bulan. Saat ini, usulan itu masih menunggu persetujuan dari Presiden Joko Widodo.(*)


Editor : Zulmiron

Berita Terkait

Berita Terpopuler