Home | Nasional | Riau | Ekonomi | Politik | Hukrim | Pendidikan | Sportivitas | Sosialita | Wisata | Indeks Minggu, 26 Agustus 2019
 
Saatnya Rakyat Jadi Macan, Bukan Mengembek
Selasa, 16 April 2019 - 12:10:33 WIB

Oleh : H Bagus Santoso SAg MP (Caleg  DPR RI dapil Riau 1 dari Partai Amanat Nasional)

Teori demokrasi klasik yang mengatakan "demokrasi dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat" menjadi trigger perjuangan rakyat se antero dunia menuntut perubahan sistem pemerintahan dari sistem otoritarianisme menjadi sistem demokrasi.

Karena secara teoritik dan konstitusi setakat ini, kita penghuni dunia bersepakat bahwasanya sistem pemerintahan demokrasi yang bisa menjamin persamaan hak dan kewajiban setiap warga negara dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu di negara demokrasi seperti negara kita Indonesia, posisi rakyat menjadi sangat penting dan mahal setiap memasuki musim pemilu. 

Pada tahun politik seperti sekarang, rakyat tidak ubahnya seperti "gadis molek nan jelita” dikelilingi oleh jejaka-jejaka bernafsu tinggi, sedang antri menunggu kesempatan mencuri hatinya. Sang perjaka yang sedang jatuh cinta dengan segala macam dandanan (atribut partai) yang melekat pada dirinya selalu mencari simpatik menggoda sang gadis dengan berbagai macam harapan sampai buaian memabukkan digantungkan di lehernya. 

Namun nampaknya menuju tanggal 17 April 2019, sang gadis tidak ingin lagi menjadi keledai yang berdamai dengan kejatuhan di lubang yang sama. Si jelita tidak ingin lagi melakukan kesalahan tergoda dengan rayuan, bualan jejaka-jejaka yang hobinya berternak janji dan membudidayakan kebohongan. 

Sang gadis sudah sangat sadar, kalau jejaka-jejaka yang merayunya tidak memiliki konsistensi kesetiaan. Mereka hanya mendekat, merayu, ngegombal, dengan janji-janji manis mendongeng kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan di musim pemilu. Setelah itu pergi entah kemana rimbanya membiarkan sang gadis menangisi nasibnya yang sudah menyerahkan keperawanannya. Jangankan memperhatikan, menengoknya saja tidak tidak lagi. Cukuplah pengalaman pemilu demi pemilu masa lalu menjadi sembilu - ya sudah sudahlah tamat alias tutup buku. 

Dengan menggunakan analogi gadis cantik untuk menjelaskan bagaimana perasaan rakyat setiap jelang pemilu, tulisan ini ingin menyampaikan pesan bahwa dalam kehidupan rakyat biasa sekarang (red-walaupun sudah bekerja keras seharian baru cukup untuk tidak kelaparan esok harinya) itu terjadi proses pembelajaran dan pencerdasan politik secara alami. Pada teorinya  parpol seharusnya yang paling bertanggung jawab mencerdaskan dan membuat melek politik meski kenyataan bertolak belakang.

Realitas kehidupan telah menjadi guru politik rakyat kecil yang mengajarkan bahwa kebenaran tidak boleh lagi disimpulkan dari harapan-harapan yang banyak bertebaran setiap musim pemilu. Rakyat sudah paham benar kalau kebenaran itu hanya bisa disimpulkan dari "fakta" bukan harapan. Sungguh Rakyat sekarang merasakan apa yang berlaku, mana janji mana bukti. Mana bualan kosong mana yang masuk akal sehat.

Dalam kesetiaan menjadi rakyat yang selalu berdamai dengan kemiskinan, yang akrab dengan kondisi papa kedana, sudah tidak terhitung lagi jumlahnya berapa kali rakyat harus kecewa dan gigit jari karena mengira kebenaran itu adalah harapan-harapan yang dijanjikan. 

Namun faktanya jauh panggang dari api alias kena bengak berkepanjangan. Sekarang sadar benar, bahwa kebenaran itu bukan dari harapan, tapi dari fakta. Betapa tidak, Perut rakyat menjadi buncit dan meledak setiap musim pemilu kerana tergiur menu janji yang disediakan di atas meja harapan. Setelah pemilu perut buncit bukan kenyang nasi tetapi tumpukan sampah berjibun janji.

Sekarang bagaimana pun indahnya bentuk kemasan janji dan harapan yang disiapkan di ruang-ruang sejuk, rakyat nampaknya tidak akan ngiler lagi, rakyat tak akan tergiur lagi.
Karena itu, dalam detik-detik perjalanan sampai bilik suara tanggal 17 April 2019, rakyat tidak boleh lagi “mengembek” mengikuti sang gembala yang sudah dicucuk hidungnya dengan iming-iming jabatan. 

Saatnya rakyat menjadi "macan" yang akan menerkam setiap pemimpin, politisi yang bermental dagang sapi dengan merendahkan derajat rakyat menebar "money politic" menyebar amplop, memasang jebakan maut dengan melempar sembako, berkolusi dengan aparat dan perangkat yang rela berkhianat.

Saatnya rakyat menjadi algojo mematikan, memancung,  menghukum, menenggelamkan pemimpin, politisi yang berpenyakit obesitas janji mengganti dengan cara memilih pemimpin, politisi yang selama ini konsisten menjadikan rakyat sebagai satu-satunya majikan yang harus dilayani. Bukan bertameng dinasti dan berpura- pura dekat ustadz dan kyai. Salam pemilih cerdas dan selamat mencoblos.(*)



 
Berita Lainnya :
  • Saatnya Rakyat Jadi Macan, Bukan Mengembek
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Polantas Pekanbaru Bantu ibu Hamil yang Akan Melahirkan Menuju RS
    02 1.778 Desa di Riau Sudah Berlistrik
    03 UIR Wisuda 1.022 Magister, Sarjana dan Ahli Madya
    04 PNC Bukit Batu Bagi-Bagi Takjil ke Masyarakat
    05 Andi Putra Di Daulat Jadi Warga Kehormatan
    06 Mursini : Kita Bangun Kuansing Merata
    07 Sayyid: Ajang Silaturahmi dan Membuat Ikatan Keluarga MAN 3 Lebih Kuat Lagi
    08 Personil KSDA Riau Musnahkan Tanaman Sawit di TN Zamrud
    09 LSM Penjara: KSOP Bengkalis Diduga Main Mata
    10 Sekda Dianto : THR ASN Cair Hari Ini
    11 Sabtu Besok, UIR Wisuda 1.022 Magister, Sarjana dan Ahli Madya
    12 Mursini : Melalui Ramadhan Kita Tingkatkan Ukhuwah Islamiyah
    13 IMA Chapter Pekanbaru Santuni 100 Anak Yatim
    14 SPTI Santuni Anak Yatim
    15 Bupati : Ajang Menjemput Aspirasi Masyarakat
    16 Bupati Mursini : Semoga Bermanfaat dan Tingkatkan Ukhuwah Islamiyah
    17 Agus Mandar : Pasca Pemilu, Tetap Jaga Kamtibmas
    18 Bupati Mursini : Dengan Sistem Ini Masyarakat Bisa Memantau Langsung
    19 Pembuatan Paspor CJH Riau Sudah 4.073 Buah
    20 Firdaus: Akan Disesuaikan dengan Kemampuan Anggaran Daerah
    21 Gubri Instruksikan ASN tak Benarkan Bawa Mobdin Selama Cuti Lebaran
    22 Yusri: KPU Harus Terbuka
     
     
    Galeri Foto | Advertorial | Indeks Berita
    Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Tentang Kami
    © HarianTimes.Com - #Kanal Informasi Public