Home | Nasional | Riau | Ekonomi | Politik | Hukrim | Pendidikan | Sportivitas | Sosialita | Wisata | Indeks Jumat, 23 Agustus 2019
 
Saatnya Rakyat Jadi Macan, Bukan Mengembek
Selasa, 16 April 2019 - 12:10:33 WIB

Oleh : H Bagus Santoso SAg MP (Caleg  DPR RI dapil Riau 1 dari Partai Amanat Nasional)

Teori demokrasi klasik yang mengatakan "demokrasi dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat" menjadi trigger perjuangan rakyat se antero dunia menuntut perubahan sistem pemerintahan dari sistem otoritarianisme menjadi sistem demokrasi.

Karena secara teoritik dan konstitusi setakat ini, kita penghuni dunia bersepakat bahwasanya sistem pemerintahan demokrasi yang bisa menjamin persamaan hak dan kewajiban setiap warga negara dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu di negara demokrasi seperti negara kita Indonesia, posisi rakyat menjadi sangat penting dan mahal setiap memasuki musim pemilu. 

Pada tahun politik seperti sekarang, rakyat tidak ubahnya seperti "gadis molek nan jelita” dikelilingi oleh jejaka-jejaka bernafsu tinggi, sedang antri menunggu kesempatan mencuri hatinya. Sang perjaka yang sedang jatuh cinta dengan segala macam dandanan (atribut partai) yang melekat pada dirinya selalu mencari simpatik menggoda sang gadis dengan berbagai macam harapan sampai buaian memabukkan digantungkan di lehernya. 

Namun nampaknya menuju tanggal 17 April 2019, sang gadis tidak ingin lagi menjadi keledai yang berdamai dengan kejatuhan di lubang yang sama. Si jelita tidak ingin lagi melakukan kesalahan tergoda dengan rayuan, bualan jejaka-jejaka yang hobinya berternak janji dan membudidayakan kebohongan. 

Sang gadis sudah sangat sadar, kalau jejaka-jejaka yang merayunya tidak memiliki konsistensi kesetiaan. Mereka hanya mendekat, merayu, ngegombal, dengan janji-janji manis mendongeng kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan di musim pemilu. Setelah itu pergi entah kemana rimbanya membiarkan sang gadis menangisi nasibnya yang sudah menyerahkan keperawanannya. Jangankan memperhatikan, menengoknya saja tidak tidak lagi. Cukuplah pengalaman pemilu demi pemilu masa lalu menjadi sembilu - ya sudah sudahlah tamat alias tutup buku. 

Dengan menggunakan analogi gadis cantik untuk menjelaskan bagaimana perasaan rakyat setiap jelang pemilu, tulisan ini ingin menyampaikan pesan bahwa dalam kehidupan rakyat biasa sekarang (red-walaupun sudah bekerja keras seharian baru cukup untuk tidak kelaparan esok harinya) itu terjadi proses pembelajaran dan pencerdasan politik secara alami. Pada teorinya  parpol seharusnya yang paling bertanggung jawab mencerdaskan dan membuat melek politik meski kenyataan bertolak belakang.

Realitas kehidupan telah menjadi guru politik rakyat kecil yang mengajarkan bahwa kebenaran tidak boleh lagi disimpulkan dari harapan-harapan yang banyak bertebaran setiap musim pemilu. Rakyat sudah paham benar kalau kebenaran itu hanya bisa disimpulkan dari "fakta" bukan harapan. Sungguh Rakyat sekarang merasakan apa yang berlaku, mana janji mana bukti. Mana bualan kosong mana yang masuk akal sehat.

Dalam kesetiaan menjadi rakyat yang selalu berdamai dengan kemiskinan, yang akrab dengan kondisi papa kedana, sudah tidak terhitung lagi jumlahnya berapa kali rakyat harus kecewa dan gigit jari karena mengira kebenaran itu adalah harapan-harapan yang dijanjikan. 

Namun faktanya jauh panggang dari api alias kena bengak berkepanjangan. Sekarang sadar benar, bahwa kebenaran itu bukan dari harapan, tapi dari fakta. Betapa tidak, Perut rakyat menjadi buncit dan meledak setiap musim pemilu kerana tergiur menu janji yang disediakan di atas meja harapan. Setelah pemilu perut buncit bukan kenyang nasi tetapi tumpukan sampah berjibun janji.

Sekarang bagaimana pun indahnya bentuk kemasan janji dan harapan yang disiapkan di ruang-ruang sejuk, rakyat nampaknya tidak akan ngiler lagi, rakyat tak akan tergiur lagi.
Karena itu, dalam detik-detik perjalanan sampai bilik suara tanggal 17 April 2019, rakyat tidak boleh lagi “mengembek” mengikuti sang gembala yang sudah dicucuk hidungnya dengan iming-iming jabatan. 

Saatnya rakyat menjadi "macan" yang akan menerkam setiap pemimpin, politisi yang bermental dagang sapi dengan merendahkan derajat rakyat menebar "money politic" menyebar amplop, memasang jebakan maut dengan melempar sembako, berkolusi dengan aparat dan perangkat yang rela berkhianat.

Saatnya rakyat menjadi algojo mematikan, memancung,  menghukum, menenggelamkan pemimpin, politisi yang berpenyakit obesitas janji mengganti dengan cara memilih pemimpin, politisi yang selama ini konsisten menjadikan rakyat sebagai satu-satunya majikan yang harus dilayani. Bukan bertameng dinasti dan berpura- pura dekat ustadz dan kyai. Salam pemilih cerdas dan selamat mencoblos.(*)



 
Berita Lainnya :
  • Saatnya Rakyat Jadi Macan, Bukan Mengembek
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 YS, Warga Banglas Barat Diamankan Polisi
    02 Kanit Intel Polsek Bukit Batu Buka Turnamen Sepakbola Dompas Cup
    03 SKK Migas Taja Forum Diskusi Kontribusi Sektor Hulu Migas di Batam
    04 Zia: Target Kita Berikan Edukasi ke Masyarakat
    05 Sekda: Saya Berharap Semua Peserta Lulus
    06 Warga Tolak Pembebasan Lahannya Melalui KT
    07 Sekda: Akan Kita Implementasikan Secepatnya
    08 Bupati Harris: Teknopart Pelalawan Terluas di Indonesia
    09 Rusdi: Kedepannya LAMR Harus Serius dan aktif Mengawal Nilai Adat dan Budaya
    10 ST2P Gelar Pertandingan Olahraga
    11 Pengurus PWI Riau Juara Lomba Publikasi Kemenkes RI
    12 BPJS TK Pekanbaru Panam Ajak 81 Perusahaan Nobar di XXI Mal SKA
    13 CCAI Gelar Mobile Coke Tour di Politeknik Negeri Padang
    14 Mahasiswa Pattani Thailand Gelar Berbagai Kegiatan di UIR
    15 Menpar : Tahun 2020 Pacu Jalur Kuansing Masuk Calender Of Event Nasional
    16 Kantor Pemko Pekanbaru Belum Nyaman Dirasakan Sebagian ASN
    17 Menpar dan Gubri Diboyong Ke Ruang Rapat Bupati Kuansing
    18 Walikota: Kita Optimis Terwujud
    19 Maswir : RAPP Tetap Komit Dukung Kebudayaan Pacu Jalur Kuantan Singingi
    20 M Taufiq Oesman Hamid: Insya Allah September 2020 RoRo Dumai-Melaka Beroperasi
    21 Syaiful Bahri: Saya Siap Maju
    22 Eka Hospital akan Jadi RS Pertama di Indonesia Capai HIMSS Level 6
     
     
    Galeri Foto | Advertorial | Indeks Berita
    Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Tentang Kami
    © HarianTimes.Com - #Kanal Informasi Public